Wednesday, September 22, 2010

KETIKA HARUS BERKACA MATA

'berkurangnya anugerah hidup"


Sore itu tiba-tiba Hpku berbunyi, tapi aku tak mengenal nomor (tak tercatat dalam HP), karena berbunyi dari nomor yang sama beberapa kali aku putuskan untuk menelepon balik, aku anggap yang menghubungiku beberapa kali berarti bukan sekedar ‘misscall’ atau iseng, ya mestinya ada yang serius.

“Hallo, tadi menghubungi saya” ujarku bertanya.
“Ya, ini dengan Pak Kolubi Arman” ujar wanita diseberang.
“Ya, saya sendiri, ada apa ya?”.
“Pak ini dari Optik, kacamata bapak sudah siap”. Sesuai dengan janji mereka satu minggu.
“Oh..ya…jam berapa tokonya tutup, malam saja saya ambil”.
“Setengah sembilan pak”

Sehabis sholat Isya, kami berangkat menuju sebuah mall tempat optik aku memesan kacamata itu. Sampai disana ada wanita yang sedang duduk menunggu, entah siapa yang ditunggunya (aku ya….. geer kali), merasa ditunggu, yang ditunggunya jelas ..pelanggan.

“Hallo saya Kolubi Arman”.
“Oh..ya Pak”, kelihatannya dia langsung ingat dan segera mengambil kacamata, lalu..
“Ini pak kacamatanya, silahkan dicoba”, sayapun mencobanya, sambil melirik-lirik ke cermin yang disediakan.
“Loh kok seperti bergoyang-goyang”
“Iya pak, karena ini jenis kacamata progresif”
“apa tu”
“Dilensanya itu sudah digabung untuk jarak dekat dan jarak jauh, bagian bawah lensa untuk melihat jarak dekat dan bagian atasnya untuk melihat jarak jauh”.
Setelah berulang-ulang mencoba, dan terus bercermin melihat wajah yang berkacamata baru itu, saya membayar sisa pembayaran. Tadinya aku belum mau pakai tapi istriku malah yang bersemangat memintaku untuk langsung memakainya, Ya aku pakailah, walau terasa aneh dan ada yang mengganggu. Sambil berjalan keluar dari mall itu aku berujar sama istriku.

“Gimana bu, mantap, kren?”
“Mantap dan tambah cakep”, Ia lalu lebih mendekat untuk memegang lenganku.
“Aku, suamimu..kaan?”. Aku menggoda istriku, istrikupun mengangguk, sambil tersenyum juga membelalakkan dan memutar-mutar matanya.

Sampai dirumah, kedua anakku malah lebih heboh, ketika mereka tahu saya berkacamata, berebut untuk mencoba. Mungkin mereka fikir kacamata itu hanya untuk gaya. Saya katakan sama anakku yang kedua (kecil), ini kacamata untuk mata yang mulai kabur, adek tak boleh sembarang pakai, nanti kepalanya bisa pening dan matanya ikut kabur seperti punya ayah. Akhirnya akupun harus berkacamata, tapi sebenarnya aku masih belum begitu percaya diri untuk berkacamata, maklum belum terbiasa. Salah satu kenikmatan & anugerah hidupku mulai berkurang, namun aku patut bersyukur selama ini telah banyak jasa mataku itu untuk kehidupanku, aku juga harus mohon ampun kepada Allah atas banyaknya dosa karena mata itu yang memandang yang tidak patut dan aku harus belajar untuk mengendalikan pandanganku. Ampunkanlah Aku ya Allah, atas dosa-dosa karena mata / pandanganku salah selama ini. Jangan engkau tambah kabur pada mata / pandanganku karena sesungguhnya aku menyukai ciptaanmu yang indah-indah, Amiin. Semoga bermanfaat.http://www.bux4ad.com/aft/a7c64554.html/

1 comment:

Fatih said...

Berkurangnya anugerah... bukan berarti membuat kita berhenti untuk termotivasi menjadi yang lbih baik...
Salam
http://bangunmotivasi.blogspot.com/