Posts

Aroma Khas Pada Usia lanjut

Image
Pernah Dengar Aroma "Buku Tua" pada Lansia? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya! ​Pernahkah Anda bertamu ke rumah kakek-nenek atau berada di dekat lansia, lalu mencium aroma tubuh yang khas? Aromanya bukan bau keringat biasa, melainkan mirip bau buku tua, kertas lembap, atau rumput kering. ​Banyak yang mengira ini karena kurang bersih saat mandi atau masalah pakaian, padahal itu sama sekali tidak benar! Di Jepang, fenomena ini sangat umum hingga punya istilah tersendiri, yaitu Kareoshu (加齢臭). Dan secara sains, aroma ini adalah bagian alami dari proses penuaan tubuh manusia. ​Siapa "Aktor Utama" di Balik Aroma Ini? ​Proses penuaan tidak hanya mengubah warna rambut atau memunculkan kerutan, tetapi juga mengubah kimia kulit kita. Biang keladi dari aroma khas lansia ini bernama 2-nonenal . ​Begini alur terjadinya: ​ Penurunan Antioksidan: Mulai usia 40-an ke atas, pertahanan antioksidan di kulit kita alami menurun. ​ Kenaikan Asam Lemak: Di saat yang sama, kad...

Nasi Bukan Musuh, Mungkin Kita Salah Memilih Temannya

Belakangan ini nasi sering sekali mendapat tuduhan. Makan nasi katanya bikin gemuk. Nasi bikin gula darah naik. Nasi penyebab diabetes. Bahkan ada yang sampai menyarankan, kalau ingin sehat, tinggalkan nasi. Saya jadi berpikir: kasihan juga si nasi. 😄 Padahal nasi sudah menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia selama turun-temurun. Bukan hanya Indonesia, sebagian besar masyarakat Asia juga hidup berdampingan dengan nasi. Lalu, apakah selama ini nasi memang sejahat itu? Kalau kita melihatnya lebih jernih, persoalannya mungkin bukan pada nasinya, tetapi pada cara kita makan nasi dan teman-teman yang kita ajak makan bersamanya. Coba lihat satu piring makan kita. Nasi. Lalu ditambah mi goreng. Kemudian kerupuk. Ada gorengan. Lauk digoreng dengan minyak. Kadang ditambah kuah santan. Setelah itu minumnya teh manis. Sayurnya? Kadang cuma beberapa helai sebagai penghias piring. 😂 Padahal nasi sendiri terutama merupakan sumber karbohidrat. Yang menjadi persoalan adalah ketika berbagai sumbe...

Awal Mula Kami Jualan Sarapan.

Image
Agustus 2017. Saya berhenti bekerja. Bukan cerita yang enak untuk dibuka, tapi begitulah faktanya — dan dari titik itulah semuanya bermula. Waktu itu saya dan istri duduk berdua, mikir mau ngapain. Bukan sekadar cari kerja baru, tapi mau usaha apa. Setelah muter-muter mikir, pilihan jatuh ke kuliner. Alasannya sederhana: istri saya pandai masak, dan saya sendiri juga suka masak. Kalau dua orang yang sama-sama suka dapur ini serius, harusnya bisa jalan — begitu pikir kami waktu itu. Tapi niat baik saja ternyata belum cukup. Begitu ide itu mulai serius dibicarakan, keraguan datang beruntun. Apa benar bisa? Apa ada yang mau beli? Gimana kalau nggak laku?. Dan yang paling berat justru bukan soal untung rugi, tapi soal gengsi. Bertahun-tahun saya kerja di ruang ber-AC, pakai baju rapi, sekarang malah mau jualan di pasar. Malu rasanya. Orang-orang hampir tidak ada yang kenal saya sebagai "tukang jualan". Bayangan itu terus muncul, bikin langkah jadi berat. Tapi hidup nggak pernah n...

Pembeli Yang Tak Pernah Beli

Ada satu jenis tamu di warung yang, kalau kamu jualan cukup lama, pasti pernah kamu temui. Datang, duduk, tanya menu, tanya harga—tapi nadanya beda. Bukan nada orang yang lagi mikir mau pesan apa. Lebih ke nada orang yang lagi menguji, atau mungkin cuma butuh tempat duduk sambil cari alasan buat nggak beli. Saya punya langganan tamu seperti itu. Sudah beberapa kali datang. Pola yang sama tiap kali: duduk, tanya-tanya menu dan harga, ditawari makan atau minum, lalu pergi tanpa pesan apa-apa. Terakhir dia datang lagi, kali ini nanya ke istri saya. "Mie rebus berapa?" Istri saya jawab, sesuai harga yang memang wajar untuk warung kecil kami. Responnya: "Kok mahal kali, Pak, kami di sini sewa. Bikin di rumah sendiri aja bisa." Istri saya diam. Saya juga malas nimbrung. Kenapa Diam Kadang Lebih Kuat Ada godaan untuk menjelaskan panjang lebar—bahwa harga itu sudah dihitung dari sewa tempat, bahan baku, gas, waktu bangun jam tiga pagi buat racik bumbu. Tapi sebenarnya, oran...

Asal Sebut Kata,

Image
Mungkin Kita Pernah Mengucapkan Sebuah Kata... yang Ternyata Sudah Dimengerti Orang di Belahan Dunia Lain Kadang-kadang, ide menarik muncul bukan saat membaca buku, tetapi ketika sedang melamun. Suatu hari saya iseng mengucapkan beberapa kata yang sebenarnya tidak memiliki arti dalam bahasa yang saya kenal. "Parahong... gudugugu... yonggong... jukjukbong..." Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana. Bagaimana kalau kata-kata yang saya anggap asal itu ternyata memiliki arti di suatu tempat di dunia? Semakin dipikirkan, semakin menarik. Semua manusia memiliki alat ucap yang hampir sama. Kita semua berbicara menggunakan paru-paru, pita suara, lidah, gigi, bibir, dan rongga mulut. Tidak peduli apakah seseorang lahir di Indonesia, Jepang, Brasil, Kenya, atau Islandia, alat untuk menghasilkan suara pada dasarnya sama. Kalau alatnya sama, bukankah bunyi-bunyi yang bisa dihasilkan juga relatif sama? Lalu saya membayangkan dunia yang dipenuhi ribuan bahasa dan lebih banyak lagi dialek....

BIOGRAFI Manusia Paling Lengkap

Image
Paling Kepo dalam Sejarah: Mengapa Biografi Nabi Muhammad Jadi yang Terlengkap di Dunia?. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana tokoh-tokoh besar zaman dulu hidup? Kita tahu Julius Caesar atau Alexander Agung adalah orang hebat, tapi pernahkah kamu tahu apa makanan favorit mereka? Bagaimana cara mereka tidur? Atau sedetail apa gaya rambut mereka? Jawabannya: rata-rata kita tidak tahu. Catatan sejarah tentang tokoh zaman kuno biasanya hanya fokus pada perang, politik, atau keputusan besar mereka.Namun, ada satu pengecualian besar dalam sejarah manusia. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Di kalangan sejarawan dunia (baik Muslim maupun non-Muslim), beliau diakui sebagai tokoh klasik yang kisah hidupnya dicatat paling lengkap, paling detail, dan paling transparan.Mengapa bisa sedetail itu? Yuk, kita bedah alasannya! 1. Hidup di "Terang Benderang" Sejarah Seorang sejarawan asal Prancis bernama Ernest Renan pernah menulis sebuah kalimat terkenal. Ia mengatakan bahwa Islam lahir di ba...

Mengapa disebut "Kampung Halaman?"

Mengapa Disebut "Kampung Halaman", Bukan "Desa Halaman" atau "Kota Halaman"? Pernahkah kita berpikir, mengapa orang Indonesia selalu mengatakan kampung halaman, tetapi tidak pernah mengatakan desa halaman atau kota halaman? Sekilas memang terdengar aneh. Bukankah desa dan kota juga merupakan tempat asal seseorang? Mengapa yang bertahan justru kata kampung? Jawabannya terletak pada sejarah bahasa dan budaya. Dahulu, kata kampung tidak hanya berarti desa. Kampung juga bermakna tempat tinggal, permukiman, komunitas, dan tempat seseorang berasal. Karena maknanya luas, kata ini mampu mewakili ikatan emosional seseorang dengan tanah kelahirannya. Sementara itu, desa dan kota lebih merupakan istilah administratif. Desa adalah wilayah pemerintahan desa, sedangkan kota adalah wilayah perkotaan. Kedua kata ini menjelaskan bentuk wilayah, tetapi tidak selalu menghadirkan nuansa kedekatan batin. Itulah sebabnya ungkapan kampung halaman tetap hidup hingga sekarang. Bah...