Monday, July 12, 2010

CINTA TIDAK PERNAH BENAR-BENAR BUTA.

Sabtu tanggal 10 Juli 2010. Aku jadi panitia sibuk-sibuk dari peristiwa bersejarah dua orang manusia, mereka jadi raja dan ratu sehari,...ya mereka menikah. Mereka ingin memasuki tahapan kehidupan yang sangat penting. Jalinan cinta, kasih dan sayang yang telah mereka bina selama ini berbuah manis. Mereka yakin satu sama lain, karena sesungguhnya cinta adalah kumpulan-kumpulam “saling”-memahami, berkorban, jujur, iklas, komunikasi, membutuhkan/melengkapi, saling memberi serta untaian-untaian rasa yang harusnya berujung menyatukan dua insan. Coba bayangkan jika tidak saling memberi, yang satu memberi tapi anda tidak memberikan reaksi apapun ketika diberi apalagi membalasnya, apa itu namanya?, kosong / NOL BESAR, bertepuk sebelah tangan donk. Atau anda mengakui mencintainya tapi anda nikah dengan orang lain, ini namanya apa?, atau anda memendam rasa cinta, anda bersekeukeuh tak mau mengungkapkannya hingga akhir hayat, apa juga namanya?. Pasti deh ada yang saaakiiit hati dan kecewa BeeeRrrat.
Cinta sesungguhnya tidak pernah benar-benar mengalami kebutaan. Cinta itu pilihan, cinta itu masa depan, cinta itu kesejahteraan, cinta itu mencocokkan. Na..itulah sebabnya selalu pertanyaannya adalah kenapa anda’ memilih’ dia sebagai pasangan?. Pilihan ada karena cinta itu tidak buta, Cinta bisa memilih karena agama, cantik, ganteng, tinggi, besar, pangkat, jaminan masa depan, cinta juga bisa memilih karena kekayaan, status sosial/derajat, keturunan...dan seterusnya. Cinta yang tulus adalah ibarat pohon naluri yang tumbuh wajar, pada pandangan pertama ia langsung terpaut dan menghunjam mendalam..aha..betapa indah cinta yang demikian.
Cinta memang tidak buta tapi sulit dipahami, aku saja tak paham hingga kini, banyak tanda baca; ada huruf, ada koma, ada tanya, seru, bahkan kadang-kadang ada titik, kita perlu mengeja (mungkin butuh wantu bahkan tahun) agar kita dapat merangkainya menjadi CINTA (bahwa cinta itu ada), bisa jadi kita semakin bingung dibuat CINTA. Aah.. sudahlah kenapa pak penghulu belum datang, jam sudah menunjuknan 9.45.
Pak Penghulu sudah sepakat bahwa akad nikah akan dilaksanakan pukul 09.00 pagi, namun tak datang-datang juga, bikin gelisah yang mau nikah aja, akhirnya pihak keluarga memutuskan untuk menjemputnya. Ternyata Pak penghulunya masih ada acara menikahkan pasangan lain. Ketika pak penghulu tiba tanpa basa-basi langsung memulai acara, tidak santai/tidak rilek, ‘to the point”. Biasanya pak penghulu yang baik mencoba membuat suasana menjadi rilek sehingga pengantin pria tidak gugup, bahkan ada pak penghulu yang sesekali menggoda kesiapan pangantin pria (apakah udah jrreng atau joss). Pak penghulu kali ini agak jutek, bahkan menurut para saksi agak galak dan tidak sabar.
Pengantin pria jadi gugup, ijab qabulnya sampai diulang 6 kali, pak penghulunya jadi benar-benar tak sabar, macam dikejar-kejar tukang kredit. Begitu selesai langsung doa, tandatangan dan langsung pulang. Tanpa menyampaikan wejangan atau nasehat-nasehat perkawinan, juga tanpa minum dan menyantap apapun makanan yang telah disiapkan, Eee. Ternyata Pak penghulu masih ditunggu 2 acara akad nikah lagi (jadi semuanya 4 pasangan pagi itu yang harus ia nikahkan). Waah Pak penghulu panen ya..pak penghulu “kejar tayang/kejar target” ni..yee, konon kalau nikahnya dirumah tarifnya beda...Pak penghulu kan manusia juga,.. asal jangan dikomersilkan..buku nikah dan doanya, he..he. nanti ditanya pula di alam sana...
Setelah pak penghulu pulang lalu, seorang saudaraku bilang kenapa ya, menikahnya sebelum puasa, nanti malah gak puasa dengan alasan habis begadang jadi gak sempat bangun sahur, karena lemaaas. Saudara yang lain menyahut, itu malah lebih enak mau sahur ada yang bangunkan dan ada yang menemani saat sahur dan berbuka, terus kalau lebaran enak, silaturrahmi ke kerabat dan handaitolan sudah berdua sekalian memperkenalnya pasangannya masing-masing.
Eh...sudahlah tak usaha membicarakan hal itu, kawin itukan ‘enaknya’ cuma 25 persen saja ujar saya. Ah masak sih kata saudara saya. Ya.... yang 75 persennya “sangat ueennaaak” kata saya. Makanya banyak orang ingin cepat-cepat nikah. Kalau dulu..kan masih muda bahkan masih sekolah, asal cukup umur sudah dinikahkan...karena sudah tau uennaaknya kawin, betul...betul..betul.

No comments: