Saturday, May 10, 2014

LOBAM OH LOBAM.

Mengapa saya menulis judul tulisan ini dengan 'Lobam oh Lobam'. Sedikit saya menerangkan Lobam itu sebuah nama lokasi Kawasan Industri-Bintan Industrial Estate, dibawah Salim grup, seperti Batamindo-Muka Kuning Batam, hanya 75 menit dari Singapura ( transportasi laut). Saya pernah bekerja di Lobam mulai tahun 1999 hingga 2009, artinya saya pernah menikmati masa kejayaan (ramai-ramainya) Lobam, dengan ditandai banyaknya perusahaan atau investor disana. Awal tahun 2000 sempat terhitung sekitar 30 perusahaan, coba bayangkan kalau tiap perusahaan memiliki minimal 500 orang karyawan kalikan 30 maka sudah ada 15.000 orang tenaga kerja terserap disana. 

Saya tak perlu bersusah payah menerangkan, apa dampak ekonomi dan dampak lainnya keberbagai sektor. Betapa luar biasanya perkembangannya bagi Kabupaten Bintan,Kecamatan Bintan Utara (dulu Kecamatan seri Kuala Lobam-belum ada), buat TekSas (Teluk Sasah), sebuah pemukiman diluar lokasi industri Lobam. Waktu itu yang berkembang pesat adalah perumahan, trasnportasi umum darat (angkot) dan laut (speedboat), pasar, wisata dan seterusnya. Bahkan tidak dipungkiri, dampak langsung adanya pembentukan Kecamatan Seri Kuala Lobam (pisah dari bintan Utara), Kelurahan Tanjung Permai, Kelurahan Lobam dan Desa Teluk Sasah adalah karena adanya Industri Lobam, mungkin banyak orang tidak tahu siapa-siapa yang memperjuangkan hal itu semua. Waktu itu ramai dan terlihat kemajuannnya, diakhir bulan (saat para karyawan sehabis gajian), mereka pergi ke Tanjung Pinang atau Batam untuk berbelanja atau berlibur.

Setelah tahun 2004 mulailah beberapa perusahaan tidak beroperasi lagi di Lobam. Kini, perusahaan yang beroperasi kurang lebih 11 perusahaan. Lobam seperti kota mati. Dormitory (perumahan bagi karyawan) yang dulu ramai kini sepi, transportasi darat (angkot) sudah lama mati, Transportasi Laut (speedboat) jalur Batam-Lobam-Tangjung Pinang dan sebaliknya juga ikut mati suri, bahkan pemprov Kepri sempat membangun pelabuhan permanen, dengan biaya milyaran di luar kawasan, menjadi sia-sia. Bank BCA telah pula mati, Perumahan yang dibangun pihak swasta juga mandeg tak berkembang, karena minimnya pembeli.
Lobam kini seolah (maaf) 'hidup segan matipun tak mau'.

Lalu untuk apa tulisan ini ada atau muncul?. Saya minggu lalu menelpon seorang sahabat lama sekaligus tetangga hebat saya ketika saya menetap dan bekerja di Lobam (sampai kini masih bersahabat Insya Allah). Apa yang ia ceritakan pada saya. Rupanya ia mulai merasa gelisah melihat perkembangan Lobam, yang jelas tidak seperti dulu (ramai, maju dan lebih dinamis), kini sepi dan seperti diam ditempat dan seperti tidak ada harapan lagi. Lobam hendak kemana?. Lobam oh Lobam.

Kemudian ia bertukar fikiran dengan saya, tentang ide atau keinginan untuk meramaikan kembali Lobam. Menurut sahabat saya itu mestinya bisa, karena ia berkeyakinan dengan ajaran agama yang ia anut (islam), bahwa suatu kaum tidak akan berubah bila kaum itu sendiri tidak menghendakinya. Berangkat dari inilah ia bersama beberapa rekannya ingin berkumpul untuk memikirkan hal ini. Soal tantangan menurutnya pasti berat, karena kami adalah orang biasa, tidak punya jabatan, uang dan pengaruh, dan Lobam itu punya konglomerat dan tentu faktor pemerintah.

Kamipun ngobrol lama di telepon karena dia di Lobam saya di Batam. Kami bertukar fikiran dan kami sepakat memang cukup berat, Namun patut dicoba, dengan terus berkumpul untuk diskusi dengan yang sepaham dan seide supaya ide ini terus berkembang kearah positif dan baik. Tidak boleh dirasuki kepentingan sesaat baik secara ekonomi maupun secara politik, karena kedua hal itu bisa menghangcurkan perjuangan. 

Ia sampaikan bahwa mereka sudah berdiskusi kecil dan akan terus diskusi, saya sampaikan pilihlah orang-orang yang memang punya keinginan kuat dan jumlahnya harus ganjil supaya ketika ada persoalan dengan orang ganjil mudah diambil kesepakatan / kesimpulan. Rumuskan bahwa ini perjuangan bukan untuk mencari keuntungan pribadi, dengan kata lain ini bukan untuk mengajukan proposal untuk cari dana kesana-kemari. Artinya harus disadari perjuangan tetap harus jalan walau uangnya minim atau bahkan tidak ada.

Selanjutnya saya katakan bahwa cari tahu masalah sepinya lobam (pertanyaan sederhananya mengapa perusahaan pada hengkang), kemana mencarinya ke pengelola Kawasan Industri Lobam dan ke Pemerintah Kabupaten Bintan. Adakah selama ini antara Pemkab Bintan dan Pengelola Kawasan Industri Lobam bersinerji, apakah pengelola kawasan industri lobam dibiarkan sendiri berjuang, atau lobamnyanya tak mau dibantu?. Dan setelah bertemu dengan kedua instansi itu apa yang bisa dilakukan. Apa yang bisa dilakukan oleh orang biasa diluar pemilik / pengelola kawasan dan diluar Pemerintah?. Ini juga menjadi tantangan berat untuk di jawab, Ketika kedua institusi tersebut tidak mau tahu, tidak mau bersinerji, tidak mau agar lobam ramai lagi, tentu tantangan ini juga akan lebih berat. Inilah yang patut menjadi pemikiran perjuangan agar kedua instansi itu mau duduk bersama.

Saya secara pribadi sangat mendukung bila gerakan untuk meramaikan Kawasan Indusri Lobam ramai kembali bahkan kalau bisa lebih ramai dari tahun-tahun awal 2000. Saya tidak hanya mendukung saya ingin ikut berpartisipasi, baik secara fikiran maupun moral. semoga juga saya bisa terus mampu menyumbangkan fikiran dan tenaga.

 Semoga perjuangan teman-teman terwujud, Lobam ramai kembali, dan semoga tulisan sederhana ini menjadi penggugah, menjadi awal yang dapat membantu bagi sahabat-sahabat untuk berjuang, tanpa pamrih. Semoga Allah Meridhoi niat kalian semua, aamiin.

No comments: