Sunday, December 4, 2011

CARA MUDAH, KITA DIHANCURKAN.

Kenapa saya memberi judul dan menuliskan hal ini. Saya hanya menyimak beberapa kejadian berskala besar melibatkan ribuan manusia. Dan peristiwa atau kejadian itu bisa sangat mungkin dimanfaatkan bangsa lain yang bermaksud menghancurkan kita..ya....kita Indonesia. Kok bisa?. Tulisan ini semata-mata muncul karena peduli dan keprihatinan saya serta rasa cinta saya kepada bangsa ini.

Mungkin masih ingat beberapa waktu lalu dan bahkan hampir tiap tahun terjadi. Kerusuhan dan kematian akibat antri dan berebut yang tidak terkendali. Pembagian zakat, pembagian daging qurban, silaturrahim (open house) di kediaman Presiden SBY, kelompok yang ini saya sebut atau golongkan orang bawah atau tidak mampu karena rata-rata mereka yang antri dan berebut zakat dan daging qurban adalah golongan itu. Tadinya saya berfikir hanya orang tak mampu dan tak sekolahan yang rela berbuat seperti itu. Ternyata saya salah.

Paling mutahir terjadi adalah antri dan berebut produk mutahir blackberry-bellagio. Ada kerusuhan dan ada yang pingsan akibat acara itu. Mereka ini saya sebut atau golongkan orang mampu lagi berpendidikan, karena umumnya yang antri dan berebut ini memang orang mampu (baca berduit) dan berpendidikan, yang mau rela antri berdesakan demi sebuah produk mutahir, bergengsi dengan dua jutaan rupiah, kan orang berduit.. Ternyata antri dan berebut tidak mengenal miskin, kaya atau sekolah atau tidak sekolahan. Bisa saja kemaren itu hanya sebuah 'test case', untuk melihat apakah antri dan berebeut serta kekacauan bisa terjadi di kalangan orang berduit dan sekolahan. Entahlah, tidak bermaksud menuduh.

Peristiwa-peristiwa itu dapat dengan mudah dipakai orang atau bangsa lain untuk mengukur atau cara untuk menghancurkan kira, bangsa kita. Bagaimana caranya?. Mudahkan dengan alasan pembagian sesuatu yang  murah atau bahkan gratis seperti; duit, sembako, daging, minyak, produk mutahir yang lagi tren. Cara itu bisa mengumpulkan masa dalam jumlah luar biasa banyak dan kita cendrung tidak mampu mengendalikannya, bahkan lalai. Bayangkan bila dilakukan serentak disetiap kota provinsi, kabupaten, lalu dilaksanakan didekat barak/perumahan militer, markas militer/polri dengan alasan keamanan dan mudah mengendalikannya.

Saat-saat semua berkumpul, saat-saat semua sibuk antri dan berebut. Saat itulah serangan datang, atau bahkan saat itulah sesama kita saling 'menginjak', satu sama lain dan betapa tidak terkendalinya saat itu. Mudah bukan?, bahkan dengan sendirinya hancur, karena ANTRI DAN BEREBUT. Kita memang belum berbudaya antri, bangsa ini belum cukup hanya dengan himbauan. Himbauan/permintaan harus disertai alat, misal supaya antri harus ada pagar, atau nomor antrian. Ah... mungkin saya terlalu berlebihan berhalusinasi.

No comments: