Friday, June 4, 2010

MEWARISI CARA JAHAT BELANDA.

Aku dan istriku lagi nonton TV, anakku yang pertama sedang belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ulangan, tiba-tiba berbicara setengah meyakinkan dan bertanya.
“Indonesia dijajah Belanda 3,5 abad ya..?!”.
“Ya..satu abad itu seratus tahun” kata istriku
“kok lama ya?”
“Orang Belanda yang datang ke Indonsia lebih pintar, memiliki peralatan yang banyak dan maju, mereka menguasai lebih banyak hal dari pada orang Indonesia sendiri, sedang Orang Indonesia karena waktu itu belum banyak yang pintar, hebat, belum bersatu, berjuang masih mementingkan suku masing-masing dan mudah sekali diadu domba, makanya lama kita dijajah kekayaan alam kita diambil untuk membangun kemajuan Belanda” ujarku mencoba menjelaskan sesederhana mungkin. Kebetulan di televisi yang kami tonton sedang ditayangkan, kerusuhan antara dua kelompok.
Na..itu salah satu contoh nak...(aku sambil menunjuk televisi agar anakku melihatnya), warisan Belanda yang tidak bisa hilang sampai sekarang. Sepertinya kerusuhan yang terjadi semakin banyak dan mudah saja terjadi. Konser musik, PILKADA, Sepak Bola, tawuran anak sekolah atau antar pemuda yang sebab dan alasannya sepele dan tidak diketahui secara pasti. Mudah sekali terjadi saling adu mulut, adu kekuatan/otot, adu batu, adu senjata, membakar, merusak dan membakar bahkan menghilangkan nyawa orang lain.
Adu domba dapat digambarkan sederhana sebagai berikut. Kalau ada anak kelahi, di letakkanlah dua batu / digambar ditanah dua wajah (batu atau gambar itu disebut bapak dari yang berkelahi) siapa yang menginjak dulu berarti hebat...yang menginjak batu/gambar duluan akan membuat anak yang lain maraah dan mulailah perkelahian hebat, karena sebuah umpama. Dengan cara adu domba itulah Belanda tak perlu kerja keras untuk mencapai keinginannya, sesama suku di Indonesia dibuat saling perang, saling membunuh. Na.. model-model adu domba seperti itu hingga kini masih ada, termasuk di partai, di organisasi, di masyarakat, di kantor-kantor yang para pemimpinnya orang asing dan bawahannya Orang Indonesia.Simak lah pemilihan Presiden sekarang, orang cuma pandai menyebar kekurangan, keburukan. Mereka ingin menang dengan cara memfitnah, menghasut, mereka mengaku beragam islam, dan punya pendidikan.
Banyak Orang bersedia mewarisi/melestarikan cara jahat Belanda itu dengan menjadi ‘penjilat, tukang pelapor dan pencari muka” dengan mengorbankan orang lain, demi jabatan dan kekuasan. Lihat pula apa yang ditampilkan di media masa kita yang dominan adalah, kerusuhan, ketakutan, kepanikan, kemarahan, kebrutalan, kekerasan. Sungguh jarang ditemukan keharmonisan, kedamaian, acara ulang tahun, orang syukuran dan acara kebahagian lainnya di TV.. Orang-orang asing itu terkadang memang sengaja juga menciptakan suasana agar orang Indonesia tidak pernah akur, kompak sehingga orang kita tidak pernah secara tuntas menguasai ilmu dan teknologi mereka.
Adu domba model sekarang lebih maju dan lebih moderen, sehingga tidak disadari, yang terlihat adalah perbedaan cara pandang atau pendapat. Indonesia sebentar lagi 65 tahun merdeka namun bukannya tambah maju, akibat adu domba yang sering terjadi hasil pembangunan banyak rusak/hancur. Nah.. adu domba ini tidak akan pernah berujung baik, karena memunculkan pihak yang saling membenci dan saling memusihi, pemenangnya bukan Orang Indonesia atau yang diadu domba tapi pembuat adu dombalah yang akan tersenyum, tepuk tangan dan menjadi semakin berkuasa. Dan kita akan selalu menjadi pecundang yang benar-benar kalah dan rugi besar.

No comments: