Monday, May 27, 2013

JUARA KELAS.

Menjadi juara kelas memang senang, menyenangkan orangtua bahkan saudara-saudara, apalagi sianak yang juara. Juara yang saya maksud adalah bukan juara catur dikelas, bukan pula juara baca puisi, tapi juara karena nilai-nilai mata pelajaran yang diikuti sianak meraih pelajaran tertinggi. Kalau di sekolah lazim disebut ranking satu. Kenapa pula saya menuliskan hal ini. Yang ingin saya ceritakan disini adalah bukan senangnya jadi juara tapi bagaimana jadi juara dan hal-hal yang mempengaruhi hal itu.

Ini kisah betul disebuah SDN di Batam Center. Saya yakin guru kelas atau wali kelas tidaklah mudah menentukan urutan juara dikelas apalagi terkadang nilai murid hampir bersamaan, atau beti (beda tipis), dan banyak murid yang ingin juara kelas baik atas kehendak sendiri maupun kehendak orangtua, kebaikan anak murid, sikap murid, serta kebaikan orangtua pada guru juga mempengaruhi hal itu, juara kelas juga bagi sebahagian orangtua merupakan gengsi, kok bisa?.

Zaman sudah berubah sekolah tidak lagi hanya murni tempat menuntut ilmu, tapi sudah berkembang menjalar keman-mana. Gurupun tidak lagi hanya murni sebagai pendidik, guru sudah harus 'pandai menangkap dan mencari' peluang bahkan membuka peluang untuk dapat menambah pendapatan baik pendapatan yang langsung maupun yang tidak langsung.

Dewan guru bisa megundang pihak-pihak tertentu/ketiga untuk membuka pengajaran tambahan, alasannya murid-murid masih perlu mendapat pelajaran tambahan. Tapi kenapa harus pihak ketiga?, kenapa bukan para guru-gurunya yang memberikan les tambahan, sebagai bentuk tanggungjawab. Ternyata ada uangnya disana.

Bisa juga langsung guru kelas yang memberikan tambahan pelajaran buat murid, ini lebih besar peluang tambahan pendapatannya buat guru, juga buat murid untuk mendapatkan nilai yang benar-benar yang di 'harap' kan. Cara ini yang menarik bagi guru, juga bari murid.

Guru jelas mendapat keuntungan, murid apalagi. Masalahnya pelajaran tambahan / les cara ini tidak lagi murni ingin membuat murid tambah pintar dan cerdas. Murid ikut les hanya ingin merubah ranking atau mempertahankan ranking. Akibat persaingan yang tinggi, gengsi dan keinginan mendapatkan rangking, maka muncullah peluang lain. Wali kelas dapat untung, murid bisa dapat rangking bagus.

Ini sedikit cerita celleneh. Beberapa murid kelas V di kelas anakku mengikuti les sama wali kelasnya, peserta didik di kelas V A ini adalah para murid yang tadinya dari kelas dua hingga kelas empat selalu mendapat rangking antara satu sampai 10. Saat les berlangsung disalah satu rumah peserta les sang wali kelas, si wali kelas entah bercanda atau serius berujar seperti berikut: "nanti rangking 1 Yo, ke 2, He dan ke 3 Ya".
Tanpa sepengetahuan si wali kelas kalimat itu sampai ke orangtua beberapa peserta les, kontan beberapa orangtua meradang, marah dan langsung menghentikan anaknya les bersama si wali kelas. Inilah akibat ikut les dengan tujuan tidak sehat, ORTU mengikutkan les anaknya karena punya agenda sendiri. Untunglah anakku tidak ikut, karena dari dulu kami mengajarkan agar ia mendapatkan nilai secara baik, halal, dan jujur. Alhamdulillah anakku masih bisa bersaing sacara jujur, halal dan baik. Untuk membuat prakarya tugas dari guru, anakku tak mau yang hasil beli. Semoga bermanfaat.

No comments: