Thursday, August 20, 2015

MASAK BAHASA INDONESIA 'RIBET'

Kemarin Rabu tanggal 19 Agustus 2015, saya menghadiri undangan dengan judul acara yang cukup bagus 'Business Matching'. Ada beberapa pengusaha dari Jepang tepatnya dari Yokohama yang bergerak dalam pengelolaan Limbah Industri. Rupanya mereka tertarik untuk mengelola limbah di Batam setelah sukses bekerja sama 'sister city' dengan beberapa kota besar di Indonesia.

Dan Batampun juga begitu tertarik untuk hal ini, ini terbukti ditampilkannya photo kegiatan yang berkaitan dengan hal ini; Bapak Ahmad Dahlan Walikota Batam bersama Walikota Yokohama di Yokohama Jepang, kemudian Ketua BP Kawasan Bapak Mustofa dan rombongan juga berkunjung ke Yokohama. 

Batam adalah sebuah pulau kecil dengan tingkat pertumbuhan penduduknya sangat tinggi, saat ini jumlah warga Batam sudah melebihi satu juta jiwa. Penduduk berkaitan dengan sampah dan atau limbah baik rumah tangga maupun industri. Dari tahun ke tahun persoalan sampah / limbah ini terus meningkat dan seolah semakin sulit dikendalikan. Menurut pakar cara pengelolaan sampah di Batam masih termasuk tradisional, yaitu; Buang oleh warga - Kumpul oleh pengelola - Angkut oleh pengelola - Buang lagi oleh pengelola di tempat penampungan akhir. Cara ini tidak menghasilkan apa-apa (manfaat ekonominya tidak ada) dan hingga beberapa tahun kemudian akan menimbulkan masalah; daya tampung, dan polusi yang ditimbulkan. Itu sekilas aja supaya tulisan saya agak panjang. Tulisan saya bukan itu sebenarnya.

Na..ketika beberapa saat acara dimulai, duduklah seorang pria persis disamping saya, berpakaian rapi lengkap dengan jas dan dasi dan tas kantoran -mungkin isinya laptop. Tak lama dua orang wanita (sepertinya bahagian dari panitia penyelenggara acara) menghampiri dan berbincang dengan pria disamping saya itu. Lalu terjadilah dialog kira-kira seperti berikut:

"Maaf pak, bapak sudah siapkan materi Bapak?"
"Sudah", sambil membuka tas lalu mengeluarkan flashdisk lalu memberikan ke salah seorang wanita.
"Baik Pak terima kasih, apa nama filenya". Kemudian si pria menjawab dan menjelaskan namun saya kurang mendengar dan si wanita yang menerima flashdisk itu mengangguk.
"Maaf pak, nanti Bapak menjelaskan materi menggunakan bahasa apa?" wanita yang lebih besar dan tinggi bertanya kepada pria itu.
"Terserah....Bahasa Inggris boleh Bahasa Indonesia juga boleh". Ujar si pria.
"Bahasa Inggris saja pak, pakai Bahasa Indonesia nanti ribet, setelah bapak bicara nanti harus di terjemahkan lagi".
"Baik". Kata si pria. Kamipun kemudian berdiskusi panjang sebelum ia naik ke mimbar.

Dalam hati saya kenapa bahasa Indonesia menjadi beban dan menjadi ribet, padahal acaranya di Indonesia, peserta acara itu juga lebih banyak orang Indonesia. Memang kemudian pembawa acara, pemberi kata sambutan Pihak Pemko Batam, dari BIFZA (Batam Indonesia Free Zone Authority), dari Jepang semuanya menggunakan Bahasa Inggris. Kemudian para nara sumber juga semuanya orang Indonesia menggunakan bahasa Inggris kecuali dari Bapedal kota Batam. Nah yang unik Nara Sumber dari Jepang malah menggunakan Bahasa Jepang, lalu kemudian sedikit demi sedikit diterjemahkan oleh penerjemah yang lancar berbahasa Jepang..

Saya heran yang orang kita oleh panitia disarankan menggunakan bahasa Inggris, sedang orang Jepang malah berbahasa Jepang. Yang 'ribet' itu dimana?. Bahasa Indonesia malah dianggap ribet atau malah dianggap penghambat. Tidak banggakah kita dengan Bahasa Indonesia?.

No comments: