Sunday, January 2, 2011

INGINNYA AKU JADI WALIKOTA BATAM (menghayal).



Enaknya Jadi Walikota Batam.
Tanggal 05 Januari 2011 yang akan datang, penduduk Batam (Insya Allah) akan beramai-ramai menuju TPS-TPS untuk memilih Walikota periode 2011-2016. Salah satu calon yang maju adalah Walikota yang saat ini sedang menjabat dan Wakilnya juga maju sebagai calon Walikota. Mereka tampaknya sudah pecah kongsi, tidak sejalan lagi sehingga pada pemilihan Walikota Batam kali ini mereka jalan masing-masing.
Melihat betapa enaknya menjadi Walikota saya (jadi menghayal) inginnya aku jadi Walikota Batam, bagaimana tidak, selama menjabat banyak sekali menerima fasilitas; rumah bersama isi dan asesoris lain,  kendaraan mewah, berikut tunjangan-tunjangan yang semuanya tergolong ‘wah’ atau bahasa orang pentingnya ‘VIP’, semua itu tentu tak perlu mengganggu gaji bulanan yang memang seharusnya diterima, artinya gajinya tak tersentuh banyak dikarenakan semua sudah ditanggung. Simaklah beberapa catatan tentang penggunaan uang rakyat berikut ini.
Walikota Batam boleh merencanakan dan membangun apa saja, termasuk yang tergolong ‘mercusuar’. Berbiaya  tinggi bernilai milyaran dan terkesan mewah dan berorientasi masa depan. Misalnya pasar induk jodoh, terminal muka kuning, boulevard dikawasan jodoh, membangun gerbang Kota Batam senilai Rp5,7 miliar di Jalan Sudirman, Dalam penyampaian LKPj, Walikota Batam beberapa waktu yang lalu antara lain mengungkapkan bahwa penyerapan anggaran dari realisasi belanja tidak langsung pada 2009 hanya sebesar Rp477 miliar dari yang ditargetkan Rp503 miliar. "Realisasi belanja langsung, juga tidak sesuai target atau hanya mencapai Rp532 miliar dari Rp635 miliar," katanya membacakan LKPj.  Walikota beralasan, salah satu penyebab utama rendahnya penyerapan belanja langsung itu karena banyaknya penundaan pengerjaan proyek fisik, kenapa bisa, dan kenapa tidak diapa-apakan?. Selain itu, penyebab lainnya standar harga material yang dicantumkan panitia lelang dinilai tidak sesuai dengan harga di pasaran serta sulitnya pemasukan sejumlah material konstruksi proyek.  Ditempat terpisah, Kadis PU Kota Batam Yumasnur mengungkapkan pada 2009 terdapat delapan proyek yang terpaksa dilelang ulang karena gagal diselesaikan oleh kontraktornya. Dia merinci, beberapa proyek itu yakni pemeliharaan jalan Bengkong (Rp1,2 miliar), pemeliharaan jalan Tiban (Rp357 juta), penanganan longsor Sembulang dan Galang (Rp810 juta) serta peningkatan jalan Kampung Belian (Rp1,2 miliar).
Walikota tidak perlu, dinilai berhasil atau tidak oleh masyarakat, cukup walikota dan partai yang mengusung yang mengatakan sukses dan layak, pihak berwenang juga tak perlu kerja untuk mengawasai atau menyelidiki kemana uang rakyat dan mengapa pembangunan mubazir. DPRDpun boleh mengusut (buat pansus segala) penggunaan uang rakyat itu tapi tuntas atau tidak tak jadi soal, kan anggota DPRD kawan walikota.Rakyatpun tidak peduli semua itu, maka sang walikota maju mencalonkan diri lagi. Karena enak jadi walikota sayapun singkat cerita mendaftar dan menjadi calon walikota Batam.
Ketika masa kampanye untuk pemilihan Walikota dimulai, saya seolah peduli pada rakyat kecil dan miskin, jargon-jargon politik dibuat indah dan membuai, pendidikan murah, kesehatan murah, kesejahteraan meningkat, lowongan kerja banyak. Saya harus ‘mau’ turun, jalan kaki, bersusah-susah menjumpai rakyat, dipasar, dipemukiman kumuh, dirumah sakit, sayapun harus bersedia mencangkul, mengaduk semen, turun ke parit bergotong royong. Saya seolah benar-benar peduli sama orang-orang miskin dan orang susah, dan kapanpun dan sesibuk apapun saya akan menerima tamu / orang, ramah dan begitu dermawannya saya  dalam masa kampanye itu.
Kalau sudah menjabat, saya boleh lupa pada janji politik tak perlu ribut bahkan tidak dipenuhi itu urusan belakang. Tak pernah lagi menemui rakyat juga tidak apa-apa, sulit ditemui juga tak masalah. Apalagi ketika mengucapkan janji politik dihadapan masyarakat yang hanya sedang menunggu artis ‘dangdut’, bukan ingin mendengarkan program yang saya buat, jadi saya akan obral janji-janji apapun. Ketika saya dinyatakan sebagai pemenang, kenapa saya jadi pemenang, karena saya membeli suara rakyat, rakyat suka itu. Saya selanjutnya, segera tersenyum mambayangkan segala hal yang enak yang bakal diterima, Ada prinsip yang harus saya pegang kuat jika menjadi Walikota, tidak membunuh, tidak memperkosa,  tidak kawin cerai, yang lain boleh saya lakukan?!. Tapi Allah tidak buta, tidak tuli dan tidak mungkin luput atau lengah sama sekali. Apakah aku mengingkari hati nuraniku sendiri?.
Tahun pertama saya seolah sibuk membangun Batam dengan proyek-proyek megah dan bernilai milyaran (seolah pro kepada rakyat), soal bermanfaat atau tidak tak usah difikir, soal mubazir atau tidak gak usah disebut, tahun kedua sampai ke empat saya gak perlu kerja, cukup tinjau sana-tinjau sini, mengumpulkan dana sebanyak-banyaknya untuk kampanye pemilihan walikota periode berikutnya sambil berkampanye untuk diri sendiri sekalian jalan-jalan menjalankan hobi. Tahun kelima saya kerja keras lagi, tebar pesona untuk meraih simpatik masyarakat dan melobi sana-sini partai politi yang akan mengusung saya, pribadi dan atau kelompok tertentu, media masa sehingga muluslah pencalonan saya dikemudian hari. Dunia mungkin aku bahagia dan sukses, bagaimana nanti ya....?
Pada periode kedua saya sebagai Walikota saya tidak perlu banyak kerja, yang menjadi perhatian saya bagaimana menyelamatkan diri dan keluarga, lalu memikirkan dana masuk sebanyak-banyaknya serta strategi untuk menuju kursi Gubernur Kepulauan Riau. INGINNYA AKU JADI WALIKOTA BATAM...menghayal ni ye...

No comments: