Wednesday, September 15, 2010

SEPTEMBER CERIA


Si Asep baru saja diputuskan cintanya oleh kekasihnya yang cantik, sudah berbagai cara Asep lakukan agar kekasihnya tidak mendiamkan dirinya, tidak memutuskan cintanya, agar cinta mereka langgeng. Asep kirim bunga, kirim sms, kirim surat,  kirim email bahkan telepon tapi usaha Asep semuanya gagal, kekasihnya hilang bagai ditelan bumi dan iapun patah arang. Cintanya telah di campakkan, telah disia-siakan. Asep tidak lagi mampu berfikiran positif dan berlapang dada untuk menerima kenyataan, matanya gelap, harapannya telah punah, Asep telah bulat memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri. Lagu Rahmat Kartolo ‘Patah Hati’ mulai dihafalnya menambah buram semangat hidupnya, Asep ini kebetulan ‘playboy’, anak maen cap kutu.

Asep mengambil tali, lalu survey tempat yang paling cocok untuk mengakhiri hidupnya, jumpalah ia dengan sebatang pohon besar yang cabangnya menggantung keatas sungai yang sangat deras. Fikirnya ini adalah lokasi yang tepat, jika orang melihat dan mencoba menggagalkan usaha bunuh dirinya akan mengalami kesulitan. Asep memanjat pohon itu dan mengikat tali yang telah ia siapkan pada cabang persis diatas sungai, setelah itu Aseppun turun, lalu iapun mengambil posisi berdiri gagah dipinggir sungai dibawah pohon besar itu dan memasang tali untuk bunuh diri kelehernya.

Asep memejamkan mata, kedua tangannya melipat kedada, kedua kakinya merapat sambil berkata; “Selamat tinggal kekasihku, semoga engkau bahagia dan selamat dunia akhirat, satuu, duaa, tigaa!”. Asep melompat ke sungai. Tali itupun putus seketika, karena tak mampu menahan beratnya badan Asep. Asep tercebur ke sungai yang deras dan segera membuka matanya lebar-lebar karena terasa basah dan dingin, lalu Asep mengerahkan segenap kekuatan tangan dan kakinya untuk berenang ketepian. Asep tersangkut dibatu lalu duduk di batu itu sambil berkata; “untung aku bisa berenang, kalau gak sudah mati”. Ternyata Asep lupa kalau mau bunuh diri, dan takut mati, iihhh.

Na..itulah salah satu bentuk gagalnya sebuah rencana yang tidak matang. Bunuh diripun terkadang harus matang. Kalo tidak bisa gagal seperti yang dilakukan Asep. Lagian tak usah dijadikan inspirasi cerita tentang Asep ini, karena bunuh diri itu termasuk dosa besar. Kalau diputus cinta itu memang menyakitkan, tapi santai aja. Masih banyak kemungkinan positif dalam hidup ini, kita justru terkadang bisa memahami akan sesuatu karena kita merasakan atau melewati serangkaian penderitaan, siksaan, kesulitan. Penderitaan, siksaan, kesulitan, patah hati akan mengajarkan kita untuk bersyukur dan memahami arti kebahagian, memahami kehidupan, kelebihan, kekurangan bahkan untuk mencintai.

Sesuatu akan terasa lebih nikmat dan puas jika kita lalui dengan penderitaan, pengorbanan dan perjuangan. Coba simak minum terasa begitu nikmat jika kita benar-benar haus atau dahaga. Apa enaknya kehidupan ini selalu mudah, selalu lurus dan selalu datar serta semua tersedia.

Sejak acara bunuh diri yang gagal itu, Asep menemukan hal-hal positif dan menggairahkannya. Dia terus belajar introspeksi, bahkan sekarang ia sudah pandai berkaca, tertawa dan menertawakan dirinya sendiri yang menurutnya selama ini begitu konyol dan bodoh yang tidak mampu memahami wanita. Malah kekasihnya yang tadinya sekian lama hilang…eh tanpa terduga malah muncul kembali bahkan lebih bening, maniez, lebih cantik dan tentu lebih dewasa serta lebih islami. Asep tak ingin mempersoalkan masa lalu, kini ia lebih senang bicara masa depan, lagu lawasnya Vina Panduwinata ‘September Ceria” bolak balik diperdengarkannya untuk menggambarkan suasana hatinya.

No comments: