Posts

Mengapa disebut "Kampung Halaman?"

Mengapa Disebut "Kampung Halaman", Bukan "Desa Halaman" atau "Kota Halaman"? Pernahkah kita berpikir, mengapa orang Indonesia selalu mengatakan kampung halaman, tetapi tidak pernah mengatakan desa halaman atau kota halaman? Sekilas memang terdengar aneh. Bukankah desa dan kota juga merupakan tempat asal seseorang? Mengapa yang bertahan justru kata kampung? Jawabannya terletak pada sejarah bahasa dan budaya. Dahulu, kata kampung tidak hanya berarti desa. Kampung juga bermakna tempat tinggal, permukiman, komunitas, dan tempat seseorang berasal. Karena maknanya luas, kata ini mampu mewakili ikatan emosional seseorang dengan tanah kelahirannya. Sementara itu, desa dan kota lebih merupakan istilah administratif. Desa adalah wilayah pemerintahan desa, sedangkan kota adalah wilayah perkotaan. Kedua kata ini menjelaskan bentuk wilayah, tetapi tidak selalu menghadirkan nuansa kedekatan batin. Itulah sebabnya ungkapan kampung halaman tetap hidup hingga sekarang. Bah...

Benarkah Roda Kehidupan Berputar

Image
​Mempertanyakan Kembali Filosofi "Hidup Seperti Roda Berputar" ​Kita semua pasti pernah dengar petuah bijak ini: "Hidup itu ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah." Sebuah kalimat yang biasanya jadi mantra penenang saat kita sedang diuji, atau jadi pengingat agar kita tidak sombong saat sedang berjaya. ​Dulu, saya percaya penuh pada kalimat ini. Rasanya adil dan memberikan harapan. Namun, makin ke sini—setelah melihat realitas kehidupan di sekitar—saya mulai ragu. Apakah roda kehidupan itu benar-benar berputar untuk semua orang? ​Saat Roda Mengalami "Macet" ​Kalau kita perhatikan kenyataan di bidang sosial dan ekonomi, siklus berputar ini rasanya agak meleset. ​Coba lihat ke atas. Ada kelompok orang yang kehidupannya seperti selalu berada di puncak roda. Mereka kaya, mapan, dan stabilitas itu terjaga rapi bukan cuma seumur hidup mereka, tapi berlanjut ke anak, cucu, hingga generasi berikutnya. Roda mereka seolah terkunci di atas. ​Sebaliknya, ...

Nasi Bakar

NASI BAKAR. Kalau dipikir-pikir, nasi bakar itu adalah bentuk "kopi kehidupan" dalam wujud makanan. Kenapa? Karena dia mengajarkan kita tentang proses. Nasi yang udah matang, dibumbui, dikasih lauk (kayak ayam suwir, tongkol, atau cumi), dibungkus daun pisang, terus... dibakar lagi. ​Kasihan banget kan nasinya? Udah matang tapi masih harus melewati "ujian api". Tapi justru karena dibakar itulah, aroma daun pisangnya meresap, bumbunya makin menyatu, dan rasanya jadi jauh lebih nikmat dan mahal. ​Kalau dibuat kalimat jenaka yang filosofis ala kopi tadi, jadinya mirip-mirip begini: ​"Hidup itu kayak nasi bakar. Kadang kita merasa udah mapan dan tenang, eh tiba-tiba dibungkus masalah dan dibakar ujian. Tapi tenang, itu cuma proses biar hidup kita makin wangi, sedap, dan punya nilai jual tinggi!" ​Kamu sendiri punya lauk favorit enggak kalau makan nasi bakar? Atau jangan-jangan lagi kepikiran makan nasi bakar sambil ditemani secangkir kopi hitam? Boleh coba, na...

Perihal Halal

Image
Mengapa Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Terhadap Produk Halal? Masalah Logo Palsu Hingga Hilangnya Kepercayaan   Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Secara logika, kepedulian terhadap status kehalalan produk makanan dan barang konsumsi seharusnya menjadi hal utama dan prioritas utama. Namun fakta di lapangan berkata lain: masih banyak masyarakat yang cenderung cuek, kurang peduli, atau menganggap halal hanya sebagai hal tambahan saja. Bahkan banyak yang berkata, "yang penting enak dan murah, urusan halal belakangan saja."   Fenomena ini makin terasa masuk akal dan beralasan saat kita melihat banyak kasus yang beredar di media sosial maupun berita. Salah satu yang paling mengerikan adalah ditemukannya produk yang memiliki logo halal, tapi tertulis jelas di kemasan "mengandung bahan asal babi". Ada juga kasus tempat makan atau produk yang menempel logo halal, padahal sama sekali tidak memiliki sertifikat resmi, atau pernah halal lalu b...

MASIH NONTON TV DIRUMAH?

Image
Entah mengapa sejak sekitar 3 tahun ini, saya tidak lagi menghabiskan waktu didepan televisi (TV) setelah pulang kerja atau setelah maghrib. Kalaupun saya menonton TV, biasanya paling berita, atau acara seperti makan, jalan, hal-hal unik, sejenis flora dan fauna,  agama Islam itupun yang sudah dikemas berbeda tidak seperti zaman TV dulu. Dan sayangnya jarang saya nonton sampai habis acara-acara tersebut.  Kalo dulu saya bisa nonton TV berjam-jam, apa karena faktor U, Atau  karena acara TV lebih banyak bikin capek, tambah pusing, bukannya terhibur atau menjadi tenang. Seperti acara perdebatan atau sejenis yang tidak ada solusi, tidak mendidik, muak liat acara TV. Atau karena terlalu banyak pilihan sehingga saya jadi muak dan memutuskan untuk tidak ada yang saya tonton acara TV. Untuk mendapatkan informasi saya tidak lagi mengandalkan TV. Sepertinya apa yang saya rasakan dan bosan terhadap TV bukan saya saja, simak hasil survey berikut. Beralih ke digital Global We...

Jangan Biasakan Mengucapkan 'NAMANYA JUGA (Masih) ANAK-ANAK'

Pernahkan anda mendengar kalimat seperti judul tulisan ini atau sejenisnya, "Namanya anak-anak", atau 'Namanya juga anak-anak', 'Harap Maklum, masih anak-anak'.  Kalimat tersebut biasanya untuk memaklumi tindakan anak, atau kenakalan anak. Orangtua mengeluarkan atau mengucapkan kalimat sejenis itu dalam upaya membela kenakalan anaknya, atau tindakan anaknya yang kurang sopan, atau melebihi perilaku anak-anak umumnya.  Sayangnya terkadang perilaku  anak yang nakal semua dimaklumi atas nama anak-anak, karena kasih sayang orang tua yang berlebihan kepada anak atau ketidak mampuan mendidik anak sang orang tua tidak pernah melarang atau membiarkan perilaku anak menjadi diluar kenormalan anak pada umumnya. Dalam usia balita sianak sudah pandai memaki, mengeluarkan kata-kata kotor, menghina, kasar dan bahkan seolah tak mampu dikendalikan. Pertanyaannya adalah perilaku atau tindakan seorang anak yang macam mana yang harus kita maklumi?. Apakah wajar seorang b...

Enam Bulan Sebelum Serangan jantung, Tubuh Sudah Memberikan Tanda - Gaya Tempo.co

Enam Bulan Sebelum Serangan jantung, Tubuh Sudah Memberikan Tanda - Gaya Tempo.co