Posts

OLGA DIANGGAP KAMPANYE

Tayangan lawak Pesbukers yang ditayangkan stasiun televisi ANTV telah menyusupkan pesan dukungan posisi kaum lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT). Hal itu terlihat dari tayangan Pesbukers yang didominasi banyolan pelawak Olga Syahputra. Pendapat itu disampaikan Pembina Masyarakat TV Sehat, Fahira Fahmi Idris. "Sudah waktunya komisi penyiaran menindak program Pesbukers yang selalu menayangkan perilaku LGBT, banci dan bencong setiap tayangan program tersebut," tegas Fahira seperti dikutip Republika, Senin (08/07/2013).Menurut Fahira Idris, tayangan Pesbukers banyak melanggar aturan. Mulai dari penghinaan Asslamualaikum hingga penghinaan profesi yang hampir seluruhnya dilakukan oleh Olga Syahputra. Rupanya Olga Syaputra dianggap sebagai perwakilan kaum LGBT untuk mengkampanyekan kebenaran kaum gay-yaitu lelaki penyuka sesama lelaki ini salah satu bentuk kemurkaan Allah SWT pada pada manusia, karena menyimpang dari kodrat manusia. Ini tentu saja bertentang...

MERUBAH SESUATU ITU TIDAK MUDAH, WALAU HAL SHOLAT.

Malam tadi 09 Juli 2013, adalah tarrawih pertama di Mesjid Nurul Jannah Perumahan Eden Park-Batam Center, tempat biasa aku mengikuti sholat berjama'ah. Malam pertama setelah sholat Isya' diisi oleh panitia Ramadhan dan atau Pengurus mesjid sudah hampir menjadi kebiasan semua mesjid. Biasanya Panitia / Pengurus mesjid memberitahukan kegiatan-kegiatan selama bulan Ramadhan, penceramah biasanya akan mulai ada pada malam kedua tarrawih. Tadi malam agak lama Panitia / Pengurus mesjid berbicara didepan para jamaah. Pertama ketua panitia ramadhan bicara, kedua Ketua Pengurus mesjid yang bicara lebih dari 20 menit bicara, di akhir sambutannya ia melontarkan gagasan perubahan jumlah rakaat sholat tarrawih, dari 11 rakaat menjadi 23 rakaat, dan meminta tanggapan para jamaah. Gagasan perubahan itu sendiri tidaklah begitu jelas dasarnya hanya disebutkan agar lebih khusuk, lebih banyak lagi nilai pahala serta nilai sosialnya bagi para jamaah. Sayangnya tidak dijelaskan dalil-dalilnya (...

MENIKAH DENGAN BENDA = OBJECTUM SEXUAL

Pernahkah anda mendengar istilah itu?. Mungkin belum, jarang, bahkan tak tahu, tapi karena dibelakangnya ada 'sexual' anda bisa menebak-nebak arah istilah tersebut. Saya juga baru tahu pagi ini lihat dan dengar disebuah TV swasta. Ini jenis kelainan jiwa / bentuk penyimpangan rasa cinta atau birahi seseorang. Kalau yang normal manusia itu suka, mencintai, muncul birahi / kepuasan biologisnya dengan sesama manusia (baca lawan jenis). Tapi bagi penderita 'objectum sexual' mereka mencintai, meraih kepuasan biologis justru bukan pada manusia tapi pada hewan atau benda-benda tertentu, misal pada; menara, jembatan, mobil, busur, pagar, lokomotif, botol, ranjang, sabun, boneka, ikan, kucing, keledai dan sebagainya. Banyak manusia dibelahan dunia ini yang sudah berhasil menikahi benda mati bahkan hewan. Menurut pakar kejadian atau bentuk kelainan jiwa itu diakibatkan perlakuan buruk yang diterima oleh penderita selama bertahun-tahun dari orang-orang disekitarnya. Lama ...

BUKAN MASALAH LAGI

Terus terang untuk milih judul tulisan ini yang sesuai, saya agak kesulitan, karena isi tulisan ini menurutku terlalu umum sehingga saya berfikir judulnya harusnya tidak boleh umum, yang tak lazim supaya mengundang orang untuk membacanya, mudah-mudah maksud saya tercapai. Kalau pada tulisan saya terdahulu (yang saya posting kemaren 24 Juni 2013), saya menghadiri undangan pesta pernikahan, maka apa yang saya saksikan wanita-wanita yang hadir umumnya berpakaian dengan bahan bagian atas kurang, di samping kurang dan bawah juga kurang, serba minim, ketat dan cendrung sebahagian terbuka. Mereka-mereka tak sungkan, tak risih memamerkan tubuh (baca aurat), depan, belakang, perut dan pahanya dan juga 'tatto' yang mereka miliki. Itu masih lumayan malam dan diruang terbatas. Tapi coba simak orang-orang yang kita jumpai diangkutan umum, pelabuhan, mall, bahkan pasar atau di jalan-jalan. Kita semakin lazim menjumpai orang dengan pakaian serba minim, terbuka, ketat alias kurang...

CUKUP SEDERHANA.

Tadi malam, saya dan istri mengahadiri undangan. Kalau lihat dan baca undangannya, maka itu adalah undangan perkawinan. Cukup sederhana sekali undangan itu ada tulisan 'We 're getting married' kemudian ditulis tanggal, tempat, waktu acaranya dan nama pasangan berbahagia itu beserta gambar mereka yang lelaki bule lumayan berumur dan wanita Indonesia tulen masih muda. Cukup itu saja. Waktu mau berangkat, saya sempat tanya istriku sama siapa kita berangkat karena terus terang kedua mempelai tidak kami kenal. Undangan sampai ke kami karena RT dan Ibu RTku yang kenal dekat dengan mempelai wanita, jadi kami sebagai RW di beri undangan. Saya bilang jangan sampai tempat acara kita 'celinguan / lihat kiri kanan' karena tak satupun yang dikenal, atau mempepelai bertanya 'who are you' atau berteriak 'SECURIIITYYYY!!' untuk mengusir kami. Kami berduapun tertawa karena candaan saya itu. Akhirnya saya teringat dan telpon RT untuk mempertanyakan jam berapa...

TERTAWA GELI KARENA MATEMATIKA

Seorang sahabat dekatku yang sudah kukenal sejak SMP di Aceh dulu, hingga kini kami masih sering saling menelpon, sms-an atau bbm-an. Untuk sekedar menayakan kabar masing-masing, dan cerita-cerita lainnya. Saat cerita tentang hasil ujian anakku yang baru selesai ujian kelulusan tingkat SMP, sahabatku itu terus bertanya nilai yang didapat anakku. "Alhamdulillah, ujarku anakku lulus, dan dapat nilai 8,9 dan nilai matematikannya 9.7 sekian". Ujarku melanjutkan cerita. "Hebat ya", ujar sahabatku lalu iapun tertawa kuat dan agak lama, dalam tertawanya ia sempat berujar "bisa pula anakmu hebat matematika, kalau aku ingat-ingat kau dulukan paling buntu dan mati kutu pelajaran itu. Aku masih ingat gimana waktu kuliah semester pertama dulu kau hanya terdiam disuruh ke depan untuk jawab soal dosen matematika kita waktu itu". Akupun ikut tertawa, bahagia sekalian meng 'iyakan', apa yang di sebut sahabatku itu. Aku dulu memang kalau pelajaran matemati...

JUARA KELAS.

Menjadi juara kelas memang senang, menyenangkan orangtua bahkan saudara-saudara, apalagi sianak yang juara. Juara yang saya maksud adalah bukan juara catur dikelas, bukan pula juara baca puisi, tapi juara karena nilai-nilai mata pelajaran yang diikuti sianak meraih pelajaran tertinggi. Kalau di sekolah lazim disebut ranking satu. Kenapa pula saya menuliskan hal ini. Yang ingin saya ceritakan disini adalah bukan senangnya jadi juara tapi bagaimana jadi juara dan hal-hal yang mempengaruhi hal itu. Ini kisah betul disebuah SDN di Batam Center. Saya yakin guru kelas atau wali kelas tidaklah mudah menentukan urutan juara dikelas apalagi terkadang nilai murid hampir bersamaan, atau beti (beda tipis), dan banyak murid yang ingin juara kelas baik atas kehendak sendiri maupun kehendak orangtua, kebaikan anak murid, sikap murid, serta kebaikan orangtua pada guru juga mempengaruhi hal itu, juara kelas juga bagi sebahagian orangtua merupakan gengsi, kok bisa?. Zaman sudah berubah sekolah ...