Nasi Bukan Musuh, Mungkin Kita Salah Memilih Temannya
Belakangan ini nasi sering sekali mendapat tuduhan.
Makan nasi katanya bikin gemuk. Nasi bikin gula darah naik. Nasi penyebab diabetes. Bahkan ada yang sampai menyarankan, kalau ingin sehat, tinggalkan nasi.
Saya jadi berpikir: kasihan juga si nasi. 😄
Padahal nasi sudah menjadi makanan pokok masyarakat Indonesia selama turun-temurun. Bukan hanya Indonesia, sebagian besar masyarakat Asia juga hidup berdampingan dengan nasi.
Lalu, apakah selama ini nasi memang sejahat itu?
Kalau kita melihatnya lebih jernih, persoalannya mungkin bukan pada nasinya, tetapi pada cara kita makan nasi dan teman-teman yang kita ajak makan bersamanya.
Coba lihat satu piring makan kita.
Nasi.
Lalu ditambah mi goreng.
Kemudian kerupuk.
Ada gorengan.
Lauk digoreng dengan minyak.
Kadang ditambah kuah santan.
Setelah itu minumnya teh manis.
Sayurnya?
Kadang cuma beberapa helai sebagai penghias piring. 😂
Padahal nasi sendiri terutama merupakan sumber karbohidrat. Yang menjadi persoalan adalah ketika berbagai sumber energi kita tumpuk dalam satu waktu, sementara sayuran, buah dan serat justru kurang.
WHO merekomendasikan orang dewasa mengonsumsi setidaknya 400 gram buah dan sayuran per hari serta menekankan pola makan yang beragam dan seimbang.
Jadi sebenarnya bukan berarti kita harus takut makan nasi.
Yang perlu kita pikirkan adalah:
Berapa banyak nasinya?
Apa lauknya?
Berapa banyak minyaknya?
Berapa banyak gula dalam minumannya?
Ada sayurnya atau tidak?
Dan yang tidak kalah penting:
Setelah makan, kita bergerak atau langsung duduk lagi?
Nasi + mi, sebuah persahabatan yang agak berlebihan
Ini menarik.
Nasi sering dituduh sebagai sumber karbohidrat berlebihan.
Tetapi pada saat yang sama kita bisa makan nasi bersama mi.
Padahal mi juga sumber karbohidrat.
Kemudian ditambah kerupuk yang bahan utamanya juga tepung.
Belum lagi gorengan.
Jadi kalau kemudian tubuh mendapatkan energi berlebihan, rasanya kurang adil kalau nasi seorang diri yang dituduh sebagai biang keladinya. 😄
Ibaratnya satu rumah ramai-ramai membuat keributan, tetapi yang ditangkap hanya satu orang.
Bagaimana dengan rumah makan Padang?
Ini juga menarik.
Kita sering melihat sepiring nasi Padang yang lengkap dengan lauk, kuah dan sayuran.
Sebenarnya rumah makan Padang menyediakan sayuran juga—daun singkong, nangka, kacang panjang dan sebagainya.
Masalahnya adalah pilihan kita.
Kalau mengambil nasi secukupnya, sayur cukup, lauk secukupnya, kemudian tidak berlebihan dengan makanan yang digoreng dan kuah yang tinggi lemak, tentu berbeda dengan nasi yang menggunung, rendang, gulai, perkedel, kerupuk dan ditutup es teh manis. 😂
Rumah makannya tidak salah.
Kita yang kadang terlalu bersemangat.
Jadi, apakah nasi sehat?
Jawabannya tidak perlu dibuat ekstrem.
Nasi bukan racun, tetapi nasi juga bukan berarti boleh dimakan tanpa batas.
Nasi putih memang dapat meningkatkan gula darah lebih cepat dibanding beberapa jenis beras yang lebih utuh dan tinggi serat. Karena itu, porsi dan keseluruhan pola makan tetap penting.
Tetapi menghilangkan nasi sama sekali juga bukan satu-satunya jalan menuju kesehatan.
Yang lebih masuk akal adalah membuat piring makan kita lebih seimbang:
🍚 nasi secukupnya
🥬 sayur lebih banyak
🥚 lauk berprotein
🍎 buah
🥤 air putih
Dan jangan lupa bergerak.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti bertanya:
“Berapa banyak nasi yang boleh saya makan?”
Dan mulai bertanya:
“Seperti apa keseluruhan makanan yang saya makan setiap hari?”
Karena kesehatan tidak ditentukan oleh satu jenis makanan, melainkan oleh kebiasaan makan kita dalam jangka panjang.
Jadi, kalau suatu hari ada yang mengatakan:
“Nasi itu sumber penyakit!”
Mungkin kita tidak perlu langsung membantah.
Cukup tanyakan dengan santai:
“Nasinyakah yang salah, atau teman-temannya terlalu banyak?” 😄
Dan mungkin, jawabannya ada di piring kita sendiri.
Comments