Tuesday, August 3, 2010

IDOLA


Seorang staffku yang orang Aceh asli-Lhokseumawe, baru saja pulang dari sana untuk melaksanakan sunnah Rasul “walimah al urusy”-menikah dengan orang Aceh juga. Rahmad namanya tapi seluruh karyawan memanggilnya Pak Cik, dia sangat dikenal diperusahaanku karena hemat, cermat, bersahaja, ramah, taat beribadah, patuh kepada orangtua (ya pokoknya dia itu seperti seorang pramukalah) padahal ia hanya pegawai biasa. Senin 2 Agustus 2010 kembali bekerja dia begitu baik membawakanku oleh-oleh khas Aceh (Pisang sale, Dodol, Kripik Pisang dan Emping) banyak tu...Rahmad ini salah satu penghapus citra buruk orang Aceh di Batam-ya..taulah..orang Aceh hampir selalu dikaitkan dengan ganja. Semoga Engkau menjadi Kepala keluarga dan Ayah yang baik bagi istri dan anak-anakmu, bahagia, selamat, dunia akhirat, amiiin.

Kalo nyebut dodol Aceh, ingat waktu kuliah di Banda Aceh dulu, ada seorang teman kuliah di pertanian atau kedokteran Unsyiah, maaf sudah lupa. Dia ini suka sok paten dan sok populer gitu…saking kesalnya ada seorang teman yang menyebutnya “IDOLA”, yang disebut sudah sumringah, senang tapi tunggu dulu….rupanya kepanjangan idola itu “Ikatan Dodol Aceh”. Oleh-oleh khas Aceh itu sungguh membuatku senang. Bagaimana tidak seluruh jenjang pendidikanku aku selesaikan di Aceh (SD-S1 di Unsyiah), separuh pengalaman/pelajaran hidupku, sosial, budaya, dan makanan mulai bertambah banyak/beragam disana, termasuk perasaanku mulai belajar berbunga dan sangat berbunga juga di Aceh, sama orang Aceh. Oleh-oleh itu memutar kembali banyak cerita masa lalu yang suka, geli dan banyak lagi.

Aceh, sebuah tempat yang hingga hari ini masih aku banggakan, salah satunya suasana bulan Ramadhan. Sungguh terasa perbedaannya, kecuali diterminal antar kota. Kita tidak akan menemukan orang merokok, orang makan atau warung, restoran yang buka dibulan puasa. Walaupun yang bukan muslim tetap tidak ingin menampakkan atau sesuka hatinya untuk merokok/makan didepan umum. Saya tahu teman saya yang orang Aceh asli banyak juga yang tidak berpuasa, tapi mereka juga tak berani dan malu. Sebuah budaya hormat menghormati yang cukup tinggi, suasana semacam ini belum pernah saya temukan ditempat lain. Jadi Insya Allah puasanya lebih khusuk karena suasananya menunjang.

Lalu bagaimana suasana puasa di Kota Batam,..mmm sangat jauh berbeda dengan di Aceh. Orang dengan bebas merokok, makan dihadapan umum, restoran, kedai makan tetap saja buka seperti biasa. Padahal Tanah Melayu adalah Mayoritas islam. Na..yang berbeda adalah banyak sekali yang mencoba mengambil keuntungan di bulan ramadhan dengan menjual makanan baik yang ringan hingga yang berat, penjualnya yang non muslim lebih banyak dari yang muslimnya. Di Baloi dan Batam Center penjual makanan itu hampir semuanya warga keturunan China, kita tak tahu apakah mereka peduli/paham halal, maaf ada diantara penjual itu yang belum fasih betul berbahasa Indonesia (tahun lalu ini saya jumpai). Pihak berwenang harusnya peduli masalah makanan yang dijual untuk pembuka puasa itu.

Desember 1977, saya pertama kali menginjakkan kaki di Aceh. PT Arun, baru memulai operasinya, sebuah perusahaan besar pertama di Aceh dan sejak itu dimulailah era sebutan Lhoseumawe ‘Petro Dollar’ dan tahun-tahun berikutnya bermunculan perusahaan besar lainnya. Ketika itu perbedaan sosisal, budaya, latar belakang menimbulkan masalah. Pendatang menyebut yang lokal kolot dan fanatik sementara yang lokal menyebut pendatang sok, tak bergaul dan bahkan ada istilah ‘kafe’ ini sebutan buat yang tak punya agama. Kala itu banyak sekali bule dan Jepang suka menjadi tontonan warga karena seperti barang aneh dan baru. Kitapun mengalami kesulitan bergaul karena hal-hal itu dan juga karena perumahan bagi karyawan begitu ketat dan seolah membatasi, tapi banyak pula serba gratis, kemewahan dan kelebihan yang tidak didapat warga diluar perumahan yang menimbulkan kecemburuan sosial.

Banyak kenangan dan pembelajaran yang begitu membekas selama bertahun-tahun disana, lidahku juga pernah turut mengalami perubahan, rasa dan logat. Aceh saya anggap tanah keduaku setelah Sumatera Selatan, dan masih banyak hal-hal dimasa remaja yang membekas dan mempengaruhi aspek kejiwaan/emosiku dikemudian hari. Semoga Aceh lebih maju dan lebih damai.http://www.bux4ad.com/aft/a7c64554.html/


Enhanced by Zemanta

No comments: