Friday, October 22, 2010

KUPER...Bisa jadi!.

Kuper itu kependekan dari Kurang Pergaulan. Masa kini begitu pentingnya bergaul atau berinteraksi, baik secara langsung maupun melalui media-salah satunya dunia maya, seperti FB. Dengan pergaulan atau interkasi yang positif diharapkan ilmu kita bertambah, wawasan jadi luas dan tidak ketinggalan, dan yang penting juga kalau diajak ngobrol bisa nyambung, tak gagap atau jadi linglung. Ini cerita seorang anak orang kaya yang kurang pergaulan. Disebuah sekolah menengah pertama pak guru memerintahkan para muridnya untuk mengarang tentang kemiskinan. Pak guru begitu terkejut membaca sebuah karangan dari seorang muridnya, berikut karangan dimaksud.

“Pak Paijo adalah orang yang sangat miskin, Pak paijo memiliki 5 orang pembantu yang semuanya miskin, dua orang supir miskin-miskin, 3 orang tukang kebun semuanya juga miskin, dan 4 orang penjaga rumah / satpam yang miskin-miskin”

Murid ini keterlalun?, atau lugu? Atau KUPER, bisa jadi benar semua. Dia hanya memandang kemiskinan hanya dari aspek yang dia ketahui saja. Pak Paijo digambarkanya sebagai orang miskin namun memiliki pembantu, supir, tukang kebun dan penjaga rumah. Sang murid hanya mampu merepleksikan tentang kemiskinan dengan apa yang dialaminya sehari-hari. Kebetulan murid tersebut anak dari seorang kaya raya yang memiliki 5 pembantu, dua orang supir, 3 orang tukang kebun serta 4 penjaga rumah. Tentu saja Pak Paijo yang sang murid gambarkan sebagai orang miskin, tidaklah miskin karena memiliki orang-orang yang membantunya dirumah. Logika murid yang begitu sederhana

Kurang pergaulan salah satu sebab karangan tentang orang miskin itu ada. Simurid  dengan fasilitas serba ada yang siap memanjakannya dan membuat simurid menghabiskan waktu di rumah dan antar jemput pergi dan pulang sekolah, sehingga kurang mampu mengasah kepekaan sosialnya dan tidak mampu melihat keluar selain apa yang ada disekelilingnya, ia juga cendrung tidak peduli bahkan terkadang emosinya labil dan mudah tersinggung dan agresif. Hidup baginya hanya satu warna, warna lain ia tak ketahui. Sang murid juga tidak mampu bereksplorasi guna mengungkapkan sesuatu dengan cara lain, atau mengenal istilah-istilah lain diluar lingkungannya. Itu cerita kuper yang mungkin paling ekstrim, sebetulnya kuper itu bisa jadi sangat banyak jenisnya

Ini juga ada cerita seorang anak Pramuka, yang terlalu maju dan mungkin terlalu sopan dalam menggunakan kata sehingga yang terjadi kesalahan dan kecelakaan. Waktu pramuka sianak diajarkan sama kakak pembina untuk mengganti kata ‘pipis’ dengan ‘nyanyi’ dan kebetulan sianak tidur bersama neneknya, tiba-tiba ditengah malam sianak membangunkan neneknya.

“Nek, aku mau nyanyi”. Ujar si anak pramuka.
“Huuss,..tengah malam kok mau nyanyi”.
“Tapi..nek..udah tak tahan lagi ni…mau nyanyi”.
“Sayang,.. tak boleh nanyi tengah malam, nanti semua terbangun”.
“Nek..ayo nek udah gak tahan lagi ni”. Sambil lari-lari ditempat menahan pipisnya.
“Ya..sudah nyanyinya bisik-bisik, dikuping nenek aja ya”

Sianak bergegas membuka celananya dan …cuuurrr…..terbangunlah semua penguni rumah karena malah nenek yang bernyanyi. Betapa penting meng-‘update’ pengetahuan kita seperlunya/secukupnya, kalau tidak kita akan ketinggalan zaman, aku juga terkadang kuper, terutama dalam hal istilah-istilah baru dan teknologi. Tidak mungkin pula aku menjadi serba tahu dan serba bisa semua hal, kan harus berbagi. Orang lain tentu juga berhak punya wawasan, luas pergaulannya dan kita tak boleh menghalangi/menutup pintu bagi orang lain untuk hal itu atau berinteraksi, apalagi untuk silaturrahmi.

No comments: