Friday, September 23, 2011

APEK MENJADI PEMPEK / EMPEK!?.

Mungkin masih ada yang belum tahu sejarahnya Pempek atau empek-empek, pempek telah ada di Palembang sejak masuknya perantau Cina ke Palembang, yaitu di sekitar abad ke-16, saat Sultan Mahmud Badaruddin II berkuasa di kesultanan Palembang-DarussalamBerdasarkan cerita rakyat, sekitar tahun 1617 seorang apek berusia 65 tahun yang tinggal di daerah Perakitan (tepian Sungai Musi) merasa prihatin menyaksikan tangkapan ikan yang berlimpah di Sungai Musi yang belum seluruhnya dimanfaatkan dengan baik, hanya sebatas digoreng dan dipindang. Ia kemudian mencoba alternatif pengolahan lain sehingga dihasilkan makanan baru. Makanan baru tersebut dijajakan oleh para apek dengan bersepeda keliling kota. Oleh karena penjualnya dipanggil dengan sebutan "pek … apek", maka makanan tersebut akhirnya dikenal sebagai empek-empek atau pempek. Wah....jadi tambah penasaran???....betulkah itu, bisa jadi!?. Sebenarnya sulit untuk mengatakan bahwa pempek pusatnya adalah Palembang karena hampir di semua daerah di Sumatera Selatan memproduksinya.

TURUNAN PEMPEK.
Dari satu adonan pempek, ada banyak makanan yang bisa dihasilkan, bergantung baik pada komposisi maupun proses pengolahan akhir dan pola penyajian. Di antaranya adalah LaksanTekwanModel,dan Celimpungan. Laksan dan celimpungan disajikan dalam kuah yang mengandung santan; sedangkan model dan tekwan disajikan dalam kuah yang mengandung kuping gajah, kepala udang, bengkuang,serta ditaburi irisan daun bawang, seledri, dan bawang goreng dan bumbu lainnya. Varian baru juga sudah mulai dibuat orang, misalnya saja kreasi Pempek Susan di Jelambar yang membuat pempek keju,pempek baso sapi, pempek sosis serta pempek lenggang keju yang dipanggang di wajan anti lengket, sumber wikipedia.

Karena begitu merakyatnya makanan ini hampir disetiap sudut kota di Palembang dan tempat-tempat lainnya di Sumatera Selatan, maka tidak heran Palembang disebut kota pempek. Makan pempek tidak mengenal waktu bagi orang SUMSEL/Palembang; pagi, siang, sore, malam, sahur, bahkan buka puasa. Boleh sekali dan bahkan boleh berkali-kali, karena candunya mereka pada pempek.

Ini adalah salah satu produk budaya Sumatera Selatan yang sangat terkenal diseluruh Dunia Indonesia, tidak ada yang berani mencoba membuat pempek ala papua misalnya, seperti sate ala Padang, Jawa, Madura dan lainnyo,..eh lainnya. Saya pernah melihat toko pempek di Plaju yang paling terkenal itu, mengbungkus pempek dalam 11 kotak kardus untuk H. Rhoma Irama (si raja dangdut-sayang aku tak bisa nyanyi, kalo bisa aku sudah jadi pangerannya..hehehe) ke Jakarta pada satu waktu Lebara, kenapa begitu karena ia ingin dari asli dan dan yang paling enak untuk para tamu-tamunya. Alhamdulillah hanya monopoli 'wong kito'. Ayo masih banyak produk sosial budaya yang patut dikembangkan dan digali di SUMSEL sehingga semakin kaya khasanah sosial budayanya. Joljok, pindang misalnya. Jadi teringat Ibu saya dulu kalo masak pindang, untuk melengkapi isi pindang itu dipakailah ubi kayu muda-mungkin karena belum dikenal kentang, cukup enak....Jadi ngiler pula. 
Enhanced by Zemanta

No comments: