Friday, July 10, 2009

ATUK SAID




Sang Pembuka Tanjung Taluk

Hari Rabu pagi 08 Juli 2009, sebelum pergi ke TPS untuk menyontreng pemilihan presiden Indonesia, saya menyempatkan diri ke Desa Tanjung Taluk/Talok (cara penulisan sama-sama benar) Kecamatan Seri Kuala Lobam-Kabupaten Bintan-KEPRI. Saya bersama anak pertama saya Nabila Khansa menemui keturunan kelima Atuk Said yaitu Bapak Abdul Kadir S (62) (ia minta disebutkan lengkap pakai S karena Abdul Kadir ada beberapa orang disini ujarnya),. Siapa Atuk atau biasa disingkat Tuk Said. Menurut Pak Abdul Kadir S beliaulah yang pertama sekali membuka Tanjung Taluk ini ratusan tahun yang lalu. Waktu itu Tuk Said melihat Tanjung Taluk terpesona dengan pepohonan dan tanaman lainnya yang sangat menghijau dan subur. Lalu Tuk Said memutuskan untuk membuka Tanjung Taluk dan menetap serta memulai kehidupan dengan menanam banyak tumbuhan seperti durian, mangga, manggis, rambai, tebu dan banyak lagi, singkatnya berkebunlah…na… kalau motif utamanya berkebun tentu Tuk Said bukan seorang nelayan. …makamnya ada disana sambil menunjuk lokasinya.
Tuk Said sendiri tidak diketahui asal muasalnya ujarnya, bisa di pahami karena dulu memang hal itu bukan perkara penting dan kamipun sebagai keturunannya lalai tidak mencoba menelusuri dan mencatatnya. Lalu pak Abdul Kadir menunjukkan kepada saya Tanjung dan yang mana bahagian Teluk. Pak Abdul Kadir S sedikit berlogika dengan mengaitkan nama Desa Tanjung Taluk, bila dikaji Taluk untuk menyebutkan Teluk dalam bahasa Melayu tidak ada, bahasa melayu tetap menyebut teluk, ujarnya. Lalu mengapa menjadi taluk inilah yang menjadi pertanyaan besar bagi saya, jika merujuk kebahasa lain untuk kata Taluk lebih mirip ke Bahasa Padang ujarnya, mungkinkah Tuk Said keturunan Padang?, matanya menatap jauh menerawang, berfikir namun tak pasti dengan logikanya sendiri.
Untuk Said sendiri menurut pak Abdul Kadir S biasanya keturunan raja-raja/ningrat atau berdarah biru, tidak sembarangan orang diberi nama Said dan bisanya pasangannya adalah Syarifah yang juga keturunan. Kalau dia seorang keturunan/ningrat yang menjadi pertanyaan selanjutnya mengapa Tuk Said memutuskan / mau ke Tanjung Taluk/Talok ini tanpa keluarga, sanak famili lainnya. Ada apa dengan keputusannya itu…ah..saya jadi terus bertanya-tanya…ujarnya tertawa lepas namun penuh rasa penasaran, namun tidak ngotot. Jarinya terlihat ada tinta sebagai tanda sudah nyontreng, saya coba pancing siapa yang dipilihnya ia hanya tertawa tidak menjawab.
Tanah di Tanjung Taluk ini sebenarnya dulu milik Tuk Said semua, namun sekarang terus berkurang, saya sebagai keturunannya langsung sekarang hanya memiliki sedikit saja, bahkan rumah saya saja dibibir pantai, didepanya terdapat pulau kecil bernama Pulau Setahun. Faktor ketidakjelasan seperti batas-batas kebun, Tuk Said dan atuk-atuk saya dibawah Tuk Said tidak peduli jika ada orang numpang numpang berkebun (cuma numpang..mungkin dibiarkan supaya ada teman, maklum terpencil) sehingga lama kelamaan mengaburkan batas kebun dan tidak adanya bukti hitam putih. Faktor ekonomi juga menyebabkan Tanah Subur milik Tuk Said ini berkurang dan terus berkurang dimiliki para pemilik modal, ujarnya galau.
Tanjung Taluk ini sesungguhnya aset bagi pemerintah, harapan kami ada perlindungan agar tanah disini tidak berpindah tangan ke pemilik modal atau dibantu bagi peremajaan tanaman bernilai ekonomi seperti durian, rambutan, manggis dan sebagainya, pohon durian disini umumnya sudah ratusan tahun, bulan Juli adalah puncak dari penen buah-buahan, desa kami jadi ramai dikunjungi orang. Tanah yang subur di Tanjung Taluk ini tidaklah luas sebelah timur bebatasan dengan hutan bakau, sebelah barat hutan bakau dan tanah bouksit, sebelah utara juga berbouksit sedang sebelah selatannya laut. Tulisan ini berharap bermanfaat atau menjadi pemicu bagi memperjelas sejarah sebuah desa Kecil di Bintan, khususnya Tanjung Taluk.

Kolubi Arman

No comments: