Monday, June 14, 2010

TIDAK PERCAYA SAMA RUPIAH.


Beberapa saat yang lalu saya pergi ke sebuah mall yang cukup terkenal di kawasan Nagoya. Raket badmintonku yang lama sudah bermasalah, nah perlu yang baru kebetulan sebuah toko olah raga mengadakan potongan harga 50%.

Na…sambil mau pulang saya iseng masuk kesebuah toko, melihat barang dagangannya kelihatan bahwa toko ini lumayan mewah dan semua bermerek, ada jam tangan pria dan wanita, tas, travel bag, baju, kemeja, parfum, tali pinggang, dan asesoris lainnya. Kebetulan ada sebuah jaket berbahan bludru merek G. Armani, ketika dilihat harga yang tertulis memakai Dollar Singapura, lalu saya tanyakan.

“ini benar ya…pakai dollar Singapura” tanya saya penasaran
“Ya..Pak”
“Lho kok bisa, ini kan di Indonesia”
“Pak, Jaket ini langsung datang dari Singapura”
“Saya tau, tapi kenapa harus menggunakan dollar, bukan rupiah”
“Lebih aman, juga karena gak ada yang mempersoalkannya, pejabat saja banyak yang belanja kesini, gak protes”
“Ya, suda berapa kalau di rupiahkan”, Pelayan itu langsung tekan-tekan kalkulator lalu berujar “Rp 997.000,-“
“terima kasih” saya meninggalkan toko itu. Saya penasaran saja, kenapa pula pakai menyebut-nyebut pejabat, pejabat mana?, atau yang dia maksud pejabat itu adalah “Peranakan Jawa Batak”…entahlah.

Masih ada rupanya orang Indonesia yang tidak percaya sama mata uangnya sendiri, anehnya lagi hal itu dilakukan secara terbuka tanpa pengawasan atau mungkin dianggap tidak memiliki efek afafun (apapunlah..maksudnya). Artinya mata uang mana saja didunia ini boleh diberlakukan atau dipakai untuk segala transaksi di dalam negeri, yang penting aman dan menguntungkan.

Padahal Rupiah jelas dinyatakan sebagai mata uang resmi sebagai alat pertukaran yang sah di Indonesia. Tapi di zaman seperti sekarang ini yang seolah tanpa batas dan lalulintas orang antar negara juga sangat mudah dan cepat, bolehlah menggunakan mata uang mana saja asal halal, saling sepakat dan tidak ada yang dirugikan. Toh selalu ada alasan yang baik dan bagus dari aparat jika ini mencuat keatas, misalnya tenaga kami kurang, tak mungkin kami mengawasi selama 24 jam. Lain lagi alasan penjual "Kami bukan tak mencintai rupiah, kami hanya ingin bisnis kami aman dan lancar serta untung", weleh-weleh…..!!!?

Kebebasan tidak seharusnya mengorbankan kepentingan Bangsa dan Negara, apapun alasannya. Bayangkan dengan alasan kebebasan dan hak pribadi semua orang boleh bertindak, berbuat apapun / bebas, padahal yang namanya kebebasan dibatasi oleh hak negara dan hak orang lain. Mari mencintai Rupiah. Yang ini agak berat dikit komennya, maksudnya saya telah mengambil kalimat-kalimat, komentar para politisi. Ada..bakat??.

No comments: