Saturday, June 11, 2011

SIMsalabim lalu keluarlah SIM A, B,C,, Enakkan?!.

Beberapa hari yang lalu aku mengurus Surat Izin Mengemudi (SIM A), di Poltabes Barelang-Batam. Cukup ramai orang yang mengurus SIM, mulai dari SIM C hingga SIMsalabim. Loh kenapa simsalabim?. Ya..saya kira semua tempat membuat SIM, pasti dibuat dan ditempel diruang tunggu syarat-syarat membuat / mengurus SIM dan pada bagian akhir / penutup juga tertulis besar dan jelas;
'KAMI TIDAK MELAYANI PENGURUSAN SIM MELALUI CALO'.

Bahkan yang di Poltabes Barelang-Batam itu disertai dengan kalimat berbahasa Inggris kalimat perkalimat. Lalu apa hubungannya dengan simsalabim?, tenang. Saya kira tulisan penutup itu tadinya sakti dan benar-benar akan diikuti, maksudnya ditaati.


Apa yang saya saksikan kemudian, orang-orang bersilewaran (orang dalam juga) menyodorkan photocopy Kartu Tanda Penduduk saja pada petugas dan diselipkan uang beberapa lembar pecahan Rp 50.000,- lalu petugas melakukan kerjanya, tanpa syarat-syarat yang lain, kalau dulu harus ada tanda bukti setoran ke salah satu bank yang ditunjuk. Ada juga pemohon SIM yang membawa berkas / dokumen yang cukup lengkap tapi lambat dipanggil. 

Ada sekitar 10 buah kursi duduk untuk pemohon yang menunggu giliran diphoto dan  sidik jari. Ketika saya menunggu giliran, saya memperhatikan seorang wanita keturunan China persis duduk disebelah saya, mengetik di HPnya  dengan kalimat berikut yang terbaca oleh saya 'bang tolong kasih tau sama Ady (di pakaian dinas petugas SIM itu tertulis H.Ady) saya duluan'. Entah karena memang gilirannya atau karena saktinya SMS itu wanita itupun langsung dipanggil. 

Lalu ada seorang anggota Bromob yang dibawa oleh anggota polisi, kemudian polisi yang mengantar itu masuk ke ruang photo dan sidik jari, entah apa yang dibisikkannya pada petugas 'simsalabim', brimop itupun langsung dipanggil, semetara saya yang masuk lebih dulu dari brimob itu belum juga dipanggil. Ternyata calo-calo yang tidak dilayani itu adalah calo yang dari luar, maksudnya bukan orang dalam (maksudnya calonya harus polisi, atau pegawai disana).

Ada juga yang menarik perhatianku seorang 'cleaning servis'/ petugas kebersihan bisa berseliweran, didalam sana, ikut mengatur antrian, meminta para pemohon SIM untuk menggeser posisi duduk, gayanya sudah seerti polisi. Kemudian terlihat olehku ia menyerahkan uang titipan untuk seorang petugas wanita. Kemudian petugas wanita itu bertanya padanya dari mana ini, si petugas kebersihan itu menjawab dengan hanya menggerakkan mulut menyebut satu nama tapi tak keluar suaranya, Petugas wanita itu lalu memonyongkan mulutnya "Oooo", juga suaranya tak keluar.

Pemohon SIM tentu setiap harinya sangat banyak dan banyak pula yang mengurus dengan cara SIMsalabim, dengan calo-calo orang dalam dari kantor polisi itu sendiri. Calo dari luar tidak diterima / tidak diizinkan, mungkin akan mengurangi rezeki orang dalam yang terbiasa jadi calo, he..hee. Sungguh, itulah yang terlihat pada saat saya mengurus SIM, ada saja peluang curang, ada saja cara mempercepat memperbayak  pundi-pundi, seolah legal / sah tapi tidak tercatat secara resmi, baik cara maupun aliran uangnya.

Bisa anda bayangkan berapa sesungguhnya uang yang disetor ke kas negara, kalau dulu kita harus menyetor uang ke satu bank yang telah ditunjuk baru bisa mengurus SIM, berapa pula uang yang masuk kekantong pribadi dan ke pihak lainnya dengan cara SIMsalabim itu?????, entahlah....silahkan bayangkan sendiri. Sudah sering dikeluhkan, atau ditegur, paling sebentar saja tertib sesuai aturan, nanti kembali lagi, curang, kaya lagi. Pokoknya yang mengurus orang banyak disitu peluang curang dan peluang korupsinya juga sangat besar. Silahkan saksikan sendiri, atau malah anda pernah mengalaminya?.



Enhanced by Zemanta

1 comment:

Anonymous said...

Penyakit kronis yg sasah disembuhkan ...........