Thursday, March 31, 2011

BATAM MEMBUTUHKAN RUANG PUBLIK TERBUKA NAN HIJAU.


Jika kita keliling kota Batam ruang publik terbuka sangat kurang, tapi ruang publik tertutup sangat banyak. Tapi sebenarnya, apa yang dimaksud ruang publik, secara sederhana adalah suatu tempat yang dapat dipergunakan secara bersama. Simak salah satu pendapat pakar berikut; Pada umumnya ruang publik adalah ruang terbuka yang mampu menampung kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka. Ruang ini memungkinkan terjadinya pertemuan antar manusia untuk saling berinteraksi. Karena pada ruang ini seringkali timbul berbagai kegiatan bersama, maka ruang-ruang terbuka ini dikategorikan sebagai ruang umum. Menurut sifatnya, ruang publik terbagi menjadi 2 jenis, yaitu :
• Ruang publik tertutup : adalah ruang publik yang terdapat di dalam suatu bangunan, contohnya mall.
• Ruang publik terbuka : yaitu ruang publik yang berada di luar bangunan yang sering juga disebut ruang terbuka (open space), contohnya alun-alun.
Mengapa dibutuhkan ruang publik?. Semakin meningkatnya populasi manusia yang diiringi pesatnya pembangunan rumah, toko bahkan ruko dan berkurangnya pepohonan (lahan hijau) maka ruang publik terbuka nan hijau sangat diperlukan yang berfungsi:
• Tempat bermain dan berolah raga, tempat bersantai, tempat komunikasi sosial, tempat peralihan, tempat menunggu atau interkasi antar manusia yang lainnya.
• Sebagai ruang terbuka, ruang ini berfungsi untuk mendapatkan udara segar dari alam.
• Sebagai pembatas atau jarak di antara massa bangunan.
• Penyegaran udara, menyerap air hujan, pengendalian banjir, memelihara ekosistem tertentu.
• Penyeimbang ruang kota dan keindahannya.
Di Batam yang sangat kurang adalah ruang publik terbuka (seperti alun-alun). Yang ada dan resmi sepertinya hanya di depan kantor walikota Batam Centre. Berbicara ideal tentu setiap kecamatan harus ada ruang publik terbuka. Coba bangdingkan jumlah toko dan atau ruko dan pembangunan rumah yang menganut serba minimalis, maksudnya tidak hanya rumahnya yang minimal, juga halaman, taman, fasilitas sosial, dan jalan-jalan diperumahan yang hanya muat satu mobil mini. Jangan heran jika di Batam kita menemukan ada pengembang yang hanya membangun rumah kurang dari 60 atau 50 buah, yang disekelilingnya sudah ada perumahan lain. Bisa jadi sebetulnya dulu lahan itu diperuntukkan sebagai lahan hijau atau ruang publik terbuka, tapi kini telah berubah fungsi, karena apa?? Entahlah. Untuk lahan toko, ruko sepertinya selalu ada, bahkan ada anggapan ‘pantang ada tanah kosong maka toko/rukolah disitu berdiri’.
Ruang publik terbuka, mungkin tidak dianggap perlu dan mungkin jika dinilai secara bisnis tidak menguntungkan. Memang perumahan menyediakan ‘fasum/fasos’tapi itu kecil dan tekesan seadanya, biasanya juga kemudian disulap oleh warga yang diatas lahan itu didirikan bangunan dan akhirnya jadi sempit dan tidak hijau lagi. Batam membutuhkan ruang publik terbuka lebih banyak, karena penduduk Batam semakin banyak dan lahan terbukapun semakin berkurang. Beberapa tempat idealnya sudah ada ruang publik terbuka nan hijau (bukan hutan ya..) seperti di sekitar Nagoya/Jodoh, Mege Legenda, Batu Aji, Tiban, sekitar Botania Batam centre, Dibelakang Perumahan Angrek Mas2/belakang Marchelia, Batu Besar, Batu Ampar, Bengkong.
Hal ini sudah wajib difikirkan serta adanya kemauan politik yang kuat dari Walikota dan DPRD Kota Batam serta semua pihak agar dimasa depan Batam menjadi kota yang bersahabat bagi lingkungan juga bagi penghuninya. Lahan yang telah ditetapkan hendaknya diberitahu secara terbuka (papan pengumunan misalnya) sehingga masyarakat luas mengetahui. Jangan terulang seperti Jakarta; keributan, kerusuhan terjadi akibat mengusur rumah, gedung dengan alasan untuk lahan publik terbuka nan hijau. Layak juga kita belajar dari negara tetangga Singapura disana disetiap distrik ada community centre untuk aktifitas warga di ruang terbuka seperti; main bola, tenis, pertemuan besar warga dan sebagainya. Nah melalui tulisan ini kita ajak Walikota, Wakilnya, DPRD dan pihak-pihak terkait untuk merealisasikan ini.

No comments: