Friday, June 3, 2011

Diusulkan saja, Menjadi Warisan Budaya.

Korupsi, konon katanya sudah membudaya, mendarah daging, dan begitu mengakar di masyarakat kita. Mulai dari pejabat yang paling berengaruh hingga ke orang paling biasa-biasa saja juga melakukan korupsi. Mau mengurus Kartu Tanda Penduduk di kantor desa dikorupsi, biayanya itu lo yang tak jelas, dan lama menyita waktu, itu korupsi kecil-kecilan. Korupsi yang besar-besaran seperti Gayus Tambunan, menilap uang/memanipulasi pajak, atau koruspi anggaran, diperbesar angkanya sehingga jauh melebihi harga yang sesungguhnya.

Jenis korupsipun bisa digolongkan kedalam dua kelompok; korupsi tunggal  yaitu pelakunya perorangan. Dan satu lagi korupsi berjamaah yaitu pelakunya lebih dari satu orang bahkan bisa beramai-ramai seperti para anggota DPR yang terhormat itu. Korupsi berjamaah ini biasanya melibatkan orang banyak, orang berpangkat, berpengaruh dan sulit dilacak atau di bongkar.


Singkatnya korupsi ada dimana-mana, disetiap kesempatan bahkan hampir disetiap kegiatan yang melibatkan atau untuk kepentingan orang banyak dan melibatkan uang. Suatu institusi, lembaga yang melayani orang banyak / masyarakat disitu peluang kerupsinya tinggi. misal yang mengurusi tenaga kerja, yang mengurusi paspor, yang mengurusi transmigrasi, yang mengurusi jemaah/haji, yang mengurus SIM, yang mengurus kendaraan, yang mengurus hukum, yang mengurus pajak dan seterusnya, pokoknya yang mengurus kepentingan orang banyaklah. Mengurus apapun, disana ada uang pelicin untuk korupsi, kalau tak ada uang pelicin yang tak selesai-selesai urusan anda.

Karena itulah korupsi begitu membudaya, mendarah daging dan mengakar sehingga banyak kalangan mengatakan sulit memberantas korupsi, walau sudah banyak yang ditangkap, lalu dihukum dijebloskan kepenjara namun tidak membuat korupsi berkurang, bahkan katanya semakin meningkat baik pelakunya maupun jumlah uang yang dikorupsi. Tidak ada yang takut dan malu untuk korupsi, justru kalau tak korupsi tidak naik pangkat, tidak naik derajat sosial, tidak kembalinya uang yang telah disetor atau kapan akan menjadi kaya.
Memang ternyata sangat sulit menghilangkan sebuah budaya, berbagai upaya telah dilakukan untuk menguranginya namun hingga kini belum berhasil, maksudnya yang tertangkap dan dihukum jumlahnya lebih sedikit dari pada yang korupsi tapi masih bebas atau belum tertangkap, atau sudah tersangka korupsi tapi malah kabur entah kemana?, enaknya. Sulit, sulit sekali menghilangkan sebuah budaya.

Anda masih ingat beberapa budaya Indonesia telah diakui oleh PBB sebagai warisan dunia seperti Tari Saman dari Aceh, Angklung dari Jawa Barat. Nah usulkan saja korupsi itu menjadi warisan budaya, supaya diakui dunia, belum ada negara lain yang mengusulkan, cepat nanti  keburu negara lain mengusulkan, Kalau kita masih memiliki rasa malu mestinya tersinggung dengan usulan ini,  oleh sebab itu mestinya kita membantu supaya korupsi tidak membudaya.
Enhanced by Zemanta

No comments: