Wednesday, September 7, 2011

SUSAHNYA MENEMUKAN RITUAL BUDAYA ALA SUMSEL.

Bertahun-tahun merantau, meninggalkan tanah kelahiran Sumatera Selatan. Saya masih membanggakannya, namun rasanya kurang begitu lengkap kebanggaanku, karena betapa sulitnya menemukan ritual budaya ala Sumatera Selatan, dan atau peninggalan Kerajaan Sriwijaya yang hingga kini masih dijalankan oleh masyarakat Sumatera Selatan, baik yang di Sumatera Selatan sendiri maupun yang diluar Sumatera Selatan.

Untuk memperjelas maksud saya, mari kita simak ritual orang Jawa, seperti memperingati 1 Muharam (satu  suro), hari raya ketupat, genongan, dan masih banyak lagi. Padang misalnya mereka memiliki tradisi mandi balimau dalam rangka menghadapi bulan ramadhan. Bali sungguh banyak memiliki ritual budaya sehingga hampir disepanjang tahun selalu menjadi daya tarik bagi wisatawan dari luar Bali. Ambon Juga memiliki ritual seperti tari bambu gila, Nah kira-kira seperti itu yang sulit ditemukan bahkan mungkin tidak ada di Sumatera Selatan. Kalaupun ada ritual budaya yang dilaksanakan tidak mengakar secara kuat, maksudnya bukan ritual yang dilaksanakan secara merata diseluruh wilayah Sumatera Selatan oleh Warga dan setiap tahun dilaksanakan.

Kenapa begitu?, karena memang orang-orang Sumatera Selatan bukanlah orang-orang yang kuat hidup berkelompok dan bekerja sama, sehingga sosial budaya dan ritualnya tidak muncul kepermukaan. "Sosial budaya muncul karena berkelompok dan bekerja sama tanpa itu tidak akan terbentuk sebuah ciri khas sosial dan ciri khas budaya". Orang Sumatera Selatan boleh dibilang individualistik, kekeluargaannya mungkin kuat tapi kebersamaan sangat kurang. Mereka banyak bahkan mungkin merata diberbagai daerah tapi mereka tidak terlihat, tidak tampak kepermukaan. 

Coba simak ciri khas sosial budaya ala Sumatera Selatan (lagu dan tarian contoh sederhananya), bisakah anda temukan secara mudah, baik itu dimedia televisi, koran, majalah atau media lainnya, seperti anda dengan mudah menemukan ciri khas sosial budaya Jawa, Padang, Batak, Bali. 

Sebuah kelompok warga, suku akan sangat kuat, karena kuatnya sosial budayanya yang mereka pegang teguh dan jalankan. Coba lihat Jepang, hanya minum teh, menjadi sebuah budaya yang kuat dan mengakar dan dihormati oleh berbagai bangsa diluar Jepang. Bisakah Sumatera Selatan menjadikan empek-empek tidak hanya sebagai produk makanan tapi menajdi ritual budaya yang sangat dijunjung tinggi dan dihormati oleh orang diluar Sumatera Selatan. Maksudnya seperti minum tehnya ala Jepang. Ini baru satu contoh, semoga menjadi renungan dan bermanfaat.

No comments: