Monday, September 26, 2011

Kemiskinan itu Objek.

Kemiskinan itu harus dipelihara, harus tetap ada untuk diobjekkan.
Tanggal 23 September 2011, saya kedatangan secara berturut-turut, dua calon Ketua RW berikut timnya. Intinya mereka memohon bantuan serta dukungan saya dalam pemilihan Ketua RW yang akan dilaksanakan tanggal 25 September 2011 yang akan datang.

Kenapa saya menceritakan, hal kedatangan tamu,... biasa saja lagi. Ini agak unik, kenapa?, karena walaupun tempat tinggalku perumahan cluster, namun RT dan RWnya masih mengikuti RW dan RT diperumahan liar yang ada persis disamping perumahanku. Na..karena bakal ada pemilihan ketua RW warga diperumahanku ikut dilibatkan sehingga mau tak mau para calon harus bertandang untuk mensukseskan diri masing-masing.

Dari cerita-cerita para calon dan tim yang menyertai, sepertinya memang harus ada perubahan-perubahan, karena ternyata selama ini banyak bantuan-bantuan untuk warga perumahan liar itu yang umumnya digolongkan tidak mampu. Mereka tidak puas terhadap distribusi bantuan-bantuan itu karena tidak merata dan yang dapat hanya itu-itu saja. Tidak transparan jumlah bantuan dan jumlah yang dibantu. Ada yang mengaku sudah 5 kali diminta mengumpulkan photocopy KTP dan Surat Nikah, namun hingga hari ini tidak pernah mendapatkan bantuan itu. Semua cerita-cerita itu berujung pada RT yang sedang mencalonkan jadi ketua RW. Sesungguhnya terkadang bantuan-bantuan itu cukup melimpah apalagi dari calon-calon anggota DPR, namun entah kemana bantuan-bantuan itu?.

Penggolongan ketidakmampuan warga yang menetap di RULI itu terkadang perlu dipertanyakan, kenapa?. Secara umum rumah saja yang kelihatan miskin, karena terbuat dari kayu, papan, serta bahan lainnya yang seadanya. Padahal banyak diantara mereka memiliki motor lebih dari satu buah (bagus-bagus lagi), punya mobil bahkan punya rumah permanen diperumahan tertentu. Disebut miskin juga rasanya kurang layak karena untuk iuran arus listrik yang hanya menyala dimalam hari dari 'genset' saja mereka harus membayar tidak kurang dari Rp 120.000,- per bulan. Bahkan diantara mereka ada yang harus membeli air setiap hari untuk kebutuhan sehari-hari yang pergalonnya dibayar Rp 8000,-.Umumnya pekerjaan mereka jelas, dan hanya beberapa saja yang serabutan/kuli bangunan, bahkan sehari-harinya memborong bangunan dan atau renovasi rumah. Jadi sebenarnya mereka bukanlah miskin seperti yang kita bayangkan, yang tidak makan untuk beberapa hari, mereka itu mengenal dan merasakan makanan enak seperti ayam penyet bahkan kita bisa menemukan kotak KFC diplastik sampahnya, pakaian yang compang camping bahkan bermerek.

Menurut mereka bantuan-bantuan itu setiap tahun pasti ada, dari program pemerintah pusat, dari program Pemko Batam, menjelang hari raya puasa serta ketika Pemilu tiba dari calon-calon anggota dewan, calon-calon walikota. Mereka senang, dan terus berharap. Kemiskinan itu menjadi objek dari kalangan tertentu untuk mencapai sesuatu. Kemiskian itu dimanfaatkan orang-orang untuk meraih cita-cita menuju tingkat yang lebih tinggi dan lebih prestisius. Kemiskinan adalah pekerjaan orang-orang tertentu untuk mendapatkan uang.

Jadi kemiskinan itu tidak boleh hapus atau hilang bahkan kalau bisa tidak boleh menurun. Kriteria miskin saja yang dirubah-rubah sehingga seolah kemiskinan menurun, menurun ke anak cucu. Jika kemiskinan hapus/hilang bahkan menurun akan menghilangkan merusak cita/cita, menghilangkan pekerjaan dan pendapatan orang tertentu, kemiskinan itu harus dipelihara, harus tetap ada untuk diobjekkan.

No comments: