Friday, January 18, 2013

'AUTO PILOT' Tubuh Kita.

Seperti biasa saya setiap hari kecuali hari Minggu mengantar anak-anak ke sekolah. Begitu juga hari ini pagi tadi saya mengantar anak sekaligus berangkat kerja, hal itu sudah berlangsung lama. Biasanya anak saya yang kedua (SD) di antar ke sekolah terlebih dahulu, karena lebih dekat dan harus dilewati terlebih dahulu baru kemudian dilanjutkan ke sekolah anakku yang pertama di SMP.
Hari ini anak yang kedua saya tak ikut, karena ia hendak diantar oleh Bundanya. Mengapa tulisan ini harus ada. Ketika tiba di persimpangan, secara otomatis kendaraan saya belokkan ke arah sekolah anakku yang kedua (SD), saya dan anak saya yang pertama tertawa spontan atas kejadian itu, karena kami menyadari bahwa anak kedua kami tak ikut bersama kami.
Kenapa hal itu bisa terjadi?, saya bukan tidak menyadari kalau anak kedua saya tidak ikut. Saya sadar dan mengetahui secara pasti saat berangkat bahwa anak kedua saya tidak ikut. Mengapa saya membelokkan kendaraan seperti 'auto pilot' atau otomatis? menuju sekolah anak saya (SD). Saya heran dan sekaligus tertawa atas kejadian itu. Saya yakin kejadian serupa banyak menimpa orang (mungkin tidak berkedaraan tapi peristiwa lain).
Apa yang setiap hari kita lakukan dan terus-menerus berlangsung lama, menjadi suatu kebiasaan, kebiasaan itu menjadikan semua proses  'auto pilot' / otomatis, otak kita merekam secara baik hal itu. Kita benar-benar mahir, hafal, seluruh anggota tubuh, panca indera seperti mata, telinga, gerakkan, hati dan otak kita bergerak seolah tanpa komando, mengalir seperti air, bahkan mungkin konsentrasi kita tidak penuh pada apa yang sedang kita kerjakan, karena semua sudah 'auto pilot'. Saya tidak tahu persis istilah akademiknya, tapi saya yakin peristiwa ini dikenal dalam suatu disiplin ilmu.
Na..ketika terjadi sedikit perubahan, terhadap tahapan proses dari apa yang kita lakukan selama ini maka kita akan melakukan semua tahapan dan proses sama persis seperti sebelum ada perubahan apapun, itulah yag sama persis yang terjadi sama saya tadi pagi.
Peristiwa itu tidaklah memiliki nilai cerita apapun, terlalu sederhana. Namun percaya atau tidak. Sesungguhnya cara-cara itu bisa dipakai untuk mengungkapkan peristiwa-peristiwa penting, seperti kejahatan, atau usaha untuk membentuk budaya baru menghancurkan budaya lama, atau untuk membentuk / menggiring opini / persepsi orang.
Contoh yang paling mudah adalah media Televisi dan Iklannya. Tayangan sebuah acara / iklan, tulisan, pesan yang terus menerus dan berlangsung lama akan mempengaruhi opini / persepsi orang. Lihat tayangan yang terus menerus dan lama mengenai kasus korupsi anggota sebuah partai, membuat popularitas partai itu merosot tajam, orang semakin tidak percaya kalau partai itu pelopor anti / pemberantas korupsi. Hancurlah secara perlahan nama baik partai itu.
Kebiasaan khalayak / orang banyak bisa digiring dan dibentuk untuk tujuan tertentu, sehingga partai politik, politikus, sadar betul tentang hal itu, maka harus sering-sering 'narsis' ditelevisi, supaya dapat untung?, supaya mencapai tujuan?.

No comments: