Posts

Isi Dompet vs Isi Kepala: Kenapa Dunia Sekarang Lebih Suka Mendengar Siapa yang Bicara?

Pernah tidak, saat kita lagi kumpul atau sekadar lewat di media sosial, kita menyadari satu hal yang polanya selalu sama? Ada dua kalimat yang belakangan ini sering banget berseliweran, dan jujur, rasanya jleb banget di hati: 1. “Bukan apa yang dibicarakan, tapi siapa yang bicara.” “Kalau kamu miskin, gak akan ada yang melihat, mendengar, mengenal, apalagi mengaku. Tapi kalau kamu kaya, semua mendadak jadi saudara.” Kedengaran sinis ya? Tapi coba jujur pada diri sendiri, ini bukan sekadar kalimat keluhan, melainkan potret nyata di sekeliling kita saat ini. Mari kita obrolin santai, kenapa sih dunia kita bisa se-bercanda ini? Pertama, soal "Bukan apa yang dibicarakan, tapi siapa yang bicara." Kita sering kali malas menyaring informasi secara kritis. Akibatnya, kalau ada orang sukses, kaya, atau punya jabatan ngomong—bahkan meskipun cuma ngomongin hal sepele atau tips yang sebenarnya biasa aja—kita bakal dengerin dengan khusyuk. Langsung dicatat, dijadikan status, dianggap...

Seharusnya di Usia Ini, Saya Tinggal Menikmati Hidup

Beberapa tahun yang lalu, saya hampir setiap hari berbelanja di sebuah warung sembako. Membeli kebutuhan untuk warung kami, mulai dari gula, kental manis, garam, teh, kecap, saus, dan berbagai keperluan lainnya. Pemilik warung itu belum lama saya kenal. Ia juga baru membuka usaha toko kelontongnya. Sebelumnya, saya biasa berbelanja di tempat lain. Namun, seperti kebanyakan hubungan antarpedagang dan pembeli, perkenalan itu perlahan tumbuh dari transaksi sederhana yang terjadi hampir setiap hari. Mungkin karena sering melihat saya datang berbelanja, ia mulai memperhatikan usia dan aktivitas saya. Suatu hari, ketika sedang melayani pembeli lain, tiba-tiba ia berkata kepada saya. "Bapak, dengan usia sekarang, seharusnya tinggal menikmati hidup. Banyak beribadah." Saya terdiam sejenak. Kalimat itu sederhana. Tidak ada yang salah dengan nasihatnya. Bahkan, saya bisa memahami maksud baik di balik ucapannya. Siapa yang tidak ingin menikmati hidup ketika usia sudah semakin be...

Yang Datang Bukan Selalu Mereka yang Kita Tunggu

Ketika pertama kali memulai usaha, saya punya harapan yang sederhana Saya pikir, kalau saya mulai berjualan, tentu saudara, keluarga, famili, dan kerabat akan ikut membantu meramaikan. Bukan harus membeli setiap hari. Cukup sesekali datang. Mencoba makanan yang kami jual. Menceritakan kepada teman. Atau sekadar membagikan informasi bahwa ada saudaranya yang sedang berusaha mencari rezeki melalui usaha kuliner. Waktu itu saya berpikir, bukankah keluarga adalah orang-orang terdekat? Bukankah kalau ada saudara yang sedang memulai usaha, kita ikut membantu sebisanya? Ternyata kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan. Tahun demi tahun berlalu. Sampai usaha kami memasuki tahun kedelapan, harapan bahwa keluarga dan kerabat akan menjadi bagian besar dari pelanggan ternyata tidak pernah benar-benar terjadi. Awalnya mungkin ada sedikit rasa kecewa.  Bukan marah. Hanya bertanya dalam hati, "Kenapa ya, orang-orang terdekat justru tidak banyak datang?" Tetapi semakin la...

Jangan Menggantungkan Harapan pada Saudara

Ketika pertama kali memulai usaha Desember 2017, saya punya harapan yang sederhana. Saya pikir, kalau saya mulai berjualan, tentu saudara, keluarga, famili, dan kerabat, saudara asal sekampung akan ikut membantu meramaikan. Bukan harus membeli setiap hari. Cukup sesekali datang. Mencoba makanan yang kami jual. Menceritakan kepada teman. Atau sekadar membagikan informasi bahwa ada saudaranya yang sedang berusaha mencari rezeki melalui usaha kuliner. Waktu itu saya berpikir, bukankah keluarga, saudara asal sekampung adalah orang-orang terdekat? Bukankah kalau ada saudara yang sedang memulai usaha, kita ikut membantu sebisanya? Ternyata kehidupan tidak selalu berjalan seperti yang kita bayangkan. bersambung bagian 2.

Aroma Khas Pada Usia lanjut

Image
Pernah Dengar Aroma "Buku Tua" pada Lansia? Ternyata Ada Penjelasan Ilmiahnya! ​Pernahkah Anda bertamu ke rumah kakek-nenek atau berada di dekat lansia, lalu mencium aroma tubuh yang khas? Aromanya bukan bau keringat biasa, melainkan mirip bau buku tua, kertas lembap, atau rumput kering. ​Banyak yang mengira ini karena kurang bersih saat mandi atau masalah pakaian, padahal itu sama sekali tidak benar! Di Jepang, fenomena ini sangat umum hingga punya istilah tersendiri, yaitu Kareoshu (加齢臭). Dan secara sains, aroma ini adalah bagian alami dari proses penuaan tubuh manusia. ​Siapa "Aktor Utama" di Balik Aroma Ini? ​Proses penuaan tidak hanya mengubah warna rambut atau memunculkan kerutan, tetapi juga mengubah kimia kulit kita. Biang keladi dari aroma khas lansia ini bernama 2-nonenal . ​Begini alur terjadinya: ​ Penurunan Antioksidan: Mulai usia 40-an ke atas, pertahanan antioksidan di kulit kita alami menurun. ​ Kenaikan Asam Lemak: Di saat yang sama, kad...

Nasi Bukan Musuh, Mungkin Kita Salah Memilih Temannya

Belakangan ini nasi sering sekali mendapat tuduhan. Makan nasi katanya bikin gemuk. Nasi bikin gula darah naik. Nasi penyebab diabetes. Bahkan ada yang sampai menyarankan, kalau ingin sehat, tinggalkan nasi. Saya jadi berpikir: kasihan juga si nasi. 😄 Padahal nasi sudah menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia selama turun-temurun. Bukan hanya Indonesia, sebagian besar masyarakat Asia juga hidup berdampingan dengan nasi. Lalu, apakah selama ini nasi memang sejahat itu? Kalau kita melihatnya lebih jernih, persoalannya mungkin bukan pada nasinya, tetapi pada cara kita makan nasi dan teman-teman yang kita ajak makan bersamanya. Coba lihat satu piring makan kita. Nasi. Lalu ditambah mi goreng. Kemudian kerupuk. Ada gorengan. Lauk digoreng dengan minyak. Kadang ditambah kuah santan. Setelah itu minumnya teh manis. Sayurnya? Kadang cuma beberapa helai sebagai penghias piring. 😂 Padahal nasi sendiri terutama merupakan sumber karbohidrat. Yang menjadi persoalan adalah ketika berbagai sumbe...

Awal Mula Kami Jualan Sarapan.

Image
Agustus 2017. Saya berhenti bekerja. Bukan cerita yang enak untuk dibuka, tapi begitulah faktanya — dan dari titik itulah semuanya bermula. Waktu itu saya dan istri duduk berdua, mikir mau ngapain. Bukan sekadar cari kerja baru, tapi mau usaha apa. Setelah muter-muter mikir, pilihan jatuh ke kuliner. Alasannya sederhana: istri saya pandai masak, dan saya sendiri juga suka masak. Kalau dua orang yang sama-sama suka dapur ini serius, harusnya bisa jalan — begitu pikir kami waktu itu. Tapi niat baik saja ternyata belum cukup. Begitu ide itu mulai serius dibicarakan, keraguan datang beruntun. Apa benar bisa? Apa ada yang mau beli? Gimana kalau nggak laku?. Dan yang paling berat justru bukan soal untung rugi, tapi soal gengsi. Bertahun-tahun saya kerja di ruang ber-AC, pakai baju rapi, sekarang malah mau jualan di pasar. Malu rasanya. Orang-orang hampir tidak ada yang kenal saya sebagai "tukang jualan". Bayangan itu terus muncul, bikin langkah jadi berat. Tapi hidup nggak pernah n...

Pembeli Yang Tak Pernah Beli

Ada satu jenis tamu di warung yang, kalau kamu jualan cukup lama, pasti pernah kamu temui. Datang, duduk, tanya menu, tanya harga—tapi nadanya beda. Bukan nada orang yang lagi mikir mau pesan apa. Lebih ke nada orang yang lagi menguji, atau mungkin cuma butuh tempat duduk sambil cari alasan buat nggak beli. Saya punya langganan tamu seperti itu. Sudah beberapa kali datang. Pola yang sama tiap kali: duduk, tanya-tanya menu dan harga, ditawari makan atau minum, lalu pergi tanpa pesan apa-apa. Terakhir dia datang lagi, kali ini nanya ke istri saya. "Mie rebus berapa?" Istri saya jawab, sesuai harga yang memang wajar untuk warung kecil kami. Responnya: "Kok mahal kali, Pak, kami di sini sewa. Bikin di rumah sendiri aja bisa." Istri saya diam. Saya juga malas nimbrung. Kenapa Diam Kadang Lebih Kuat Ada godaan untuk menjelaskan panjang lebar—bahwa harga itu sudah dihitung dari sewa tempat, bahan baku, gas, waktu bangun jam tiga pagi buat racik bumbu. Tapi sebenarnya, oran...

Asal Sebut Kata,

Image
Mungkin Kita Pernah Mengucapkan Sebuah Kata... yang Ternyata Sudah Dimengerti Orang di Belahan Dunia Lain Kadang-kadang, ide menarik muncul bukan saat membaca buku, tetapi ketika sedang melamun. Suatu hari saya iseng mengucapkan beberapa kata yang sebenarnya tidak memiliki arti dalam bahasa yang saya kenal. "Parahong... gudugugu... yonggong... jukjukbong..." Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana. Bagaimana kalau kata-kata yang saya anggap asal itu ternyata memiliki arti di suatu tempat di dunia? Semakin dipikirkan, semakin menarik. Semua manusia memiliki alat ucap yang hampir sama. Kita semua berbicara menggunakan paru-paru, pita suara, lidah, gigi, bibir, dan rongga mulut. Tidak peduli apakah seseorang lahir di Indonesia, Jepang, Brasil, Kenya, atau Islandia, alat untuk menghasilkan suara pada dasarnya sama. Kalau alatnya sama, bukankah bunyi-bunyi yang bisa dihasilkan juga relatif sama? Lalu saya membayangkan dunia yang dipenuhi ribuan bahasa dan lebih banyak lagi dialek....

BIOGRAFI Manusia Paling Lengkap

Image
Paling Kepo dalam Sejarah: Mengapa Biografi Nabi Muhammad Jadi yang Terlengkap di Dunia?. Pernahkah kamu membayangkan bagaimana tokoh-tokoh besar zaman dulu hidup? Kita tahu Julius Caesar atau Alexander Agung adalah orang hebat, tapi pernahkah kamu tahu apa makanan favorit mereka? Bagaimana cara mereka tidur? Atau sedetail apa gaya rambut mereka? Jawabannya: rata-rata kita tidak tahu. Catatan sejarah tentang tokoh zaman kuno biasanya hanya fokus pada perang, politik, atau keputusan besar mereka.Namun, ada satu pengecualian besar dalam sejarah manusia. Beliau adalah Nabi Muhammad SAW. Di kalangan sejarawan dunia (baik Muslim maupun non-Muslim), beliau diakui sebagai tokoh klasik yang kisah hidupnya dicatat paling lengkap, paling detail, dan paling transparan.Mengapa bisa sedetail itu? Yuk, kita bedah alasannya! 1. Hidup di "Terang Benderang" Sejarah Seorang sejarawan asal Prancis bernama Ernest Renan pernah menulis sebuah kalimat terkenal. Ia mengatakan bahwa Islam lahir di ba...

Mengapa disebut "Kampung Halaman?"

Mengapa Disebut "Kampung Halaman", Bukan "Desa Halaman" atau "Kota Halaman"? Pernahkah kita berpikir, mengapa orang Indonesia selalu mengatakan kampung halaman, tetapi tidak pernah mengatakan desa halaman atau kota halaman? Sekilas memang terdengar aneh. Bukankah desa dan kota juga merupakan tempat asal seseorang? Mengapa yang bertahan justru kata kampung? Jawabannya terletak pada sejarah bahasa dan budaya. Dahulu, kata kampung tidak hanya berarti desa. Kampung juga bermakna tempat tinggal, permukiman, komunitas, dan tempat seseorang berasal. Karena maknanya luas, kata ini mampu mewakili ikatan emosional seseorang dengan tanah kelahirannya. Sementara itu, desa dan kota lebih merupakan istilah administratif. Desa adalah wilayah pemerintahan desa, sedangkan kota adalah wilayah perkotaan. Kedua kata ini menjelaskan bentuk wilayah, tetapi tidak selalu menghadirkan nuansa kedekatan batin. Itulah sebabnya ungkapan kampung halaman tetap hidup hingga sekarang. Bah...

Benarkah Roda Kehidupan Berputar

Image
​Mempertanyakan Kembali Filosofi "Hidup Seperti Roda Berputar" ​Kita semua pasti pernah dengar petuah bijak ini: "Hidup itu ibarat roda, kadang di atas, kadang di bawah." Sebuah kalimat yang biasanya jadi mantra penenang saat kita sedang diuji, atau jadi pengingat agar kita tidak sombong saat sedang berjaya. ​Dulu, saya percaya penuh pada kalimat ini. Rasanya adil dan memberikan harapan. Namun, makin ke sini—setelah melihat realitas kehidupan di sekitar—saya mulai ragu. Apakah roda kehidupan itu benar-benar berputar untuk semua orang? ​Saat Roda Mengalami "Macet" ​Kalau kita perhatikan kenyataan di bidang sosial dan ekonomi, siklus berputar ini rasanya agak meleset. ​Coba lihat ke atas. Ada kelompok orang yang kehidupannya seperti selalu berada di puncak roda. Mereka kaya, mapan, dan stabilitas itu terjaga rapi bukan cuma seumur hidup mereka, tapi berlanjut ke anak, cucu, hingga generasi berikutnya. Roda mereka seolah terkunci di atas. ​Sebaliknya, ...

Nasi Bakar

NASI BAKAR. Kalau dipikir-pikir, nasi bakar itu adalah bentuk "kopi kehidupan" dalam wujud makanan. Kenapa? Karena dia mengajarkan kita tentang proses. Nasi yang udah matang, dibumbui, dikasih lauk (kayak ayam suwir, tongkol, atau cumi), dibungkus daun pisang, terus... dibakar lagi. ​Kasihan banget kan nasinya? Udah matang tapi masih harus melewati "ujian api". Tapi justru karena dibakar itulah, aroma daun pisangnya meresap, bumbunya makin menyatu, dan rasanya jadi jauh lebih nikmat dan mahal. ​Kalau dibuat kalimat jenaka yang filosofis ala kopi tadi, jadinya mirip-mirip begini: ​"Hidup itu kayak nasi bakar. Kadang kita merasa udah mapan dan tenang, eh tiba-tiba dibungkus masalah dan dibakar ujian. Tapi tenang, itu cuma proses biar hidup kita makin wangi, sedap, dan punya nilai jual tinggi!" ​Kamu sendiri punya lauk favorit enggak kalau makan nasi bakar? Atau jangan-jangan lagi kepikiran makan nasi bakar sambil ditemani secangkir kopi hitam? Boleh coba, na...

Perihal Halal

Image
Mengapa Masyarakat Indonesia Kurang Peduli Terhadap Produk Halal? Masalah Logo Palsu Hingga Hilangnya Kepercayaan   Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Secara logika, kepedulian terhadap status kehalalan produk makanan dan barang konsumsi seharusnya menjadi hal utama dan prioritas utama. Namun fakta di lapangan berkata lain: masih banyak masyarakat yang cenderung cuek, kurang peduli, atau menganggap halal hanya sebagai hal tambahan saja. Bahkan banyak yang berkata, "yang penting enak dan murah, urusan halal belakangan saja."   Fenomena ini makin terasa masuk akal dan beralasan saat kita melihat banyak kasus yang beredar di media sosial maupun berita. Salah satu yang paling mengerikan adalah ditemukannya produk yang memiliki logo halal, tapi tertulis jelas di kemasan "mengandung bahan asal babi". Ada juga kasus tempat makan atau produk yang menempel logo halal, padahal sama sekali tidak memiliki sertifikat resmi, atau pernah halal lalu b...

MASIH NONTON TV DIRUMAH?

Image
Entah mengapa sejak sekitar 3 tahun ini, saya tidak lagi menghabiskan waktu didepan televisi (TV) setelah pulang kerja atau setelah maghrib. Kalaupun saya menonton TV, biasanya paling berita, atau acara seperti makan, jalan, hal-hal unik, sejenis flora dan fauna,  agama Islam itupun yang sudah dikemas berbeda tidak seperti zaman TV dulu. Dan sayangnya jarang saya nonton sampai habis acara-acara tersebut.  Kalo dulu saya bisa nonton TV berjam-jam, apa karena faktor U, Atau  karena acara TV lebih banyak bikin capek, tambah pusing, bukannya terhibur atau menjadi tenang. Seperti acara perdebatan atau sejenis yang tidak ada solusi, tidak mendidik, muak liat acara TV. Atau karena terlalu banyak pilihan sehingga saya jadi muak dan memutuskan untuk tidak ada yang saya tonton acara TV. Untuk mendapatkan informasi saya tidak lagi mengandalkan TV. Sepertinya apa yang saya rasakan dan bosan terhadap TV bukan saya saja, simak hasil survey berikut. Beralih ke digital Global We...

Jangan Biasakan Mengucapkan 'NAMANYA JUGA (Masih) ANAK-ANAK'

Pernahkan anda mendengar kalimat seperti judul tulisan ini atau sejenisnya, "Namanya anak-anak", atau 'Namanya juga anak-anak', 'Harap Maklum, masih anak-anak'.  Kalimat tersebut biasanya untuk memaklumi tindakan anak, atau kenakalan anak. Orangtua mengeluarkan atau mengucapkan kalimat sejenis itu dalam upaya membela kenakalan anaknya, atau tindakan anaknya yang kurang sopan, atau melebihi perilaku anak-anak umumnya.  Sayangnya terkadang perilaku  anak yang nakal semua dimaklumi atas nama anak-anak, karena kasih sayang orang tua yang berlebihan kepada anak atau ketidak mampuan mendidik anak sang orang tua tidak pernah melarang atau membiarkan perilaku anak menjadi diluar kenormalan anak pada umumnya. Dalam usia balita sianak sudah pandai memaki, mengeluarkan kata-kata kotor, menghina, kasar dan bahkan seolah tak mampu dikendalikan. Pertanyaannya adalah perilaku atau tindakan seorang anak yang macam mana yang harus kita maklumi?. Apakah wajar seorang b...

Enam Bulan Sebelum Serangan jantung, Tubuh Sudah Memberikan Tanda - Gaya Tempo.co

Enam Bulan Sebelum Serangan jantung, Tubuh Sudah Memberikan Tanda - Gaya Tempo.co

OBAT TRADISIONAL ANTI UBAN

Image
Saya melihat iklan atau kemunculan sebuah produk yang mengklaim sebagai Obat Tradisonal anti uban, Minyak Kayu Balitung. Iklannya dapat kita jumpai di berbagai media cukup inten bahkan muncul dimedia-media utama (maksudnya media surat kabar yang memang dulu sudah mapan sebelum adanya, media on line). Iklannya muncul pada media online surat kabar ternama, juga di media sosial lainnya, seperti FB dan sebaginya. Apa yang menjadi perhatian saya atas iklan produk yang mengklaim sebagai obat anti uban tersebut. Coba perhatikan dengan seksama. Pada kertas  berwarna kuning yang menempel pada botol bekas kratingdaeng tersebut, hanya menulis aturan Khasiat (semua dalam huruf besar): Khasiat: OBAT INI DAPAT MENGHITAMKAN RAMBUT ANDA YANG SUDAH PUTIH SERTA RAMBUT YANG MERAH DAN MENUMBUHKAN RAMBUT YANG SUDAH RONTOK. TANPA EFEK SAMPING. ATURAN PAKAI (semua menggunakan huruf besar): SETIAP MALAM MAU TIDUR MINYAKKAN PADA RAMBUT ANDA SELAMA 10 HARI PASTI RAMBUT ANDA MENJADI HITAM. KO...

NASI BAKAR ENAK DI BATAM

Image
Jika anda jalan-jalan ke Batam. Jangan lupa mencoba Nasi Bakar Kedai Nafa di Pasar Mega Legenda Batam Center.  Pasar Mega Legenda Blok C1 no 5, Kelurahan, Baloi Permai, Kec. Batam Kota, Kota Batam, Kepulauan Riau 29444, persis depan cafe Good Day Bakery, atau disebelah kiri jika menghadap pasar basahnya.  Jika anda dari arah airport Hang Nadim ke arah Nagoya, pasar mega legenda berada disebelah kanan, sebalik jika dari arah Nagoya berada disebelah kanan. Tempatnya cukup sederhana, hanya kedai biasa yang numpang di samping sebuah ruko. Nasi bakar kedai Nafa ini, begitu saya rekomedasikan karena selain enak juga karen harganya terjangkau, gak lebih dari lima belas ribu rupiah. Nasi bakar ini saya kira prosesnya tak beda jauh dengan nasi lemak. Hanya saja Nasi yang sudah masak itu, kemudiani dibungkus daun pisang yang didalamnya sudah diisi berbagai   varian ditawarkan, ada ayam, ikan, teri, ayam teri. Kemudian jika ada pembeli akan di Bakar diatas teflon, s...

BERLEBARAN DI KOTA TARAKAN

Image
Lebaran Idul Fitri/Lebaran Puasa tahun 2019 saya tidak bersama istri dan anak-anak, tahun ini tidak di Batam bersama mereka. Hal baru bagi saya sejak menikah tahun 1997 kami selalu bersama merayakan Lebaran. Cukup terasa, sendiri, jauh dan tidak ada sanak famili.  Ini merupakan taqdir yang wajib saya jalani, ketika bekerja mencari nafkah demi istri dan anak-anak, nun jauh dari kelaurgapun dijalani. Tapi alhamdulillah ada teman saya yang satu perusahaan satu atap tempat menginap untuk mengistirahatkan diri, dan sama-sama keluarga (istri dan anak) jauh, kami senasib, walau beda keyakinan. Dalam merayakan lebaran tahun ini kami berkeliling bersama.  Setelah selesai menunaikan sholat ied kamipun berangkat menuju sasaran pertama, rumahnya tak jauh dari perusahaan tempat kami bekerja sekaligus juga tempat kami menetap (mes/akomodasi) yang disediakan perusahaan. Makanan berat pertama yang disuguhkan adalah soto jawa, karena orang yang kami kunjungi pertama memang orang jawa,...