Saturday, September 17, 2011

ROKOK.

Hasil Survey Jumlah Perokok Wanita Lebih Banyak dari Perokok Pria?..
Masih ingat dengan peringatan pemerintah mengenai bahaya rokok. Itu yang biasanya di tulis pada setiap bungkus rokok. PERINGATAN PEMERINTAH: MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI, DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Kesannya sebuah gagasan kreatif dan bertanggungjawab.

Namun pernahkan pemerintah melakukan evaluasi terhadap efektifitas peringatan itu?. Ya..sekarang memang semakin berkurang tempat-tempat umum yang diperbolehkan untuk merokok, perokok semakin dilokalisir, tidak bebas seperti dulu lagi. Namun percaya atau tidak jumlah perokok bukannya semakin berkurang, tapi semakin meningkat, pabrik rokok juga semakin menjamur. Pemasukan untuk pemerintah tentu semakin menggiurkan?. Rokok palsupun bertebaran, yang tanpa cukaipun / selundupanpun bertebaran, weleh,weleh.

Dilematis dan mendua. Menduanya apa?...pemerintah seolah bertanggungjawab pada kesehatan rakyatnya dengan peringatan itu, maka lahirlah peringatan itu disetiap bungkus rokok, pemerintah sebenarnya sekedar mengggurkan kewajiban. Namun disisi lain pemerintah tentu tak ingin kehilangan sumber pendapatan dari cukai rokok dan tidak ingin meningkatnya pengangguran akibat pabrik rokok yang gulung tikar. Maka pemerintah selalu berkelit biarlah rakyat memilih dan menentukan sikapnya sendiri, toh rakyat sudah pintar dan dewasa. Kalau sudah ini kalimatnya sesungguhnya rasa kepedulian dan rasa tanggungjawab itu otomatis hilang.

Hasil sebuah survey menyebutkan jumlah perokok wanita ternyata lebih banyak dibanding jumlah perokok pria dizaman sekarang, bahkan mereka menyebutkan persentasenya sekitar 60% dan 40%. Namun hasil survey ini patut dicurigai karena survey itu tidak membedakan jenis rokok, seperti rokok kretek, filter dan rokok kulitpun ikut disurvey yang biasa lebih banyak wanita pakai dizaman sekarang ini?????. Haaahhh.

Sayangnya rakyat miskin juga yang paling besar merugi akibat rokok itu. Coba bayangkan berapa pengeluaran mereka untuk rokok per minggu, per bulan per tahun. Dan sayangnya juga masih banyak yang tidak percaya pada peringatan pemerintah serta para dokter akan bahaya rokok. Ujar mereka kematian bukanlah karena rokok, tapi kerena ajalnya sudah sampai, ck...ck...ck...

Mungkin pemerintah perlu membuat kebijakan yang tidak mendua, tidak pula membuat pabrik rokok tutup, caranya buatlah harga rokok itu tinggi, misalnya satu bungkus Rp 80.000,-, Jadi yang memang kelebihan uang sajahlah yang merokok, yang memang sudah punya biaya / tabungan untuk biaya kesahatannya. Jadi pemerintah harus lebih tegas dan berani sehingga uang rakyat tidak terbuang ke hal-hal yang mubazir. Semoga menjadi pemikiran yang bermanfaat.

No comments: