Friday, January 30, 2009

HIDUP DIIMING-IMING


Tanpa kita sadari hidup kita dipenuhi oleh iming-iming. Hampir semua kegiatan yang kita lakukan sehari-hari tak lepas dari upaya diimingi. Anda bicara melalui telepon diimingi, anda beli kartu untuk telepon genggam anda diimingi, and ber SMS diimingi, anda belanja juga diimingi, anda minum sirup, menyuci pakaian dengan deterjen, memasak juga diiming, anda menabung di bank dimingi, anda naik pesawat atau melakukan perjalanan diimingi, anda nonton sinetron diimingi, anda nonton gosippun diimingi, anda ikut sumbang saran atau memberikan jawaban atas poling pendapat diberi iming-iming, anda ikut nyoblos pada pemilu saja ada yang mengiming-imingi, bahkan ketika ada buronan kelas kakap yang melarikan diri kitapun diimingi. Pendek kata hampir semua kegiatan kita seluruhnya diliputi iming-iming.
Iming-iming tersebut bisa berupa duit, bonus, barang atau benda, potongan harga, semua dalam kemasan yang dibuat semenarik mungkin sehingga banyak kalangan yang hampir selalu mengikuti setiap upaya iming-iming tersebut. Siapa yang tak tertarik dengan bermodal kecil, boleh mendapatkan hadiah besar, bahkan ada diantara iming-iming itu yang menawarkan seumur hidup. Iming-iming terkadang menyembunyikan fakta yang sesungguhnya dari suatu hal.
Upaya iming-iming yang sangat gencar tersebut, ternyata tak bertepuk sebelah tangan, masyarakat menyambutnya dengan suka cita. Sambutan masyarakat kita yang seperti itu sesungguhnya adalah gambaran dari kehidupan masyarakat kita. Secara kultural memang masyarakat kita mudah terpedaya, mudah terbuai, suka dengan jalan pintas. Jumlah masyarakat yang berpenghasilan bawah hingga sedang lebih banyak dari pada jumlah yang berpenghasilan tinggi mereka adalah kelompok masyarakat yang paling mudah diincar untuk di iming-imingi. Komposisi antara orang miskin dan kurang berpendidikan jumlahnya lebih banyak dari pada orang kaya dan berpendidikan tinggi
Permasalahan-permasalahan tersebut ditangkap sebagai peluang yang sangat besar oleh orang, kelompok tertentu untuk mengeruk keuntungan yang luar biasa besarnya. Celakanya lagi ada sebahagian masyarakat kita tak ingin berpartisipasi jika tak diimingi, dan jumlah yang seperti ini dari tahun ketahun semakin bertambah dan meluas di masyarakat. Bukanlah rahasia lagi penerimaan CPNS adalah hal yang ditunggu-tunggu kalangan tertentu, karena melihat peluang iming-imingnya sangat besar. Jumlah yang ingin lulus lewat “jalan belakang” lebih banyak dari pada yang ingin lulus secara jujur dan mengandalkan kebolehan. Godaan iming-iming ternyata tak selamanya menghampiri kalangan masyarakat menengah kebawah, tapi juga melanda masyarakat kelas atas/berpunya atau "the have".
Untuk golongan atas/berpunya ini sifat dan jenis iming-iming tentu saja berbeda, namun tetap saja ujung-ujungnya duit dan kekayaan serta popularitas. Kita lihat dan kita dengar betapa banyaknya golongan ini yang tertipu untuk menggadakan uangnya baik yang sama sekali tak masuk akal maupun yang seolah masuk akal. Bagaimana mungkin menggandakan uang dengan hanya menjampi-jampi uang dalam ruang gelap bisa menjadi banyak, yang sedikit masuk akal adalah iming-iming dengan menanamkan modal dalam suatu usaha, seperti di agro bisnis, perbankan. Lain lagi iming-iming popularitas, banyak yang tergiur untuk populer lalu mengorbankan apa saja termasuk harga diri. Bukan rahasia lagi jikalau para pengejar popularitas itu bersedia "diapakan" saja asal dapat popular, termasuk berhutang kesana-kemari.
Anda mungkin tau bagaimana pemilihan Indonesia Idol dan sejenisnya dibeberapa televisi adalah salah satu bentuk iming-iming, untuk menjadi popular dan kaya, tapi lihat hasilnya adakah mereka benar-benar popular dalam arti sukses sebagai penyanyi rekaman maupun panggung. Sepertinya belum ada, bahkan pemenangnya ada yang sudah dilupakan orang.
Jalan pintas untuk memiliki sesuatu atau jalan pintas untuk menjadi kaya, telah membuat upaya iming-iming menjadi meluas, menjadi bagian dari setiap kegiatan kita. Tidak sedikit orang yang tertipu puluhan juta rupiah karena iming-iming tadi. Puluhan ribu manusia tertipu iming-iming kerja di Malaysia, namun itu tak membuat upaya iming-iming surut dan tak membuat manusia lain untuk menarik pelajaran dari kejadian tersebut. Mereka selalu terbuai, terpedaya maka korban selalu ada dari sebuah iming-iming.
Peluang dari sebuah iming-iming sangatlah kecil, namun dengan kalimat sakti “semakin banyak anda lakukan maka peluangnya semakin besar”. Peserta iming-iming ini semakin terpedaya, terbuai untuk yakin tentang peluang itu, padahal sama saja saat anda lakukan sekali dangan berkali-kali/banyak. Iming-iming dan “kalimat sakti” telah membius. Jikapun ada orang yang mendapatkan iming-iming itu tetap saja keuntungan yang diraih para pemilik iming-iming tak sebanding dengan hadiah yang dikeluarkannya untuk para pemenang.Maka TERTIPULAH KITA, PEMILIK IMING-IMINGLAH YANG MENANG DAN UNTUNG. 

KOLUBI ARMAN,SE

No comments: