Tuesday, November 27, 2012

PENIPU CINTA 4.

"Itulah beberapa, tulisannya kepadaku". Mang itu sebahagian yang tersisa, yang kebetulan belum aku hapus". Tarman terus membaca kembali tulisan itu, seperti ada sesuatu yang begitu mendalam dan penuh arti dalam hati dan fikirannya.
"Wah kamu hebat dong, dicari setelah di duapulah tiga tahun, dan ia mengungkapkan perasaannya secara hebat, mendalam dan sepertinya ia benar-benar mencintaimu?".
"Iyo mang, selama ini aku menganggap aku bertepuk sebelah tangan."
"Kenapa?"
"Iya aku mengeja-eja, hubungan kami dulu antara ada dan tiada, yang seperti puisi karya Nia Hidayati berikut". Sambil membacakan puisi itu penuh penghayatan.


Sekian hari menapaki hatimu
tak pernah sama kumengertimu
selalu saja tersisip tanya dalam ketermanguan bisu
mengapa dan ternyata seringkali bercengkrama
dalam irama air mata

Dari titik nol kuartikanmu

perlahan ada, tereja dan tersketsa
menjalin huruf-huruf ketulusan
merangkai kata keindahan
di lorong panjang sunyiku
yang semakin tak biasa

Dari A sampai Z tentangmu

semakin fasih kueja…semakin dalam kurasa
hingga ku mampu menuliskanmu
di lembar-lembar cerita hati

Setelah sekian waktu

bercinta dengan hatimu
bersahabat dengan hadirmu
masih banyak koma antara kita
meski rasa yang kita punya… tiada beda

Masih ada aksara

yang tersisa di tepi asa
untuk kita saling mengeja cinta

"Selama kuliah dulu, kami dekat tapi tak pernah jalan berdua, aku tak pernah kerumahnya, tak pernah membicarakan hubungan kami, walau kami dekat. Kedekatan yang tak jelas itu dan perkawainannya, malah menjadi tertawaan sahabat-sahabatku, tapi aku waktu itu acuh karena aku merasakan sesuatu yang indah jika mendengar, menyebut namanya serta begitu nyaman jika berdekatan dengannya". 

"La.. itu tulisannya, tentang perasaannya kepadamu, coba simak...kamu seperti magnet begitu kuat menarik"
"Itu dia masalahnya mang". Ujarnya lemah.
"Cinta itu anugrah, tak boleh disia-siakan"
"Hal itu kami sepakati mang, dalam email yang pernah kami tulis bersama, tapi dia tiba-tiba menghilang...seperti dulu lagi".


Bersambung....

No comments: