Saturday, March 27, 2010

Jakarta

Jakarta 1

Cuti….17-20 Maret 2010. Kali ini benar-benar saya gunakan untuk refresing. Berangkat dari Batam menuju Jakarta tanggal 13 Maret 2010 malam hari. Ada yang membuat saya terkesan di Cengkareng, seorang seperti porter hanya ikut mendorong troley padahal saya sudah larang bahasa tubuhnya minta dihargai jasanya yang telah ikut mendorong troley…kata saudara saya udahlah kasih aja sayapun akhirnya ngasih, sampai di rumah saudara di Perum Karawaci-Tangerang sudah hampir jam 23.00. Padahal Karawaci tidak begitu jauh dari Cengkareng. Banyak faktor yang membuatnya lama di jalan. Situasi jalan-jalan di Jakarta yang malam itu lumayan padat. Banyaknya pengendara kendaraan yang tidak patuh serta mau cepat dan ingin lebih dulu juga faktor yang bikin jalanan bikin semraut. Kemudian pintu tol, dengan cara menghentikan kendaraan untuk membayar secara tunai juga membuat macet bukan malah lebih lancar.

Saya jadi teringat bagaimana Singapura mengatasi macet dijalan raya tol. Singapura tidak lagi membuat pintu tol tempat membayar tunai masuk ke jalan tol, tapi telah menggunakan sejenis kartu isi ulang lalu dimasukkan pada sebuah alat dan harus diletakkan didepan agar alat penangkap/pembaca kartu mudah mendeteksinya. Jika kendaraan melewati jalan tol maka nilai pada kartu itu akan berkurang sesuai tarif yang telah ditentukan. Sehingga tak perlu berhenti dan jelas tidak menimbulkan kemacetan.

Tapi kalu itu diterapkan di Indonesia, saya yakin bakal banyak sekali yang sakit dan bikin pemerintah pusing 18 kali keliling (tidak 7 kali keliling lagi) karena apa…mau tau. Jika itu diterap maka bakal banyak sekali yang akan berhenti bekerja alias menganggur. Jadi kapan ya..bakal diterapkan…gak mungkin dalam waktu dekat.

Jakarta 2
Sebagai orang kampung yang jarang menginjakkan kaki ke Jakarta Senin tanggal 14 Maret 2010 saya sekeluarga, menyempatkan diri ke Monumen Nasional (Monas). Walau sebenarnya hari itu tidak libur, kenyataanya manusia yang ingin melihat Monas banyak sekali; rombongan anak-anak sekolah, ibu-ibu, keluarga-keluarga, kelompok-kelompok, perorangan serta turis asing yang ingin menyaksikan monas dari dekat. Keramaian menyebabkan barisan antrian begitu panjang akibatnya kami sekeluarga mengurungkan diri untuk naik ke puncak Monas. Padahal anak keduaku pengen sekali naik kepuncak monas. Tak dipungkiri patung bermotif api yang terbuat dari emas itu masih mampu menyedot perhatian banyak orang, untuk sekedar melihat dan berhayal membawa emas itu pulang…he..hee.

Setelah kepanasan di Area Monas kami menuju Mesjid terbesar di Indonesia (dulu pernah se Asia tenggara, tak tahu sekarang ya..) yaitu Mesjid Istiqlal. Tak jauh dari Monas hanya nyeberang saja. Namun pintuk masuknya yang lumayan jauh, lagi-lagi karena orang kampung, mau nyoba bajai. Akhirnya kami putuskan naik bajai menuju Mesjid besar itu. Supir bajainya minta Rp 15 ribu kami tawar Rp 8000,- rupiah dan sepakat. Alhamdulillah..akhirnya kesampaian juga niat/keinginan lamaku untuk dapat berkunjung dan menunaikan sholat di Mesjid Istiqlal. Wah ramai juga orang-orang, juga ada sekitar 3 bus membawa rombongan mahasiswa yang berjas merah hati,.aku coba intip-intip tulisan logo didada mereka untuk mengetahui asal mereka…tak kesampaian hingga meninggalkan mesjid besar itu. Salud.. dengan petugasnya yang ramah, sigap melayani dan mau mengingatkan setiap pengunjung agar berhati-hati menjaga/meletakkan barang pribadi seperti sandal, sepatu, telepon genggam, kamera.

Kemudian kami naik bajai lagi menuju Istana Merdeka (maklum jogol kata orang Palembang, kemaruklah…) Didepan Istana Merdeka sempat juga berphoto-photo, seperti ketika di Monas dan mesjid Istiqlal, untuk kenang-kenganan. Berphotonya agak takut-takut, karena ada penjaga pake senjata. Anakku bilang itu yang jaga kayak di film Mr. Bean. Pelawak dari Inggris yang (jenius) tak banyak bicara namun dengan gerak dan tingkah lakunya membuat orang tertawa, walau sudah menonton berulang-ulang.

Setelah melihat-lihat istana Merdeka yang kelihatan angker itu, kami naik bis menuju Blok M. Disana putar-putar dan duduk-duduk di arena foodcourt/tempat makan dan memesan minuman karena kehausan. Wah enaknya minum disitu diiringi Live Music (apa ya bahasa Indonesianya..) yaitu pertunjukan musik secara langsung, tidak rekaman. Pas pula sang penyanyi lagi menyanyikan lagu yang kusenangi: I don’t want to sleep alone dan Wonderful tonight.

Setelah hampir pukul 17.30 kami menuju terminal, lalu mencari bis no 45 yang menuju karawaci, itulah sebuah SMS dari saudaraku. Naik bis gak lupa direpoti oleh orang-orang yang jualan berbagai produk pena, pensil, buku, permainan rubik/kubus, hingga penganan, atraksi dua pemuda menyilet kulit dan lidahnya dengan silet, Cara mereka mencari nafkah lumayan kreatif dan agak memaksa. Ketika dua anak-anak (wanita-laki), mungkin berumur 9 dan 8 tahun. Ketika gadis cilik bernyanyi disamping saya, saya berusaha mengambil gambarnya/memotonya, seketika itu juga sigadis cilik menghindar pindah kebelakang. Mungkin ia takut, mungkin juga khawatir, mungkin juga karena saya tidak permisi dan menjelaskan maksud saya untuk memotretnya.

Sampai di Simpang Islamic Centre Karawaci, kami turun lalu menanyakan pada orang-orang disekitar simpang itu, angkot yang menuju Perum Karawaci, yang ditanya menunjuk dan kami naik, tapi malah salah angkot udah jauh baru ketahuan salah angkot..tapi tak apalah sambil jalan-jalan, balik lagi ketempat semula baru naik angkot yang menuju tempat yang dituju. Mandi, sholat lalu tidur…z.z..z…zzzzz.

Jakarta 3

Esoknya tanggal 15 Maret 2010 sekitar jama 10 pagi dari Karawaci kami menuju Tanah Abang. Saudaraku mengantar kami kesana dengan mobil mereka yang banyak jasanya untuk kami. Istriku lalu mencari/hunting….aku dan anak-anakku menunggu sambil minum di pintu utama Masuk ke gedung sementara saudara-saudaraku menghilang entah kemana. Jakarta adalah barometer di Indonesia, namun aku hingga kini belum ingin kerja atau menetap di sana, macet…macet..dan banjir.

Dari Tanah abang kami menuju terminal bis Arimbi untuk menuju Kota Bandung sekitar pukul 2.30 kami menuju Kota Bandung. Kecapean kami lebih banyak tidur dalam bis, untungnya bisnya hanya separoh yang berisi. Sampai di bandung hampir jam 17.00. lalu menunggu keponakan yang mau jemput. Setelah itu ke tempat menyewa tempat tidur..mandi lalu jemput keponakan perempuanku anak abangku yang paling tua yang telah berjasa banyak; menyekolahkanku dari SD, SMP, SMA dan Kuliah. Lalu kami menjuju Punclut.

No comments: