Wednesday, May 12, 2010

KUE KAMPUNG (Lopot & Barusbus)


Cara menghilangkan kerinduan

Mang Saropi (yang mau menikahkan anak gadisnya) tiba di Batam, kami para ponakan atau saudara-saudara, malamnya langsung ngumpul. Berkumpul untuk silaturrahmi, mencari tahu kabar keluarga di dusun dan berharap menjumpai penganan tradisional-kue yang sudah lama tak dijumpai dan dinikmati.

Kebiasaan orang-orang dari kampung kami (Komering Ulu-SUMSEL) kalau orang tua para perantau datang, keluarga/handaitolan pada ngumpul, yang datang dari kampung capek melayani pertanyaan para pengunjung yang ingin mengetahui keadaan keluarganya yang di kampung. Masing-masing menanyakan keluarga dan keadaan kampung. Seperti itu merupakan salah satu cara mengobati kerinduan, membangkitkan gairah, penyejuk jiwa dan melumatkan kesedihan serta kemurungan. Ingat kampung tentu ingat keluarga dan sudah tentu doa yang dipanjatkan adalah doa-doa kebaikan…dan keiklasan.

Na ..yang paling ditunggu-tunggu tentu kue khas kampung; Salah duanya adalah seperti digambar (gambar kanan-berbungkus daun pohon aren kami sebut Lopot/bongkol, gambar kiri-berbungkus daun pisang kami menyebut Barusbus-bahasa Indonesianya belum tau). Lopot/bongkol dibanyak daerah banyak ditemukan, namun sayang di dusunku sepertinya belum mengalami variasi apapun, berpuluh tahun tidak mengalami perubahan dari segi bentuk, rasa dan penyajian. Padahal Lopot/bongkol dapat diperkaya dengan rasa kacang, rasa duren, rasa stroberry, rasa keju, rasa pisang, rasa jambu, rasa janggung dan rasa-rasa yang lain termasuk rasa cinta (he..he.). tentu cita rasa & nilai gizinya akan bertambah. Atau mungkin orang dusunku itu lebih paham kalau divariasikan gak “kampung” lagi.

Sedangkan barusbus, bahan utamanya adalah, pisang kepok yang benar-benar masak/sudah lembut dan ketan putih. Pisangnya di kupas (kulitnya dibuang saja karena tak enak) lalu di lumat sampai terlihat seperti adonan kue lalu campurkan ketan dan sedikit garam. Setelah itu dibungkus daun dan dikukus, enak dan manisnya alami pisang. Inipun belum mengalami kemajuan variasi, misalnya setelah dikukus lalu dipanggang/ditaburi fla..wah…ngiler oi.. Makanan kampung juga merupakan salah satu media untuk menghapus kerinduan, melihat photo-photo orang yang dikasihi dan dicintai juga sangat efektif menghapuskan kerinduan, duuh…itu photo pengen dilihat terus…

Makanan / kue asal kampung seperti itu jika dibandingkan dengan makanan kota, atau dengan makanan dari luar negeri, tak ada apa-apa. Namun tidak menjadi biasa atau sangat istimewa saat makanan yang sudah lama kita rindukan disajikan bersamaan dengan makanan yang sering kita santap, maka makanan asal kampung akan direbut dan dengan cepat habis bahkan bisa lebih mahal. Buktinya 2 piring Lopot/bonggol dan 2 piring barusbus sekejab habis sedangkan roti kaleng dibiarkan utuh dalam toples. Ternyata aku tetaplah “Orang Kampung” yang bisa rindu kampung halaman, dan berbahagialah orang-orang yang punya kampung, orang-orang yang beridentitas kampung….http://www.bux4ad.com/aft/a7c64554.html/

No comments: