Wednesday, June 24, 2009

BLACKSMITH





Pak Salimin

Pak Salimin adalah satu-satunya pandai besi (blacksmith) di Bintan, mungkin di Provinsi KEPRI. Bapak yang berasal dari Sumatera Selatan ini mengaku pandai besi adalah usaha turun temurun, ia sendiri sejak tahun 1959 mulai melakukan hal ini dan untuk di Bintan sejak 1985 tepatnya di desa Sekuning sentra buah-buah terutama durian. Kalau waktu muda dulu ia sanggup menyelesaikan 20-an parang per hari. Pak Salimin sekarang ini cocok benar dengan lirik lagu Ebit G, Ade (Titip Rindu Buat Ayah) bahunya tak kekar lagi, keriput ditulang pipinya dan goresan-goresan bekas luka di tangan kirinya gambaran perjuangan, namun semangatnya tak pernah pudar. Kini paling mampu diselesaikan parang 4 buah per hari.
Waktu masih muda saya orang yang tak bertangungjawab dan tidak sayang pada diri saya sendiri, apalagi pada keluarga, saya minum, saya main judi. Alhamdulillah Allah masih sayang pada hambanya seperti saya, asal mau berubah. Tidak bermaksud sombong dikampung ini saya imam disurau, fardhu kifayah saya juga lakukan (sebutan untuk mengurus mayit), bersama istri mengisi waktu sore dengan mengajar anak-anak mengaji. Dia adalah salah satu tokoh di Desa sekuning.
Sejak tenaga berkurang dimakan usia saya hanya lakukan pagi hingga menjelang tengah hari saja, tapi lumayan sejak dimasukan sebagai bagian paket wisata budaya oleh Bintan resort (pengelola Kawasan Wisata Lagoi), ada saja turis dari mancanegara datang dan bahkan puluhan wartawan asing pernah meliput kesini, akunya. Para turis itu hanya ingin melihat cara bikin parang secara tradisional dan bahkan hanya ingin mencoba melakukan. Para turis itu biasanya memberikan tips ke saya sekitar 2 dolllar Singapura. Kalau orang kita hal seperti ini tidak menarik, anak-anak saya saja sepertinya belum ada yang berminat dan mampu meneruskan usaha ini, ujarnya khawatir. Alhamdulillah saya diberi Allah kesempatan dan kemampuan untuk menyekolahkan anak saya, hingga ada yang kuliah. Menurut Pak Salimin tempat usahanya yang sekarang dibantu oleh seorang wanita dari Jerman, dari pemerintah daerah belum maksimal. Pak Salimin Resah dengan kelanjutan usahanya.

No comments: