Pembeli Yang Tak Pernah Beli
Ada satu jenis tamu di warung yang, kalau kamu jualan cukup lama, pasti pernah kamu temui. Datang, duduk, tanya menu, tanya harga—tapi nadanya beda. Bukan nada orang yang lagi mikir mau pesan apa. Lebih ke nada orang yang lagi menguji, atau mungkin cuma butuh tempat duduk sambil cari alasan buat nggak beli. Saya punya langganan tamu seperti itu. Sudah beberapa kali datang. Pola yang sama tiap kali: duduk, tanya-tanya menu dan harga, ditawari makan atau minum, lalu pergi tanpa pesan apa-apa. Terakhir dia datang lagi, kali ini nanya ke istri saya. "Mie rebus berapa?" Istri saya jawab, sesuai harga yang memang wajar untuk warung kecil kami. Responnya: "Kok mahal kali, Pak, kami di sini sewa. Bikin di rumah sendiri aja bisa." Istri saya diam. Saya juga malas nimbrung. Kenapa Diam Kadang Lebih Kuat Ada godaan untuk menjelaskan panjang lebar—bahwa harga itu sudah dihitung dari sewa tempat, bahan baku, gas, waktu bangun jam tiga pagi buat racik bumbu. Tapi sebenarnya, oran...