Saturday, June 20, 2009

BATAM



Bila anda tabah anda menang, Jilid 2)

Masih ingat dengan Mang Disman (40) penjual bubur ayam, Nasi Kuning yang perbulan mampu menabung sekitar Rp 12 juta (cerita saya terdahulu). Tak mudah mengorek cerita dari beliau, sebentar-sebentar terhenti karena pembeli datang silih berganti dan sudah tentu mang Disman harus melayani mereka terlebih dahulu, saya ..gak begitu penting.

Sekitar akhir tahun 2003 beliu menjadi salah satu tim sebelas pemilihan kepala desa dikampungnya. Konsetrasi saya terganggu dan jagoanku akhirnya kalah, saat itu istrinya menghilang katanya ke brebes, e,,ketika disusul ke sana malah sudah ke Batam. Ya namanya istri harus saya susul, hanya bermodal seadanya dan informasi alamat istri di Batu Aji. Pas tahun baru saya kebarngkat ke Batam melalui laut, di kapal saya begitu was-was karena menurut orang-orang di kapal tanpa KTP Batam atau tidak ada yang menjamin saya tidak mungkin masuk ke Batam. Alahmdulillah bisa masuk dengan sedikit pendekatan dan ketemu istri saya di Batu aji.

Dua bulan istri saya kerja di sebuah warung. Alhamdulillah tak digaji, namun masih sehat, kata mang Disman, Setelah saya liat-liat suasana sekitar Batu Aji saya dan istri memutuskan untuk berjualan seperti sekarang. Setelah empat bulan jualan, banyak sekali fitnahan apalagi jualan saya tambah maju, saya dan istri memutuskan untuk mengembalikan peralatan yang telah dipinjamkan, orang Padang yang sudah seperti saudara itu terkejut, kami hanya meminta kaleng besar bila ada, dia langsung kasihkan.

Untuk mengganti gerobak saya coba kumpulkan kayu-kayu bulat, mendekati para tukang yang sedang rehab rumah orang,..pandai-pandailah, itupun kurang sempurna, lalu saya dekati pula sebuah usaha pembuatan kusen kebetulan orang Sunda juga. Saya gambar berikut ukuran gerobak saya..ehh sudah dua minggu malah orakel (ora kelar-kelar). Lalu saya pinjam alat-alat mereka dan saya kerjakan sendiri, saya memang punya keahlian dibidang furniture ujarnya, melihat cara kerja dan hanya dua hari saya selesaikan. Bos kusen itu malah nawarin saya untuk kerja sama dia, dengan segala kerendahan hari saya tolak, e..rejeki malah gak kemana-mana, saya malah dibantu sama dia, dibelikan roda untuk gerobak dan yang lainnya.

Kemudian kami memutuskan untuk pindah ke Legenda Malaka, kata orang ramai. Saya sama istri jalan kaki dari Batu Aji ke Legenda (kurang lebih 13 km), hampir seharianlah, takut sesat. Namun saya yakin bukan itu alasannya tapi mang Disman sambil ingin melihat lokasi yang cocok. Di Legenda Malaka kami memulai di dekat mesjid Nurul Yakin, sambil memasarkan melalui brosur tidak sampai setahun, saya membuka di Legenda Malaka depan tempat sekarang. Tempat ini ada infaknya…sebutlah sewa. Ketika saya pancing infak untuk yang lain, sudah tentu saya selalu berusaha menyisihkan rejeki dijalan Allah, karena rejeki yang saya terima ada untuk orang lain seperti fakir miskin, anak yatim dan orang lain yang membutuhkan. Selama bulan Ramadhan saya tidak jualan biar konsentrasi ibadah, kan.. saya sudah di beri 11 bulan untuk jualan, prinsipnya siapa menanam ia akan memetik hasil gak didunia, ya di akhirat. Subhannallah!

Mas Disman adalah potret orang tabah, ulet, rendah hati, sederhana, cerdik memahami lingkungan, pandai pula bergaul, pantang menyerah dan selalu berusaha beriman dan bertaqwa. Ia selalu yakin dengan allah SWT, tak mungkin memberinya cobaan kalau gak sanggup menjalaninya. Berbisnis dengan Allah dengan cara menyisihkan rejeki, pasti tidak akan meleset, pasti tepat janji Allah. Allah tidak mungkin ingkar janji. Alhamdulillah, saya bersyukur Allah telah mengantarkan saya hingga dalam posisi sekarang. Saya yakin masih banyak cerita yang patut di korek dan diambil hikmahnya dari Mang Disman. Semoga bermanfaat.

Kolubi Arman

No comments: