Seharusnya di Usia Ini, Saya Tinggal Menikmati Hidup
Beberapa tahun yang lalu, saya hampir setiap hari berbelanja di sebuah warung sembako. Membeli kebutuhan untuk warung kami, mulai dari gula, kental manis, garam, teh, kecap, saus, dan berbagai keperluan lainnya. Pemilik warung itu belum lama saya kenal. Ia juga baru membuka usaha toko kelontongnya. Sebelumnya, saya biasa berbelanja di tempat lain. Namun, seperti kebanyakan hubungan antarpedagang dan pembeli, perkenalan itu perlahan tumbuh dari transaksi sederhana yang terjadi hampir setiap hari. Mungkin karena sering melihat saya datang berbelanja, ia mulai memperhatikan usia dan aktivitas saya. Suatu hari, ketika sedang melayani pembeli lain, tiba-tiba ia berkata kepada saya. "Bapak, dengan usia sekarang, seharusnya tinggal menikmati hidup. Banyak beribadah." Saya terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana. Tidak ada yang salah dengan nasihatnya. Bahkan, saya bisa memahami maksud baik di balik ucapannya. Siapa yang tidak ingin menikmati hidup ketika usia sudah semakin be...