Wednesday, July 13, 2011

SEKOLAH BUKAN UNTUK ORANG MISKIN.


Setiap musim penerimaan siswa baru, hampir diseluruh di Indonesia mengalami kekacauan, bahkan kerusuhan, dikarenakan terjadi perselisihan klasik, maksudnya itu-itu juga masalahnya setiap tahun terjadi pengulangan, maka disebut klasik. Misalnya para orangtua marah karena anaknya tidak dapat masuk ke sekolah yang dituju. Padahal syarat dan ketentuan dipenuhi, sementara yang tidak memenehui syarat dan ketentuan malah masuk karena uang 'bicara'. 

Katanya penerimaan murid sudah bisa 'online' tapi nyatanya banyak murid yang bisa masuk tanpa proses 'online'. Ada sekolah mematok nilai terrendah untuk masuk ke suatu sekolah, tapi dengan cara lewat 'belakang', banyak anak murid bisa masuk walau nilainya dibawah yang sudah ditentukan. Sistim  pendidikan kita memang rendah dikacau balau pula oleh segelintir oknum yang tidak bertanggungjawab, sehingga hasil pendidikan itu juga rendah dan kacau. Masih segar dalam ingatan kita kasus 'nyontek masal', itu adalah salah satu akibat sistim yang rendah dan orang-orang yang mengurus pendidikan juga rendahan moralnya.

Padahal kita tahu pendidikan adalah cermin peradaban dan kualitas bangsa. Kini wajah pendidikan semakin dicemari oleh mahalnya biaya sekolah.  Kenapa sekolah harus mahal karena sekolah itu hanya untuk orang kaya, bukan untuk orang miskin, yang boleh pintar itu hanya orang kaya.  Padahal komposisi penduduk Indonesia antara yang miskin dengan yang kaya jauh lebih banyak yang miskin, bahkan bisa dibilang mayoritas. Anda tahu kenapa setiap pelajar Indonesia meraih penghargaan / juara dalam suatu perlombaan maka akan menjadi berita, karena yang seperti itu langka, jadi layak untuk diberitakan.
  
Katanya SD Negeri, SMP Negeri dan SMA Negeri gratis tapi bukunya mana boleh gratis. Untuk anak kelas IV SD saja buku pelajarannya kurang lebih 15 buah dengan harga keseluruhan Rp. 312.000,-, itu untuk harga Batam Kota. Kenapa buku mahal?,  karena buku juga hanya untuk orang kaya. Itu baru bukunya, belum seragamnya, belum lagi kegiatan-kegiatan lainnya ditingkat Sekolah Dasar (SD). Belum SMP dan SMAnya. Bayangkan pula jika mau kuliah masuk perguruan tinggi. Masuknya saja ke Perguruan tinggi anda harus merogoh kantong untuk mengambil duit dalam jumlah banyak.

Masukan serupa ini sudah banyak yang melakukannya ke pemerintah, tapi sepertinya orang-orang dipemerintah itu telinganya sudah copot semua, jadi tak pernah mampu mendengar. Kalau ini dibiarkan terus maka semakin banyak yang tidak mampu sekolah, semakin banyak orang bodoh, makin banyak pula orang miskin.  Semoga telinga mereka segera sembuh dan Indonesia makin maju.

No comments: