Awal Mula Kami Jualan Sarapan.
Agustus 2017. Saya berhenti bekerja. Bukan cerita yang enak untuk dibuka, tapi begitulah faktanya — dan dari titik itulah semuanya bermula. Waktu itu saya dan istri duduk berdua, mikir mau ngapain. Bukan sekadar cari kerja baru, tapi mau usaha apa. Setelah muter-muter mikir, pilihan jatuh ke kuliner. Alasannya sederhana: istri saya pandai masak, dan saya sendiri juga suka masak. Kalau dua orang yang sama-sama suka dapur ini serius, harusnya bisa jalan — begitu pikir kami waktu itu. Tapi niat baik saja ternyata belum cukup. Begitu ide itu mulai serius dibicarakan, keraguan datang beruntun. Apa benar bisa? Apa ada yang mau beli? Gimana kalau nggak laku?. Dan yang paling berat justru bukan soal untung rugi, tapi soal gengsi. Bertahun-tahun saya kerja di ruang ber-AC, pakai baju rapi, sekarang malah mau jualan di pasar. Malu rasanya. Orang-orang hampir tidak ada yang kenal saya sebagai "tukang jualan". Bayangan itu terus muncul, bikin langkah jadi berat. Tapi hidup nggak pernah n...