Wednesday, May 18, 2011

TIDAK LAMA LAGI, BUSANA TIDAK DIPERLUKAN?.

Mengikuti tren mode pakaian lazimnya, mengikuti asas cocok, pantas atau layak untuk dipakai. Misalnya cocok dengan bentuk tubuh atau warna kulit, pantas dengan usia, layak dengan kondisi sosial budaya atau lingkungan.

Namun kini mengikuti tren pakaian yang sedang populer, tidaklah begitu penting apakah hal itu cocok, atau tidak, pantas atau  tidak layak atau tidak layak. Pergerseran nilaipun sudah berlangsung, orang begitu takutnya untuk disebut 'ketinggalan zaman', 'kuno', dan bahkan takut disebut 'zadul' (zaman dulu). Lihatlah sekarang lagi tren celana pendek untuk wanita. Dulu wanita Indonesia malu menggunakan celana pendek, apalagi menggunakan celana pendek itu untuk keluar rumah, misalnya kerumah tetangga, ke pasar, jalan-jalan, apalagi ke pusat-pusat perbelanjaan seperti mal. Bercelana pendek dulu hanya monopoli kaum pria. Kalau R. A KARTINI hidup lagi mungkin ia menangis lihat wanita Indonesia sekarang.

Sekarang sudah berbeda, bercelana pendek tidak lagi monopoli kaum pria. Wanita dengan berbagai usia, berbagai postur tubuh, dan dengan berbagai warna kulit dengan mudahnya kita temui diberbagai tempat bercelana pendek diatas lutut bahkan ada yang super pendek. Ada yang mulus kulitnya ada juga sebaliknya, ada yang putih ada juga yang sebaliknya, ada yang muda namun ada juga yang lumayan berumur.

Artinya wanita bercelana pendek yang banyak ditemui dimanapun itu, tidak lagi peduli apakah itu cocok, layak atau pantas yang penting ikut tren. Tren busana memang begitu, bahkan  terkadang meniadakan rasa malu. Celakanya lagi tren busana sulit ditebak, bisa semakin aneh, semakin minim-maksudnya celana itu bisa saja lama-kelamaan seperti celana dalam alias CD, bisa juga semakin terbuka, bisa juga menabrak norma-norma, menabrak sopan santun, menabrak sosial budaya,  yang dianut, atau bahkan menghilangkan aturan kepercayaan atau agama yang dianut pemakai busana itu sendiri. Sehingga tidak lama lagi busana tidak diperlukan, karena dianggap tidak praktis dan tidak ekonomis. Cukup membeli cat pewarna untuk menutupi bagian-bagian tertentu saja, itupun jika masih ada rasa malu, kalau tidak ada rasa malu,  telanjang Anda tidak percaya?, di Inggris sudah ada sebuah perusahaan IT yang mewajibkan karyawannya telanjang baik pria maupun wanita.

Para wanita-wanita itu seolah berpakaian, tapi sesungguhnya mereka, tidak berpakaian. Ternyata benar untuk menghancurkan suatu kaum, tidak perlu dengan perang terbuka, cukup dihancurkan sosial budayanya.
Enhanced by Zemanta

No comments: