Wednesday, March 14, 2012

DUKU, NASIBMU KINI.

Duku, adalah salah satu buah andalan dari Sumatera Selatan. Orang diluar Sumatera Selatan (Jakarta, Bandung, Subaya, Batam...dan seterusnya) sering menyebutnya DUKU Palembang. Padahal di Palembang tidak ada pohon Duku, kalaupun ada pohon-pohon yang di tanam dikota Palembang tidak akan mampu menghasilkan / memasok duku diberbagai kota besar di Indonesia seperti saat ini. Lalu kenapa pula, orang menyebutkannya duku Palembang. Banyak pula pedagang yang mengambil manfaat ketenaran Duku dari Sumatera Selatan (Duku Palembang) dengan menyebut duku yang ia jual duku Palembang, padahal bukan dari Palembang.

Duku yang kita kenal dan disuka serta yang kita sebut Duku Palembang sebenarnya, bukan dari Palembang  tapi dari daerah Komering Ulu, salah satunya dari Desa saya Banding Agung, Kecamatan Madang III, Ogan Komering Ulu Timur (Diberbagai daerah sebetulnya banyak ditumbuhi duku yang juga dikenal/disebut langsat). Penambahan kata Pelambang sesungguhnya hanya untuk memudahkan para penjual guna mengidentifikasi asal daerah, Palembang adalah kota yang terkenal, mudah disebut dibanding jika menyebut Komering atau nama desa dari sekian banyak penghasil duku di daerah Komering Ulu sana. Kalau di Palembang sendiri tidak disebut 'Duku Palembang' tapi duku 'Komering'.

Duku adalah jenis buah yang banyak manfaatnya mulai dari kulit batang, kulit buah, dan biji buah. saya ingat dulu ketika masih kecil kalau aku demam, diambilkan kulit pohon duku lalu direbus dan airnya diminum. Hebatnya lagi duku itu seberapa banyak yang kita makan Insya Allah tidak sakit perut  atau diare, bijinya yang pahit adalah obatnya. Selain itu makan duku itu seperti makan kacang atau kuaci tak akan berhenti sampai habis. Duku walaupun kulitnya sudah menghitam atau kulitnya sedikit membusuk biasanya isinya, tidak ikut busuk. Tapi itulah salah satu kendala sehingga duku tak bisa 'go internasional'. Penampilannya cepat sekali berubah.

Sebetulnya duku hingga kini masih banyak yang mencari dan menyukainya, namun nasibnya sekarang mulai anak tirikan oleh orang komering. Kalau dulu duku selalu ditunggu-tunggu untuk berbuah kini tidak lagi. Kalau dulu diharapkan sebagai penghasil tambahan kini tidak lagi. Kalau dulu pohon duku dipelihara dan kalau bisa diperbanyak kini tidak lagi. Bahkan ada orangtua yang mampu naik haji karena duku, ada anak sekolah karena duku. Duku mulai terpinggirkan, Kenapa?..Pohon karet penghasil getah kini penyebab duku dianak tirikan, Pohon karet kini menjadi primadonna seiring harganya yang baik, melonjak atau setidak-tidaknya stabil. Setiap 2 minggu mereka bisa berjualan karet dan hasilnya jelas, sehingga banyak yang sudah menjadi kaya akibat karet. Harga karet mengikuti kurs dollar Amerika, jadi harganya hebat bahkan kini perkilo sekitar 20 ribuan.

Bandingkan duku, yang berbuah setahun sekali, itupun belum tentu lebat, dan harganyapun tidak sebanding dengan harga getah karet, duku paling berkisar Rp, 5000-an perkilonya dikampung kami. Belum lagi masa segarnya buah duku tidak lama/singkat sekali, kulitnya akan segera menghitam bahkan membusuk. Konon memanennya juga sekarang lebih sulit karena pohon duku itu besar dan tinggi.

Kini sangat jarang orang Komering menanam atau memperbanyak pohon duku, yang ada saja dibiarkan karena pohon-pohon yang ada adalah warisan nenek moyang yang sudah berusia hampir seratur tahun. Mereka tidak mungkin menebang tapi tidak pula memperbanyaknya. Tidak pula difikirkan bagaimana agar buah duku masa segarnya bisa bertahan lama. Duku kini nasibmu menjadi anak tiri.

No comments: