Wednesday, December 22, 2010

ANAK MINGGAT.


Marah seharusnya ungkapan kasih sayang.
Kemarin tanggal 21 Desember 2010, aku menelpon Rtku di Lobam-Bintan dulu. Biasalah untuk tetap jaga silarurrahim, sekalian kasih informasi tanggung tentang pondok pesantren yang ada di Batam, kenapa tanggung?, karena informasi yang kumiliki ternyata kalah lengkap dari yang dia sudah dapatkan. Kebetulan ia ingin menyekolahkan putrinya di pesantren, yang dekat dengan Bintan,..ya Batam. Saya anjurkan agar dari sekarang survey dan mencari tahu lebih banyak informasi tentang pesantren yang ingin dituju. Kalo ke Jawa, pesantrennya sudah maju, moderen dan banyak pilihan tapi katanya terlalu jauh, selain itu ongkosnya ‘tak tahan’.

Cerita panjang lebar, akhirnya sampai juga pada cerita tentang anak SD klas V, tetangga kami dulu di Lobam-Bintan yang minggat dari rumah. Anak sebesar itu sudah berani dan nekad memutuskan untuk minggat dari rumah. Setelah pulang sekolah siang itu sianak tak muncul atau kembali kerumah. Sudah pasti ada penyebab sianak berbuat nekat, misalnya seperti karena sering dimarah, karena sering mendapat perlakuan kasar, kekerasan, karena tidak mendapatkan perhatian yang cukup, karena sudah tidak merasa nyaman, senang dan tidak mendapatkan keceriaan di rumah. Sianak yang minggat hingga hari ini (tulisan ini muncul) belum juga di temukan bahkan menurut informasi sianak sudah menyeberang ke Batam, mungkin ingin melanjutkan ke Medan.

Kalau anak minggat dari rumah dan penyebabnya seperti hal-hal yang disebutkan tadi maka orangtuanyalah yang harus bertanggungjawab. Sejatinya anak nekat karena tidak tahan lagi atas perlakuan yang ia terima. Mungkin ia berkata minggat adalah jalan terbaik untuk mengakhiri penderitaan yang ia terima.

Kasus serupa ini di perumahan tempat aku menetap di Lobam-Bintan dulu merupakan yang kedua, beberapa tahun lalu juga ada kasus serupa. Waktu itu kami langsung keliling mencari dan saya menuju mesjid besar untuk mengumumkan melalui pengeras suara. Belum lagi keluar dari mesjid saya dihampiri seorang laki-laki yang mengatakan ada anak dirumahnya yang tak mau pulang, begitu saya datangi sianak langsung memeluk saya dengan erat, kami memang saling mengenal karena ia sering lewat depan rumahku dan rumah kami berdekatan. Saat itu saya benar-benar terharu, sepertinya ia begitu ketakutan.

Kasus anak minggat dari rumah semakin banyak, akibat salah perlakukan dari orangtua ke anaknya, darah dagingnya sendiri. Masih banyak orangtua entah setan apa yang dengan mudah melampiaskan amarahnya disertai aksi kekerasan terhadap anaknya sendiri. Anak mengalami teror secara fisik dan mental termasuk salah satunya anak ditakut-takuti, dikata-katai dengan perkataan buruk ‘bodoh, dungu’ dan sebagainya. Orangtua pemalas menganggap dalam mendidik anak harus dilakukan dengan cara kekerasan agar anaknya baik dan patuh, namun ternyata anak yang semakin sering dikerasi (teror fisik dan mental) bukan tambah baik dan semakin patuh tapi sebaliknya semakin nakal dan semakin melawan, preatsinya disekolah tidak stabil bahkan terus menurun.

Mendidik anak memanglah tidak gampang, sulit kalau orangtua membuat sulit, misalnya tidak pernah memberikan contoh yang baik, atau cuma pandai melarang atau marah tidak memberi solusi / alternatif kepada anaknya atau orangtua sendiri melanggar larangan itu, didepan anaknya. Misalnya orangtua melarang anaknya merokok tapi orangtuanya merokok. Mendidik anak menjadi sangat gampang jika orangtua membuat semuanya gampang, memberikan contoh dengan perbuatan. Selalu marah tindakan yang kurang tepat tidak pernah marahpun tindakan yang kurang tepat.

Cerita ini sepatutnya menjadi pelajaran bagi semua orangtua dimanapun, termasuk saya. Marah seharusnya sebagai ungkapan kasih sayang bukan bentuk kebencian dan kemurkaan yang hebat. Kalau anak sudah minggat tentu penyesalan, kerugian materi, immateri, waktu tenaga serta fikiran yang akan timbul, hati anak sudah luka parah tentu sulit mengobatinya. Semoga bermanfaat.

No comments: