Wednesday, March 11, 2015

ANAK SEPERTI INI SERING DIANGGAP PINTAR.

Siang tadi 10 Maret 2015 saat istirahat, saya minum di warung depan tempatku bekerja. Kali ini agak sepi dari dari para pembeli, tapi ramai oleh tiga anaknya yang masih anak-anak yang paling tua saja baru kelas 2 SD.

Suasana begitu ramai oleh anak-anaknya karena memang mereka terus asyik bermain dan bicara satu sama lainnya dan sekali-sekali menimpali pembicaraan saya dengan ibu mereka yang punya warung. Bicara anak-anak itu begitu lancar dan mudah sekali menjawab atau bahkan menimpali/menyela pembicaraan kami. Terutama anak pertama dan anak kedua. Saat saya tanyakan kelas berapa?.

Anak pertama : "kelas 3"
"kelas 2, ya kalau naik". ujar ibunya.
"sudah bisa baca tulis?" ujar saya.
"sudah" kata anak yang pertama.
"coba tulis baikuni" ujar saya, si anak sampai tiga kali bertanya pada saya apa yang harus ditulis, kemudian ia menulis di buku sambil menutup dengan rapat agar tak terlihat oleh orang lain. Ketika saya melihat tulisannya. Memang terlihat baikuni, tapi pada huruf 'K' terlihat seperti 'L" dan 'C', lalu saya bilang.
"ini saya baca 'bailcuni', bukan baikuni"
"kebiasaan". 
"e...gak boleh ngomong gitu"
"Maksudnya, kebiasaan aku nulis gitu".
"apa cita-cita kalau sudah besar" ujar saya.
"saya mau jadi dokter,polisi, atau guru"
"kalau cara bicaranya ini, cocoknya jadi pengacara, ya pak" kata ibunya.
"wah hebat" kata saya.
"Juara berapa di kelasnya" Ujar saya.
"25" katanya cepat.
"Dari berapa murid?" Ujar saya.
"Maksudnya?" kata si anak.
"berapa jumlah muridnya" kata ibunya.
"45 orang" kata si anak cepat.
"Wah..hebat tu" Ujar saya.
"mana ada" kata ibunya.
"Ibu dulu ranking berapa, hayo!" ujar anaknya sambil nunjuk ibunya.
"eh...tak boleh, begitu!"kata saya.Tiba-tiba si anak berujar.
"Ibu tuu. tak mau belikan jam, orang dah minta-minta".
"untuk apa jam" ujar saya. Ibunya diam saja.
"ya...lah, teman-temanku semua sudah punya" sambil menyebutkan nama-nama kawannya.
"memang nya harus punya juga, harus ikut seperti kawannya, kalau kawannya pada muntah, apa mau ikut muntah juga" ujar saya spontan, dan entah kenapa contohnya harus muntah. Si anak terdiam.

Dalam masa percakapan itu saya perhatikan bahasa tubuh si anak ketika berbicara baik kepada saya maupun kepada ibunya, dan bagaimana pula cara ibunya berbicara dan memperlakukan anaknya. Ibu mungkin dikarenakan siang malam jualan, maka perhatian terhadap si anak menjadi berkurang dan waktu untuk mengajari hal-hal yang baik dan positif menjadi hampir tidak ada. Si anak belajar sendiri dan hanya meniru, apa yang dilihat, dan apa yang didengar. Tidak ada saringan. Ia begitu ceplas-ceplos, tidak ada rasa takut, tidak ada rasa malu. Sayangnya ketika si anak mendapatkan kata-kata baru, sikap yang kurang baik justru banyak orangtua malah tertawa, bahkan berkata "namanya juga anak-anak". Kalimat seperti ini cenderung salah, justru ketika anak-anaklah perlu penekanan disiplin secara ketat untuk hal-hal baik, kalau terus dimaklumi, maka si anak menganggap kata buruk, sikap buruk adalah hal biasa.

Kemampuan si anak berbicara yang cepat dan kelihatan tangkas dalam menjawab lawan bicara, anak seperti ini sering dianggap pintar. Kalau saya menganggap hal itu bukanlah pintar. Lalu saya katakan anak ibu hebat cuma perlu perhatian, pengawasan lebih banyak dan perlu diajari mana yang boleh dan mana yang tak boleh, mana baik dan mana yang tidak baik, mana yang buruk dan mana yang tak buruk, juga perlu diajari sopan santun. Kalau tidak dia akan tumbuh menjadi anak yang tidak tahu aturan, tidak tahu sopan santun. Semoga bermanfaat.

No comments: