Monday, November 1, 2010

APA BOLEH BIKIN.

Sudah lebih dari 30 tahun berbahasa Indonesia (10 tahun lebih selama dikampung dulu tak pernah berbahasa Indonesia yang ada bahasa Komering), tetap saja bahasa Indonesiaku bukan tambah maju, malah terasa tambah kacau tidak mengikuti kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Banyak penyebab bahasaku bukanya tambah baik contohnya; televisi dan media masa lainnya yang sebahagian besar cara berbahasa orang-orang di dalamnya  menggunakan logat betawi. Radio apa lagi para penyiarnya akan merasa gaul dan dekat dengan pendengar jika menggunakan logat betawi / Jakarta.

Zaman sekarang, percakapan dalam pergaulan sehari-hari terasa aneh jika ada orang yang berbahasa Indonesia yang baik dan benar, terasa formil, kaku dan lucu. Kondisi itu membuatku  terkadang ikut-ikutan berbahasa ‘gaul’. Simaklah, tidak akan ada model percakapan berikut yang sesuai bahasa Indonesia yang baik dan benar.

“Ibu, hendak kemana?”. Model sekarang “mana bu?”
“Ibu hendak ke pasar” jawab ibunya. Model kalimat sekarang “ke pasar” serba singkat.

Dan memang bahasa Indonesia terkadang terasa sulit dipahami dan dijelaskan apalagi kalimat/istilah tertentu saya rasakan tidak adil. Contohnya kata ‘buat’ sama artinya dengan ‘bikin’, ‘telinga’ sama artinya dengan ‘kuping’. Tapi ketika menyebut ‘apa boleh buat’, tidak lazim disebut ‘apa boleh bikin’, juga ketika menyebut ‘jamur kuping’ tidaklah lazim disebut ‘jamur telinga’, bukankah itu tidak adil dan sulit dijelaskan mengapa hal itu terjadi. Apakah ini karena faktor ketidakbiasaan saja???.

Simak pula istilah-istilah bermunculan sejak maraknya 'dunia digital', saya menyebutnya bukan kemajuan yang positif; serius menjadi cius, lebay, alay, dan banyak bermunculan bahasa singkatan yang pada akhirnya kita tidak mengetahui asal-muasalnya dan arti sesungguhnya. Satu-satunya bahasa di dunia ini yang terpelihara adalah bahasa Arab, bahasa Inggris yang menjadi bahasa internasional kini juga sudah berubah jauh.


Rebana atau Qasidah adalah identik dengan musik bernuansa islam, secara umum alat musiknya di pukul / perkusi. Aku selalu saja tersenyum atau bahkan tertawa ketika ada ide untuk mengganti sebutan rebana atau qasidah dengan band tampar /  band tabok, bukankan alat musik pada rebana atau kasidah ditampar / ditabok. Rebana atau qasidah itu peminat semakin hari semakin berkurang, banyak pemainnya ibu-ibu, dimainkan ketika ada syukuran, pernikahan atau ada acara di mesjid atau surau saja. Nah..untuk meningkatkan peminat, mungkin harus dilakukan banyak trasformasi yang kreatif, salah satu contohnya adalah merubah sebutan tadi menjadi band tampar / tabok, sesuatu yang mustahil.., karena identitas yang melekat padanya. Apa boleh bikin.

No comments: