Wednesday, January 18, 2012

BERTEMU SETELAH 35 TAHUN.

Tadi malam tanggal 17 Januari 2012, HPku berbunyi setelah kuangkat, ternyata seorang saudaraku mengajak ke sebuah hotel mewah di Jodoh-Batam. Katanya ada saudara menginap disana, dan kalau mau ketemu harus malam ini karena besok pagi sudah harus kembali pulang. 

Bergegaslah aku menuju hotel dimaksud, sampai di lobby  hotel kami langsung ketemu dan bersalaman, sang saudara tentu saja tak mengenalku, akupun memahami itu dan langsung menyebut nama dan iapun langsung mengingatku, dan kami langsung diajak ngobrol dikamarnya. Namanya Turmuzi tapi orang dusun kami lebih mengenalnya dengan panggilan Wawi, tak banyak yang mengetahui namanya yang sebenarnya, saya tadi malam mengetahuinya. Sayapun kalau ketemu / tabrakan badan dijalan mungkin juga tak akan mengenalnya.  Kenapa begitu???. 

Tahun 1977 adalah pertemuan kami yang terakhir kalinya, itupun sebentar. Waktu dikampung Banding Agung-Sumatera Selatan, aku masih kecil, kelas 4 SD sedang ia waktu itu sudah merantau sekolah di Plaju-Palembang dan akhir 1977 itu sayapun mulai merantau ke Aceh, hingga kini kami masih sama-sama merantau ia sejak tahun 1980 merantau ke Ambon dan aku di Batam. Artinya kami telah tidak bertemu 35 tahun lamanya. Kebetulan ia ke Batam ada rapat seluruh transmigrasi (provinsi dan Kabupaten) se Indonesia yang dihadiri oleh Muhaimin Iskandar.

Beberapa hari yang lalu memang ada seorang teman yang mengatakan saya bakal ketemu saudara, itu dia sebut sehubungan dengan keluhan pada mata kiriku yang bergetar-getar terus selama beberapa hari. Entah ada hubungan atau tidak yang jelas saya memang bertemu saudara sekampung dan bertetangga dekat. Kini ia sudah menjadi orang hebat di Ternate-Halmahera sana, sebagai kepala Dinas Transmigrasi, jika menyimak ceritanya memang hidup ini tidak bisa dibayangkan apalagi ditebak, bayangkan saja sebetulnya katanya ia berkali-kali menolak dijadikan kepala Dinas dan tak mengejar hal itu. Iapun tak menyangka jika Allah  SWT menitipkan lagi satu anak, padahal tidak direncanakan dan jaraknya jauh sekali dengan kakak-kakanya. Kelihatan ia lebih mampu mengontrol emosi, sikap dan tutur kata, apakah merantau paling jauh dan tak ada sanak famili membuatnya bisa seperti itu. Orang kampung kami merantau paling jauh kearah timur ini orangnya. Dan yang paling mengejutkan ia begitu kuatnya merokok serta masih dengan baik berbahasa kampungku bahasa komering.

Ah entah kapan lagi, kami bisa ketemu, dengan saudara yang begitu tenang dengan suaranya yang sangat berat. Pertemuan itu terasa begitu singkat dan rasanya belum puas, akhirnya pukul 23.55 saya dan saudara pamitan padanya, katanya Insya Allah bulan April nanti kami akan ada rapat lagi di Batam semoga bisa bertemu lagi, Semoga.

No comments: