Monday, March 30, 2015

APAKAH ORANG PALEMBANG PEDULI?.

Sabtu tanggal 28 Maret 2015, lalu saya 'balek' (pulang) Palembang. Saya berangkat pukul 16.30 dengan menggunakan citilink, tadinya saya sudah memesan tiket dengan keberangkatan pukul 07.30 pagi, namun oleh pihak citilink dirubah menjadi sore hari dengan alasan penumpang di pagi hari sedikit. Saya dipaksa mengalah padahal saya sudah merencanakan beberapa hal. Seperti ingin singgah di Martabak HAR, salah satu makanan terkenal di Kota Palembang yang kufikir kurang lengkap jika tidak singgah. Walaupun di Batam sudah ada cabangnya dan saya agak sering juga makan Martabak HAR di Batam tapi kalau yang di Palembang tentu terasa lebih istimewa.

Sampai di Palembang hampir pukul 18.00, abang ipar saya sudah menanti. Mobil yang menjemput saya langsung menuju Indralaya, tempat ayukku. Jalan dari lapangan terbang menuju jembatan musi 2 masih mulus, namun begitu mendekati jembatan musi 2 jalan sangat jelek; bergelombang, berlubang. Kemudian di jalan kami langsung bertemu dengan banyak sekali truk baik yang kecil, sedang hingga yang sangat besar melintas di jalur lain yang berbeda arah dengan kami, atau yang searah dengan kami. Menurut kiay/abang iparku muatan truk itu bermacam-macam. Sembako, bahan bangunan, pupuk, hasil pertanian, semen, getah karet, kayu gelondongan dan bahkan batubara. 

Laju kendaraan kami otomatis melambat dan terkadang malah berhenti karena macet atau karena kendaraan lain harus mengikuti irama kendaraan besar seperti truk-truk itu. saya menduga kerusakan jalan yang parah itu disebabkan kendaraan besar yang melebihi kemampuan jalan menahan beban. Konon batubara yang melintas tiap hari itu antara 6 - 8 ton, mungkin lebih. Mendekati Indralaya laju kendaraan semakin lambat karena jalan tidak lagi dua arah, tapi satu jalur yang kecil, dibeberapa titik malah hanya bisa dilewati 2 kendaraan saja. Jalan-jalan itu benar-benar buruk, Bulan Agustus 2014 lalu saya sempat pulang juga ke Palembang, saya melihat jalannya tambah rusak dan belum ada perkembangan apa-apa. Konon kerusakan jalan Pelembang-Indralaya itu sudah berlangsung lama, kalaupun ada perbaikan hanya tambal sulam, bahkan di banyak titik kerusakan justru pada jalan yang sudah pernah di tambal sulam itu, itu saya lihat saat pada pagi hari minggu menuju lapangan terbang.

Jalan Palembang - Indralaya itu merupakan jalan yang sangat vital, namun sepertinya PEMDA SUMSEL terkesan abai masalah ini. Kemana Gubernur, kemana orang-orang hebat di Palembang. Disayangkan juga masyarakat pengguna jalan vital itu hanya diam saja, tidak bergerak untuk menuntut ramai-ramai agar jalan itu segera diperbaiki dan melarang kendaraan melintas jika melebihi kapasitas. Konon pula kendaraan-kendaraan batubara itu milik orang penting di SUMSEL.

Di Indralaya saya melihat sendiri petugas berseragam abu-abu mengambil uang yang disodorkan oleh para supir truk-truk itu ditengah jalan (sampai larut malam, apalagi siang hari) bayangkan berapa jumlah truk yang melintas perhari, perminggu, per bulan dan pertahun. Jika di akumulasi uang yang diterima petugas itu saya kira jalan itu akan dapat diperbaiki.

Nah saya kira itulah penyebab jalan Palembang - Indralaya, dan tempat lainnya di SUMMSEL tidak pernah bagus. Pejabatnya tidak peduli apalagi masyarakat pengguna dan sekitarnya lebih tidak peduli. Media masa (Koran, TV, Radio) tidak peduli. Mahasiswa, Polisi, Jaksa, Hakim atau semua orang di SUMSEL tidak ada yang peduli. Tidak ada gerakan masa untuk menuntut hal ini, mungkin ada yang peduli tapi macam saya hanya bisa 'merepet' melalui media sosial.

Gubernur harusnya yang paling bertanggungjawab, kemana dia?, kemana dia?. Petugas dijalan yang berseragam abu-abu yang suka menerima setoran dari supir truk (siang malam) harus di adili, harus dipecat karena abai dan berperan aktif membiarkan jalan rusak dengan membiarkan kendaraan melebihi kapasitas melintas dijalan, melebihi kemampuan daya tahan jalan. Mereka jelas mengambil keuntungan pribadi / kelompoknya dan akibatnya jalan rusak, mereka itu sudah digaji dari uang rakyat, tapi malah mengutip uang lagi dari rakyat. Moral mereka rusak seiring dengan rusaknya jalan. Jalan itu hal yang vital dan sebuah pertanda apakah sebuah daerah maju atau tidak, masyarakatnya peduli atau tidak.

Sampai kapan SUMSEL seperti ini, haruskah SUMSEL tidak pernah diperhitungkan orang secara nasional, baik secara keamanan, ekonomi, sosial budaya?. Tidak terasa hampir pukul 20.00 kami tiba di rumah ayukku di Indralaya, besok paginya harus balik lagi ke Batam.

No comments: