Friday, December 23, 2011

PENJUAL ADALAH RAJA.

Dulu ada ungkapan pembeli adalah raja. Itu untuk menggambarkan betapa bahwa pembeli patut dihormati, patut dilayani dan patut dipuaskan karena begitu pentingnya pembeli, maka diibarat raja. Namun kini ungkapan itu patut diragukan, raja seperti apa pembeli itu?.

Untuk menggambarkan hal itu, mari simak cerita saya ini. Anak saya yang kedua tidak langganan majalah anak-anak bobo, tapi setiap terbit per minggu ia membeli majalah itu dengan harga sekirat Rp 11.500,- (Batam). Tapi minggu lalu sebuah edisi majalah bobo yang melampirkan atau menyertakan kalender tahun 2012 dan sebuah CD berisi permainan merangsang kecerdasan ala majalah bobo, harganya majalah itu   menjadi Rp 16.000,-. Ini kreatif dengan memaksa.

Kepada toko langganan (seorang ibu) saya tanyakan boleh membeli majalah tanpa kalender dan CDnya?. Saya tanyakan itu karena harganya yang melonjak tajam dan tidak tertarik pada kalender dan CDnya, saya perhatikan kalender dan CDnya terlihat biasa saja. Sang ibu menjawab, "tak boleh" harus membeli semuanya.

Pembeli telah dipaksa untuk membeli/membayar apa yang ditentukan majalah bobo pada edisi itu. Membeli majalah juga harus ikut membeli CD dan kalender, kasus atau pola sejenis ini sekarang ini sudah lazim dengan alasan tambahan informasi, suplemen atau manfaat tambahan namun terkadang sangat merugikan mana kala itu titipan sponsor, bahkan diiming-iming hadiah/gratis barang tertentu, padahal hadiah itu sebenarnya kita beli juga. Kita dipaksa membeli bukan karena keinginan atau kebutuhan.

Simak pula di pusat-pusat perbelanjaan; seperti mal, hypermart, departemen store, super market. Apakah kita dilayani disana?, apakah kita bisa menentukan / menawar harga?, apa kita bisa membeli barang kiloan  sesuai keinginan kita misal, 1 ons, 3/4 gram, 0,5 kilo?. Dan apakah kita yakin gula, minyak goreng yang kita ambi/beli benar-benar sesuai ukuran timbangannya (1 kg, 2 kg dst). Ditempat-tempat pusat pembelanjaan kita harus melayani diri kita sendiri, membawa barang kita sendiri, kita tidak bisa menawar lagi. Bukankah raja harus dilayani dan dipuaskan, raja tidak pernah membawa barangnya (..eh jangan mikir jorok gitu???) sendiri, raja harus menentukan harga?, raja duduk saja lalu tinggal menyebut apa yang diingingkan atau yang dibutuhkannya, pelayan datang untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan raja, bukankah seharusnya begitu seorang raja. Apakah ada seperti itu di Pusat pembelanjaan / supermarket?.

Jadi pengen punya supermarket yang pembeli datang tak perlu capek keliling sambil membawa barang yang hendak dibeli/dibayar. Ketika mereka datang dipersilahkan duduk langsung dilayani menghadapi sebuah layar Monitor (kalau perlu sambil dipijit / reflexi, sambil makan dengan keluarga, sambil rekreasi lainnya), pada TV itu dipertontonkan daftar barang / produk ukuran, harga, masa berlaku dan manfaatnya serta halal atau tidak halal dan seterusnya, baik yang dipandu oleh pelayan, maupun yang mencari sendiri. Kemudian ketika pembeli sudah memilih / menentukan barang yang hendak dibelinya, ia tinggal menekan tombol 'YES' lalu transaksi. Setelah itu pelayan / robot dengan sigap dan ramah membawa barang kehadapannya atau membawakan ke kendaraan pembeli.

Zaman sekarang pembeli tidak perlu dihormati lagi haknya untuk memilih, pembeli harus melayani diri sendiri , pembeli tidak bisa menawar, pembeli terkadang dipaksa dengan kemauan produsen atau penjual, tanpa sadar kita digiring dengan kemauan penjual, bukan begitu?. Pembeli bukan lagi raja, pembeli adalah wadah ekploitasi produsen dan penjual. Pembeli dipaksa membeli sesuatu yang bukan kebutuhannya, siapa  bilang pembeli adalah raja, SEKARANG PENJUAL ADALAH RAJA.

No comments: