Friday, July 16, 2010

MENGHITUNG HARI.

Tulisan ini semoga menjadi inspirasi, introspeksi dan pemikiran khususnya bagi saya, dan pada siapapun yang membaca tulisan ini.

Sore tanggal 14 Juli 2010, sekira pukul 16.45 tiba-tiba salah seorang saudara sekampung menelpon.
“Ass, mang ada dimana sekarang”. suaranya tergesa-gesa dan seperti ada yang penting.
“Waalaikumsallam, ya masih di kantorlah, ada apa?”. Aku agak penasaran.
“Udah dengar berita”
“Berita apa”
“Anak Yanto, meninggal”
“Innalillahi wainnalillahirojiun”
“Jam berapa balik mang”
“17.30”
“Ya.. udah mang nanti kita langsung menuju pemakaman umum sei Temiang, mamang tunggu aja di pintu satu Batamindo, depan Kampung Aceh tu”
“OK”. Sampai di pemakaman pas betul para pelayat hendak membubarkan diri, saya dan saudara jongkok sebentar untuk mendoakan, lalu kami semua menuju rumah duka.

Anak Yanto ini lahir sekitar 3 minggu yang lalu, namun hingga dimakamkan belum sempat pulang kerumahnya, karena menurut dokter RS Otorita Batam dengan kondisinya sejak lahir harus berada dalam inkubator. Saya sendiri belum sempat melihat, namun dengar cerita selain diikubator sang bayi juga harus menggunakan alat bantu pernapasan, warna kulitnya berlainan dengan bayi normal umumnya.

Orangtua manapun pasti sedih dan terenyuh melihat anaknya seperti itu, demi keselamatan buah hati apapun dilakukan, tidak tidur termasuk absen dari pekerjaan tempat mencari nafkah, fikiranpun terganggu memikirkan istri yang juga lagi sakit, anak dan biaya perhari dirumah sakit yang sungguh luar biasa besarnya. Sempat pula kami melakukan kumpul-kumpul duit untuk membantu meringankan beban Yanto. Dokter dan para medis telah berusaha namun Tuhan berkehendak lain.

Kalimat seperti itu sering juga kita dengar, ditelevisi dan media lainnya. Namun benarkah Allah SWT berkehendak lain, apa yang dimaksud berkehendak lain. Bila kita paham tentang ketentuan Allah SWT, yang serba pasti. Sebenarnya tidak ada Allah berkehendak lain, kitalah sebagai manusia yang berkehendak lain, karena kita menganggap telah berusaha dengan cara apapun untuk menyelamatkan nyawa, dan kita sering memandang kematian hanya sebagai sebuah kebetulan, kita lupa dengan ketentuan ALLAH. Padahal batas akhir hidup kita atau kematian sudah ditentukan/sudah pasti. “Setiap yang bernyawa akan mati”, dan kita tidak akan mampu berlari ataupun sembunyi dari kematian. Kalau sudah meninggal, harus dikafani pakai kain putih, coba pakai batik nanti dikira mau ke undangan, bisa hebooh tu he..he..

Selain Al Qur’an, kematian sesungguhnya nasehat yang paling baik. Kematian tidak harus berumur tua yang baru lahirpun bisa dijemput kematian. Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah kita tidak menyadari bahwa hari-hari yang kita lewati justru semakin mendekatkan kita kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain? Menghitung hari.. Aku tetap saja takut dan ngeri. Apa karena aku merasa belum siap, apa karena aku masih cinta dunia termasuk orang-orang yang kucintai?. Entahlah sulit menjelaskannya. Semoga AKU dan kita semua digolongkan orang-orang beriman, bertaqwa serta dimasukan kedalam syurga. AMIIIN.

No comments: