Seharusnya di Usia Ini, Saya Tinggal Menikmati Hidup


Beberapa tahun yang lalu, saya hampir setiap hari berbelanja di sebuah warung sembako. Membeli kebutuhan untuk warung kami, mulai dari gula, kental manis, garam, teh, kecap, saus, dan berbagai keperluan lainnya.

Pemilik warung itu belum lama saya kenal. Ia juga baru membuka usaha toko kelontongnya. Sebelumnya, saya biasa berbelanja di tempat lain. Namun, seperti kebanyakan hubungan antarpedagang dan pembeli, perkenalan itu perlahan tumbuh dari transaksi sederhana yang terjadi hampir setiap hari.

Mungkin karena sering melihat saya datang berbelanja, ia mulai memperhatikan usia dan aktivitas saya.

Suatu hari, ketika sedang melayani pembeli lain, tiba-tiba ia berkata kepada saya.

"Bapak, dengan usia sekarang, seharusnya tinggal menikmati hidup. Banyak beribadah."

Saya terdiam sejenak.

Kalimat itu sederhana. Tidak ada yang salah dengan nasihatnya. Bahkan, saya bisa memahami maksud baik di balik ucapannya.

Siapa yang tidak ingin menikmati hidup ketika usia sudah semakin bertambah? Menjalani hari dengan tenang, tidak lagi terlalu memikirkan penghasilan, tidak dikejar-kejar kebutuhan, dan memiliki lebih banyak waktu untuk beribadah, berkumpul bersama keluarga, atau sekadar duduk menikmati secangkir kopi tanpa memikirkan apa yang harus dikerjakan esok hari.

Kalau boleh memilih, tentu saya juga ingin seperti itu.

Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Ada kenyataan yang tidak bisa kita hindari. Ada tanggung jawab yang masih harus diselesaikan. Ada kebutuhan yang tetap harus dipenuhi, meskipun usia terus bertambah.

Usia boleh bertambah, tetapi kebutuhan hidup tidak otomatis berkurang.

Bahkan, bagi sebagian orang, memasuki usia yang seharusnya menjadi masa untuk beristirahat justru menjadi masa ketika mereka harus tetap berjuang.

Bukan karena tidak tahu bagaimana menikmati hidup. Bukan pula karena tidak ingin memperbanyak ibadah. Melainkan karena keadaan belum sepenuhnya memberikan kesempatan untuk melakukan semua itu.

Saya dan istri masih menjalankan usaha kuliner. Setiap hari ada yang harus dipersiapkan, ada dagangan yang harus dibuat, ada harapan yang dititipkan pada setiap makanan yang kami jual.

Kadang dagangan laris, kadang sepi. Kadang pulang dengan perasaan lega, kadang harus menerima kenyataan bahwa hasil hari itu tidak seperti yang diharapkan.

Begitulah kehidupan yang sedang kami jalani.

Mungkin bagi orang lain, usia seperti saya sudah pantas digunakan untuk menikmati hasil perjalanan hidup. Namun, mereka belum tentu mengetahui apa yang ada di balik kehidupan seseorang.

Mereka melihat usia kita, tetapi belum tentu mengetahui beban yang kita pikul.

Mereka melihat kita masih bekerja, tetapi belum tentu memahami alasan kita harus terus bekerja.

Sebab, setiap orang memiliki perjalanan hidupnya sendiri. Ada yang sejak muda sudah memiliki kemapanan sehingga ketika tua tinggal menikmati hasilnya. Ada pula yang harus terus berusaha karena kehidupan belum memberinya kesempatan untuk benar-benar berhenti.

Dan tidak semua orang memiliki kemewahan untuk memilih.

Kita Tidak Selalu Bisa Memilih Jalan Hidup

Dulu, mungkin kita memiliki banyak impian tentang bagaimana menjalani masa tua. Ingin hidup tenang, memiliki cukup uang, tidak merepotkan anak-anak, dan tidak lagi harus memikirkan penghasilan setiap hari.

Namun, kenyataan sering kali memiliki rencana yang berbeda.

Ada usaha yang tidak selalu berkembang sesuai harapan. Ada tabungan yang harus digunakan untuk berbagai kebutuhan. Ada tanggung jawab keluarga yang tidak selesai hanya karena usia kita bertambah.

Akhirnya, kita tetap berjalan. Bukan selalu karena ambisi, melainkan karena kehidupan masih meminta kita melakukan sesuatu.

Di sinilah saya belajar bahwa tidak semua orang yang masih bekerja di usia senja adalah orang yang tidak tahu cara menikmati hidup.

Bisa jadi, justru mereka sedang berusaha mempertahankan kehidupan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.

Mereka tidak sedang mengejar kemewahan. Mereka hanya ingin tetap mandiri, tetap bisa memenuhi kebutuhan, dan tidak menjadi beban bagi orang lain.

Bagi mereka, bekerja bukan sekadar mencari uang. Bekerja juga bisa menjadi bentuk tanggung jawab, ikhtiar, dan cara menjaga harga diri.

Menikmati Hidup Tidak Harus Menunggu Kita Berhenti Bekerja

Meski begitu, nasihat pemilik warung tadi tetap mengingatkan saya pada sesuatu yang penting.

Jangan sampai kita terlalu sibuk berjuang mencari nafkah, sampai lupa menikmati kehidupan yang sedang kita jalani.

Jangan sampai kita terus mengejar hari esok, tetapi tidak pernah mensyukuri hari ini.

Mungkin kita belum bisa berhenti bekerja. Mungkin kita belum bisa menikmati masa tua seperti yang kita impikan. Namun, bukan berarti kita sama sekali tidak bisa menikmati hidup.

Kita masih bisa bersyukur ketika tubuh masih mampu bekerja. Masih bisa menikmati secangkir kopi bersama pasangan. Masih bisa tertawa meskipun dagangan hari itu tidak habis. Masih bisa merasa bahagia ketika ada pelanggan yang datang kembali.

Dan yang tidak kalah penting, kita masih bisa beribadah di sela-sela kesibukan.

Sebab, ibadah bukan hanya tentang menunggu sampai semua urusan dunia selesai. Selama dilakukan dengan ikhlas dan sesuai tuntunan agama, bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan keluarga pun merupakan bagian dari ikhtiar yang bernilai ibadah.

Barangkali yang perlu kita lakukan bukan menunggu kehidupan menjadi sempurna untuk merasa bahagia, melainkan belajar menemukan rasa syukur di tengah kehidupan yang belum sempurna.

Saya tidak tahu apakah pemilik warung itu memahami keadaan saya atau sekadar menyampaikan nasihat yang menurutnya baik.

Namun, ucapannya membuat saya berpikir lebih jauh.

Betapa mudahnya kita membayangkan kehidupan orang lain berdasarkan apa yang terlihat di depan mata. Padahal, di balik wajah yang tampak biasa saja, mungkin ada perjuangan yang tidak pernah mereka ceritakan.

Karena itu, sebelum mengatakan kepada seseorang bahwa ia seharusnya sudah menikmati hidup, mungkin kita perlu memahami bahwa setiap orang memiliki keadaan yang berbeda.

Nasihat yang baik akan terasa lebih bermakna ketika disertai pemahaman dan empati.

Dan bagi kita yang masih harus berjuang, jangan terlalu keras menyalahkan diri sendiri hanya karena kehidupan belum berjalan seperti yang kita harapkan.

Kita boleh lelah. Kita boleh berharap suatu hari nanti bisa beristirahat lebih lama. Kita juga boleh bermimpi menikmati masa tua dengan lebih tenang.

Tetapi selama keadaan belum memungkinkan, jalani saja apa yang masih menjadi tanggung jawab kita, satu hari demi satu hari.

Sebab, kita memang tidak selalu bisa memilih keadaan. Namun, kita masih bisa memilih bagaimana menyikapinya.

Kalau boleh memilih, saya juga ingin tinggal menikmati hidup dan memperbanyak ibadah. Namun, hidup tidak selalu memberi kita pilihan seperti itu.

Maka, selama masih diberi kemampuan, saya akan terus berusaha. Bukan karena tidak ingin beristirahat, melainkan karena masih ada tanggung jawab yang harus dijalani.

Dan semoga, di antara kesibukan dan perjuangan itu, saya tetap diberi kesempatan untuk bersyukur, beribadah, serta menikmati hal-hal sederhana yang sering kali justru menjadi sumber kebahagiaan.

Karena pada akhirnya, mungkin yang paling kita butuhkan bukanlah kehidupan tanpa perjuangan, melainkan hati yang tetap tenang saat harus berjuang.



Comments

Popular posts from this blog

DARAH QURBAN SAPI UNTUK OBAT TELAPAK KAKI

SEKSOLOGI GAYA NAEK L. TOBING

VISIT BATAM 2010 (Tukang Patri)