Wednesday, December 5, 2012

PENIPU CINTA 7.

"Aku fikir itu adalah keputusan yang sangat emosional, dan begitu tergesa-gesa, biasanya akan ada penyesalan".
"Aku sudah memikirkannya berulang-ulang mang, walaupun terkadang aku ingin sekali tetap bisa memantaunya, bahkan terkadang menyayangkan tindakan itu, tapi akukan tetap harus punya sikap mang, tak mungkin..kan...terus  tersandera oleh perasaan romantisme yang semakin tak jelas ujungnya".
"Apa yang kamu harapkan darinya?, Cintanya, Tubuhnya atau keduanya?, Tubuhnya milik orang lain dan sudah tidak seindah zaman Soeharto!"
"Maksud mamang?".
"Zaman Soeharto tentu, masih sintal, padat, kulitnya kencang, wajahnyapun masih aduhai, sekarang zaman SBY, tentu sudah, kendur, lembek, gemuk, dah kurang menariklah dari segi fisik, jadi ngapain kamu, tetap memelihara rasa itu, kamu harus segera belajar melupakannya".
"Mang dulu, ketika memulai aku pernah mengirimkan sebuah puisi untuknya,...diujung puisi ada kalimatku yang berbunyi 'apakah aku harus memuji atau memaki', atas kekagumanku padanya. Kini sepertinya aku kok ingin memakinya".
"Kenapa?"
"Karena aku sakit hati...dipermainkannya"
"Sudahlah....ini sudah zaman SBY!, kamu bisakan melupaknnya, kamu itu sebenarnya keluar jadi pemenang, walau kamu tak memilikinya secara utuh, namun cintanya untukmu".

Kamipun menutup pembicaraan, karena waktu istirahat sudah selesai, kami harus memulai kerja kembali. Sepertinya memang ada dalam kehidupan nyata PENIPU CINTA. Berpura-pura mencintai, entah apa motifnya, dan sangat mungkin sang Penipu Cinta sangat menikmati keadaan / situasi itu, walau sangat kilat. Korban Penipu Cinta sangat mungkin menderita lahir dan batin, materi dan non materi.

No comments: