Monday, July 13, 2009

Kisah Pulau Setahun dan Tebu





Ketika menggali cerita tentang Tanjung Taluk/Talok dari Pak Abdul Kadir S keturunan kelima Tuk Said sang pembuka desa Tanjung Taluk. Saya mendapatkan cerita (mungkin bisa disebut dongeng) tentang sebuah pulau. Pulau kecil kira-kira seukuran rumah tipe 45 itu persis dibelakang rumah pak Abdul Kadir S. Dulu jarak antara pulau setahun dengan daratan ini (desa Tanjung Taluk) atau kerumah saya ini sangat dekat, ya paling-paling 15 meter dan arusnya sangat deras. Tapi sekarang jarak daratan dengan pulau setahun itu melebihi 75 meter akibat erosi baik pada daratan maupun di bagian pulau setahun. Kenapa disebut Pulau setahun?, kata saya penasaran. Saye dan kami para tetua di Tanjung Taluk ni tak ade yang tau pasti dan panjang lebar mengenai kisah pulau setahun tu, hanye sikit aje, ujarnya dengan logat melayu yang kental.

Dulu ada seorang pandir yang ingin mengelilingi pulau itu dengan sebuah perahu yang lumayan besar dengan bermuatan batang tebu yang cukup banyak sekaligus dijadikan sebagai alat dayung perahu itu, tidak jelas kenapa pakai tebu. Namanya tebu tidaklah sekuat bambu sering patah dan perjalanan si pandir selalu terhambat, namun ia tak pernah mengurungkan niatnya apalagi berputus asa. Ia terus berusaha untuk mengelilingi pulau itu, bahkan ia tak ingin menghentikan barang seharipun.

Terus saya tanya kalau dia tidak mengentikannya barang seharipun, bagaimana ia makan, mandi dan minum atau beristirahat, saya coba menyela karena penasaran. Namenye dongeng/cerite yang logis umumnye tak dipakai, mungkin logis dulu dengan logis sekarang tidak same. Makan, minum dan istirahat saye fikirpun adelah,. Die terus melakukan itu setiap hari walau tanpe bantuan orang laen atau mengganti tebu dengan bambu, apelagi disini bambu dulu memang belum ade. logat melayunya kembali muncul. Kemudian ia menyindir saya kalo dulu anak-anak saat didengarkan dongeng/kesah hanya duduk mendengar, terime aje, lain dengan anak-anak sekarang, bise memotong/menyele, sayepun jadi malu dan diam aje..ikut sikitlah logat melayu.

Mendekati beberapa hari menjelang setahun mengelilingi pulau itu si pandir tetap terus mengayuh dengan semangat karena ia merasa hampir mendekati tempat ia pertama berangkat, tebu yang ia pakai untuk mengayuh kembali patah namun kali ini tebu itu mengeluarkan percikan air yang mengenai bibirnya dan ia rasakan manis. Lalu sang pandir menggigit sisa patahan tebu ditangannya perlahan-lahan, ia benar-benar merasakan hal baru yang benar-benar manis dan menyegarkan hingga semangatnya kembali luar biasa. Ia menjerit ia berteriak girang kepada orang kampung bahwa alat dayung yang pakai bisa mengeluarkan air manis.

Sang pandir terus mengayuhkan perahunya dengan tebu-tebu yang tersisa dan akhirnya genap setahun ia mengelilingi pulau itu, maka akhirnya pulau itu disebut Pulau Setahun hingga hari ini, sejak itu juga dikenallah tebu sebagai salah satu tanaman yang bermanfaat bagi manusia yang menyegarkan, mampu mengembalikan semangat/energi, daya tahan dan sebagai bahan pembuatan gula.

Kire-kire begitulah, sayepun tak pandai sangat bercerite. Kesah inipun turun temurun, dari mulut kemulut tidak pernah ade pencatatan atau dibukukan. Saye berharap kesah ini dapat dijadikan dongeng yang tercatat dan menjadikan bahagian yang tak terpisahkan dari Tanjung Taluk. Dengan ditulis kelak keturunan kami, orang-orang luar dapat mengetahuinya, semoge ade manfaatnye, ujarnya mengakhiri kesah.

Kolubi Arman

No comments: