Awal Mula Kami Jualan Sarapan.

Agustus 2017. Saya berhenti bekerja. Bukan cerita yang enak untuk dibuka, tapi begitulah faktanya — dan dari titik itulah semuanya bermula.
Waktu itu saya dan istri duduk berdua, mikir mau ngapain. Bukan sekadar cari kerja baru, tapi mau usaha apa. Setelah muter-muter mikir, pilihan jatuh ke kuliner. Alasannya sederhana: istri saya pandai masak, dan saya sendiri juga suka masak. Kalau dua orang yang sama-sama suka dapur ini serius, harusnya bisa jalan — begitu pikir kami waktu itu.
Tapi niat baik saja ternyata belum cukup. Begitu ide itu mulai serius dibicarakan, keraguan datang beruntun.
Apa benar bisa? Apa ada yang mau beli? Gimana kalau nggak laku?.

Dan yang paling berat justru bukan soal untung rugi, tapi soal gengsi. Bertahun-tahun saya kerja di ruang ber-AC, pakai baju rapi, sekarang malah mau jualan di pasar. Malu rasanya. Orang-orang hampir tidak ada yang kenal saya sebagai "tukang jualan". Bayangan itu terus muncul, bikin langkah jadi berat.
Tapi hidup nggak pernah nunggu kita selesai ragu.

Anak pertama masih kuliah. Anak kedua masih SMA. Dua-duanya butuh biaya, dan biaya itu nggak bisa ditunda cuma karena bapaknya masih sibuk mikirin gengsi. Di titik itu saya mulai tanya balik ke diri sendiri: kenapa harus malu? Ini kerjaan halal. Nggak ada yang salah dari jualan di pasar. Soal laku atau nggak laku, itu urusan nanti — yang penting jalan dulu.

1 Desember 2017, kami mulai jualan sarapan. Resmi. Dari situ sampai sekarang, jalan terus.
Menu awal kami waktu itu ada nasi bakar, soto, dan bubur lemu Solo. Bubur lemu ini yang paling banyak ceritanya — nggak lama kami hentikan. Selain sering nggak laku, prosesnya juga lama karena kami memang belum tau tekniknya, dan yang bikin makin susah, buburnya sering bau gosong. Dari situ kami belajar, nggak semua menu yang enak di lidah cocok untuk dijalankan di lapangan. Kadang harus realistis, mana yang bisa kami kuasai dan mana yang bikin capek sendiri tanpa hasil.
Soal nasi bakar sendiri, ada cerita tersendiri. 

Awal 2017, menu ini masih terbilang langka. Banyak orang penasaran, coba-coba beli, terus akhirnya jadi pelanggan tetap. Bahkan ada yang sampai ikut mempromosikan — beli, lalu dikirim ke teman atau kerabatnya. Saya sempat bilang ke istri, orang-orang yang rajin beli dalam jumlah banyak itu belum tentu semuanya untuk dinikmati sendiri, mungkin sebagian juga mau coba bikin sendiri. Dan benar saja, belakangan kami tau setidaknya dua pelanggan kami sendiri akhirnya ikut berjualan nasi bakar. Sekarang, di Batam, jualan nasi bakar sudah lumayan banyak ditemukan.

Alhamdulillah, sekarang menu kami sudah lebih mantap dan bertahan: nasi bakar aneka rasa (menu yang dari awal tetap kami pertahankan), lontong sayur tauco, nasi lemak atau nasi liwet, soto, mie rebus atau goreng, nasi goreng, ditambah aneka minuman — kopi, teh manis hangat (orang Batam biasa bilang teh o), teh manis dingin (teh obeng), milo panas dan dingin, dan beberapa lainnya.
Banyak suka dukanya. Ada hari dagangan ludes sebelum siang, ada juga hari yang sepi dan bikin mikir keras. Tapi satu hal yang paling saya ingat dan syukuri: yang paling banyak datang dan jadi pelanggan bukan saudara, bukan teman lama, bukan sahabat — justru orang-orang yang sama sekali belum saya kenal sebelumnya. Orang asing yang awalnya cuma lewat, coba-coba beli, terus jadi langganan.

Dari situ saya belajar, rezeki itu memang sering datang dari arah yang nggak kita duga. Dan pelan-pelan, jualan yang tadinya saya mulai dengan berat hati dan penuh keraguan, sekarang malah jadi hal yang saya nikmati. Makin lama makin asyik.

Kalau ditanya sekarang, apa saya nyesel keluar kerja tahun 2017 itu? Nggak. Karena kalau nggak ada keputusan waktu itu, mungkin saya masih di ruang ber-AC, dengan gengsi yang utuh tapi hati yang nggak tenang.

Comments

Popular posts from this blog

DARAH QURBAN SAPI UNTUK OBAT TELAPAK KAKI

VISIT BATAM 2010 (Tukang Patri)

SEKSOLOGI GAYA NAEK L. TOBING