Monday, December 20, 2010

POLISI HANYA LIHAT-LIHAT


Rabu tanggal 8 Desember 2010 itu saya tidak merasakan/punya pirasat buruk. Seperti biasa sekitar pukul 07 pagi saya sudah siap-siap menunggu jemputan untuk berangkat kerja, kebetulan Hpku lagi saya isi batereinya. Mobil jemputan datang, aku bergegas naik mobil depan rumah. Sekira pukul 08 pagi saya baru terasa kalau dipinggang saya cuma ada sarung HP alias Hpnya tertinggal dirumah, lalu aku menelpon ke Hpku semoga istriku bisa mengangkat untuk sekedar memastikan HP itu ada dirumah, nada sambung masuh tapi tidak diangkat, lalu aku coba menelpon ke nomor HP istriku juga tidak diangkat, rupanya ia berada dijalan, tak mendengar Hpnya berbunyi.

Sekitar pukul 13 siang aku kembali lagi menghubungi Hpku, karena biasanya anakku sudah pulang dari sekolah. Nada sambung berbunyi tapi berakhir karena tidak diangkat, lalu kuhubungi lagi nada sambung ke empat dimatikan. Aku heran dan bertanya ‘bagaimana mungkin anakku bisa mematikan apa dimainkan?, mereka tidak ada yang tahu nomor pembuka Hpku, kuhubungi lagi, dimatikan lagi. Kebetulan saya belum mengingat nomor HP punya kedua anakku. Sekitar pukul 14 lagi-lagi aku hubungi Hpku, karena anakku yang pertama biasanya sudah sampai dari sekolahnya, tapi hingga panggilan ke tiga tidak juga bisa dihubungi. Aku masih belum curiga dan tidak berfikir negatif.

Pukul 17.30 saya tiba dirumah diantar sopir perusahaan, tidak ada suara TV atau suara anak-anakku. Lalu membuka pintu dengan kunci yang kubawa, ternyata grendel terkunci dari dalam. Aku berfikir kedua anakku sedang pulas tidur lalu aku memulai menggedor pintu dapur, pintu utama, jendela kamar berulang-ulang, semakin kuat karena maghrib menjelang, tapi tak juga dibuka. Azanpun berkumandang, lalu aku sholat maghrib di dekat perumahan jalan kaki. Setelah sholat aku lanjutkan lagi menggedor namun tetap saja tidak ada tanda-tanda ada anakku didalam.

Lalu akupun duduk diteras sambil menunggu istriku pulang. Tak berapa lama istri dan kedua anakku muncul, aku jadi bingung kenapa pintu bisa terkunci dari dalam karena kami semua berada diluar rumah dan istriku sudah yakin telah mengunci rumah secara baik pagi tadi. Saya masih belum berfikir negatif. Lalu aku bersama beberapa tetangga mulai mendobrak pintu masuk ke dapur, setelah beberapa kali didobrak ramai-ramai pintu itupun terbuka dan rusak. Istriku dan anakku yang pertama segera masuk, begitu membuka pintuk kebelakang tidak terkunci dan melihat kebelakang salah satu jendela sudah terbuka, mereka langsung menjerit “Yah pintunya terbuka”, aku langsung melihat dari dalam, ternyata teralisnya sudah tidak pada posisi semula, sudah rusak. Aku dan istriku, anakku pertama langsung memeriksa dalam rumah, HP (iphoneku) hilang, HP kedua anakku hilang, buka lemari kamera nikon D40ku juga lenyap, uang belanja istriku juga hilang, lemari pakaian acak-acakan, kami semua langsung lemas, tegang, pucat dan anak pertamaku menangis karena Hpnya hilang. Alhamdulillah Laptop tak hilang, serta jam tanganku. Sipencuri meninggalkan celana jean, tinja, tali pinggang serta cap telapak tangan didinding belakang yang lumayan banyak.

Aku diantar seorang tetangga melaporkan kejadian itu ke POLSEKTA Batam kota sekitar pukul 19.00, satu jam baru selesai diproses. Setelah itu akupun kembali kerumah bersama dua orang polisi, dan polisi itu hanya melihat-lihat sambil bertanya-tanya. Tidak mencoba mengambil / meneliti sidik jadi, tidak juga meneliti lebih dalam situasi, serta keadaan rumah saya, tidak juga mencoba menghadirkan anjing pelacak (sebetulnya lebih gampang karena ada celana yang ditinggal). Setelah melihat dan memberi nasehat mereka pulang membawa celana jean milik maling dan tak pernah kembali lagi. Saya tak begitu yakin itu adalah cara standar polisi dalam meneliti, memproses tindakan pencurian seperti yang saya alami. Kalau melihat dan merasakan apa yang dilakukan polisi itu. Saya tidak yakin jika pencurinya akan tertangkap.

Ini adalah cobaan yang cukup berat, Alhmadulillah saat anakku pulang sekira pukul 12 kurang, tidak bisa masuk, mungkin kalo bisa masuk enatah apa nasibnya. Alhamdulillah masih banyak barang/surat yang dia tak ambil, sebab banyak juga maling di Batam yang seperti orang pindahan pakai mobil. Allah SWT sangat menyayangiku, istriku, dan kedua anakku, Semoga cobaan ini meningkatkan iman, ketaqwaan, ketabahan, rasa tawakal serta rasa kedemawananku. Allah tentu punya rencana baik, hebat dan mengejutkan, serta membahagiakan bagi kami sekeluarga, amiin.

No comments: