Asal Sebut Kata,
Kadang-kadang, ide menarik muncul bukan saat membaca buku, tetapi ketika sedang melamun.
Suatu hari saya iseng mengucapkan beberapa kata yang sebenarnya tidak memiliki arti dalam bahasa yang saya kenal.
"Parahong... gudugugu... yonggong... jukjukbong..."
Lalu muncul sebuah pertanyaan sederhana.
Bagaimana kalau kata-kata yang saya anggap asal itu ternyata memiliki arti di suatu tempat di dunia?
Semakin dipikirkan, semakin menarik.
Semua manusia memiliki alat ucap yang hampir sama. Kita semua berbicara menggunakan paru-paru, pita suara, lidah, gigi, bibir, dan rongga mulut. Tidak peduli apakah seseorang lahir di Indonesia, Jepang, Brasil, Kenya, atau Islandia, alat untuk menghasilkan suara pada dasarnya sama.
Kalau alatnya sama, bukankah bunyi-bunyi yang bisa dihasilkan juga relatif sama?
Lalu saya membayangkan dunia yang dipenuhi ribuan bahasa dan lebih banyak lagi dialek. Setiap bahasa menyusun kata dari bunyi-bunyi yang hampir sama, tetapi dengan makna yang berbeda.
Di sinilah pikiran saya berkelana.
Bisa jadi, bunyi yang keluar begitu saja dari mulut saya ternyata adalah nama sebuah desa di negara lain.
Bisa jadi, itu nama seseorang.
Bisa jadi, nama makanan.
Bisa jadi pula sebuah kata yang sudah diucapkan turun-temurun selama ratusan tahun oleh suatu suku yang belum pernah saya dengar.
Tentu, tidak berarti setiap bunyi pasti memiliki makna. Ada juga bunyi yang mungkin memang belum menjadi kata dalam bahasa mana pun.
Namun, dengan begitu banyak bahasa di bumi ini, rasanya peluang adanya "kebetulan" seperti itu cukup besar.
Hal ini membuat saya berpikir bahwa bahasa adalah salah satu keajaiban manusia.
Kita hidup di dunia yang sama, menggunakan alat ucap yang sama, tetapi menghasilkan ribuan bahasa yang berbeda. Anehnya, sesekali semua itu bisa saling bersinggungan hanya karena sebuah bunyi yang kebetulan sama.
Mungkin itulah sebabnya kita tidak boleh merasa bahwa bahasa kita adalah pusat dari segala-galanya. Apa yang terdengar asing bagi kita, bisa jadi sangat akrab bagi orang lain.
Dan saya pun membayangkan sebuah pemandangan yang indah.
Mungkin, pada saat saya mengucapkan sebuah kata secara asal di Batam, pada detik yang hampir bersamaan, ada seorang anak kecil di belahan dunia lain yang mendengar kata itu lalu tersenyum karena baginya kata itu berarti "ibu", "rumah", "air", atau "harapan".
Entah benar atau tidak.
Tetapi bukankah dunia menjadi jauh lebih menarik ketika kita berani bertanya, daripada terlalu cepat merasa sudah tahu segalanya?
Karena sering kali, pengetahuan dimulai bukan dari jawaban, melainkan dari satu pertanyaan sederhana.
"Jangan-jangan..."
Comments