Saturday, September 15, 2012

EKONOMI RI NO.2 DUNIA.

Begitulah sebuah berita dihalaman muka Harian yang terbit di Kepulauan Riau, tentu saja Harian itu mengutip dari sumber yang terpercaya yaitu Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional sekaligus Kepala Bapenas. Prestasi hebat itu diraih sepanjang semester satu tahun 2012. Benar-benar hebat, Indonesia hanya kalah dari Negara China. Walaupun China angka pertumbuhannya diatas Indonesia namun sebenarnya persentase pertumbuhan ekonomi China menurun dari 8,1 menjadi 7.6 sedang Indonesia meningkat.

Sejatinya bagi pemerintah kenaikan pertumbuhan ekonomi itu sangat penting, karena akan semakin meningkat pula jumlah orang bekerja, meningkatnya jumlah orang bekerja maka diharapkan semakin berkurang pula angka pengangguran dan angka kemiskinan. Jadi pentingkan sekali bagi Pemerintah, tapi apakah peningkatan pertumbuhan ekonomi itu penting dan dirasakan oleh masyarakat luas Indonesia?.

Sebagai rakyat biasa, saya tak begitu merasakan pertumbuhan ekonomi itu, seberapapun besarnya angka pertumbuhan itu, sepertinya tidak berdampak apa-apa ke masyarakat luas, walaupun jumlah orang bekerja berkurang, jumlah pengangguran menurun tapi daya beli, akibat harga-harga yang tak terkontrol tidak mengurangi kemiskinan. 

Jumlah orang bekerja banyak, pengangguran berkurang tapi pendapatan mereka lebih kecil dari pada kebutuhan mereka, untuk memenuhi makanan bergizi saja, atau minimal yang layak saja tidak mampu. Harga terus melambung secara berulang-ulang setiap tahunnya: masuk bulan puasa, ketika hendak lebaran, hari raya haji, tahun baru, saat kenaikan gaji pegawai, serta peristiwa sengaja / rekayasa lainnya yang membuat harga terus melonjak dan tidak pernah turun. Sungguh banyak orang Indonesia walaupun bekerja tapi hidupnya ibarat "gali lubang tutup lubang" untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sementara gaji naik belum tentu ada dalam setahun, dan kalaupun naik jumlahnya sangat kecil sekali. Mereka tetap dalam pusaran kemiskinan walau ada kegiatan untuk tidak disebut menganggur. Kalau begitu yang namanya kemakmuran, keadilan sejahtera bagi seluruh rakyat Indonesia belum akan mendekat secara merata, tapi kemakmuran dan kesejahteraan hanya bagi pemilik modal dan pemilik kekuasaan saja atau bagi mereka yang memang sudah kaya sejak lama kaya dan makmur, sejak zaman Orde Baru.

Intinya bukan seberapa banyak orang bekerja, hebatnya penurunan angka pengangguran tapi bagaimana mengontrol harga seperti mengontrol BBM, atau seperti rokok yang ada bandrolnya, dari sabang sampai merauke hampir sama harganya. Semoga Indonesia semakin adil, makmur dan sejahtera secara merata, aamiin.

No comments: