Tuesday, September 7, 2010

POHON PENGHIJAUAN



Minggu tanggal 22 Agustus 2010, pohon yang ditanam sejak beberapa tahun lalu ditebang, pohon itu adalah pohon terakhir dari 5 batang yang ada, habis sudah. Kenapa warga memotong pohon yang dulunya dimaksudkan sebagai pelindung dan peneduh itu?, rupanya pohon-pohon itu setelah besar dirasa mengganggu; daunnya yang setiap hari berserakan dihalaman, daun-daunnya yang berada diatas atap mempercepat pelapukan dan akar-akar pohon tersebut mulai merusak jalan dan paret. Jadilah lingkungan itu semakin panas. Alasan warga untuk memotong pohon-pohon itu bisa dimaklumi.

Ini juga kisah pemotongan ramai-ramai oleh warga, pohon dan tanaman buah dilingkungan perumahanku di Lobam-Bintan dulu. Begitu selesai, jalannya diaspal oleh pemkab Bintan, RTku mengundang warga untuk membicarakankan lingkungan termasuk memelihara aspal agar awet. Terlontarlah, agar pohon yang ditanam di jalan dan bahu jalan untuk ditebang, maka pada hari yang sudah ditentukan warga mulai bergerak menebang pohon. Beberapa warga menanam mangga, jambu, belimbing dan pohon berbuah lainnya merasa keberatan, terjadilah perdebatan, “saya yang tanam dihalaman sendiri, yang rawat sendiri kenapa harus ditebang”, ujar beberapa warga. Rtku bersikukuh pada keputusan karena dianggap sebagai keputusan bersama waktu rapat dengan warga.

Warga merasa benar dan mencoba bertahan pohon yang sudah lama ditanam bahkan ada yang lagi berbuah. Padahal jika warga lebih teliti sesungguhnya tanaman yang ditebang itu dijalan dan atau dibahu jalan. Jalan adalah milik negara, bukan halaman, kalau milik negara tak boleh ditanami atau mendirikan bangunan tanpa izin. Panas lagilah perumahanku, berkurang kesejukannya karena pohon-pohon ditebangi.

Inilah satu gambaran warga perumahan masa sekarang yang bermasalah dengan pohon. Perumahan-perumahan yang dibangun oleh pengembang umumnya tidak menyediakan tempat menanam pepohonan, mereka memang menyediakan sekelumit taman atau fasilitas umum tapi dari segi penghijauan dan pelindung serta peneduh itu masih sangat kurang, bahkan cendrung tidak sehat, bagimana yang rumahnya jauh dari taman itu, apa tidak membutuhkan pepohonan?. Padahal pemerintah sejak dulu hingga kini mengkampanyekan penghijauan kembali. Tetapi perumahan-perumahan itu tidak menyediakan tempat bagi warga yang sadar untuk menanam pohon guna mendapatkan udara segar dari pohon, warga tidak mungkin menanam pohon pelindung pada halaman yang hanya rata-rata 3 meter, salah satu caranya warga menanam pohon di jalan atau dibahu jalan.

Pemerintah meminta masyarakat untuk lebih banyak menanam pohon agar bisa didapat udara segar dan hijau kembali lingkungan, warga menyambut baik dan sudah banyak menyadari pentingnya pohon dan penghijauan kembali, tapi tempatnya tidak ada. Sepertinya Pemerintah tidak cukup hanya menghimbau tapi juga memaksakan para pengembang perumahan menyediakan satu tempat (lubang) untuk menanam pohon untuk setiap lima rumah misalnya, sudah tentu dipersiapkan tidak merusak paret, jalan dan rumah warga. Tidak semua perumahan dibangun dengan konsep penghijauan, bahkan boleh dikata lebih banyak perumahan dibangun tanpa konsep penghijauan, pengembang perumahan memanfaatkan lahan yang ada untuk keuntungan sebesar-besarnya. Kalau hijau dan segar, banyak burung berkicau dan warga bugar.

No comments: