Friday, November 23, 2012

PENIPU CINTA.

Cerita ini terjadi sekitar awal tahun 2011 lalu. Aku fikir cerita ini layak untuk dibagi, karena mengandung untuk direnungkan. Sebutlah Tarman seorang rekan lamaku, tiba-tiba ia mengeluh dengan perasaan yang sangat mendalam dan sepertinya ia begitu galau, gundah dan begitu sakit hati sehingga beberapa hari ia terlihat kurang bergairah. "Ada apa ujar saya, berat kayaknya masalahnya?". Ujar saya memulai pembicaraan dengan pertanyaan selidik. "Ai mang..(dia memanggil aku mamang) disebut berat, tidak. Disebut ringan juga tidak, tapi membuat aku tak habis fikir, pusing dan stress dengan apa yang kualami...".

Singkat cerita iapun memulai cerita. Dulu waktu penataran P4 saat awal kuliah, aku terpesona dengan seorang gadis yang sangat bening, manis dan cantik. Lalu aku berkirim puisi spontan padanya, ya puisi cintalah, namanya orang lagi kasmaran, jadi yang keluar adalah puisi cinta. Beberapa minggu kemudian ia membalas puisi saya, dengan penuh kelembutan ia menuliskan bahwa bukannya tak ingin pacaran tapi demi patuh kepada Ibu (orangtua) ia belum dibolehkan untuk pacaran.

Namun, anehnya kami sejak itu menjadi akrab walau kami tidak pernah jalan berdua, nonton berdua apalagi membicarakan hubungan kami. Kuliah duduk sebelahan, kalau naik angkot (bis umum mahasiswa) duduk berhampiran / sebelahan. Akupun mulai berada diatas angin, karena situasi itu. Surat yang ia berikan padaku yang berisi belum ingin pacaran aku lupakan, kami semakin akrab dan aku yakin dari bahasa tubuhnya ia juga menyukai aku. Untuk lebih menggairahkan hubungan kami, setelah beberapa bulan kemudian memberi gadis pujaanku sebuah novel berjudul 'Sayap-sayap patah' karya Kahlil Gibran.

Seorang temanku bilang yang kebetulan satu kota dengannya, kalau gadis itu anak seorang kaya raya, saya bilang aku suka padanya bukan karena kekayaan orangtuanya, aku tiba-tiba suka saja. Keakraban itu berlangsung sekitar satu tahun setengah persis masa-masa awal kuliah.

Ditengah keakraban kami, tiba-tiba datang sebuah undangan pesta pernikahan, yang didalamnya menyebut nama gadis pujaanku itu, Aku stress, aku bingung. Namun aku mencoba menghibur diri, dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa ia bukan jodohku, ia anak orang kaya sementara aku anak petani. Lagian apa yang harus aku pertahankan, atau aku pertanyakan bukankah dia sejak awal sudah mengatakan tidak ingin pacaran, dan kami memang tidak pernah membahas hubungan kami berdua. Itulah ketololanku, akrab tapi hubungan tidak jelas.
Bersambung.....


No comments: